Jumat, 24 April 2009

Gadis Rimba

Liburan kenaikan kelas tiga adalah saat darmawisata. Masing2 kelas menentukan tujuan darmawisata. Kelasku mendapat jatah darmawisata cukup jauh, ke Perkebunan Teh di Kaki Gunung Kerinci. Sebulan sebelumnya Kami melakukan survey untuk tempat menginap dan lokasi kunjungan, baik ke pabrik maupun wisata alam. Hari Sabtu kami berlima izin tidak masuk sekolah dan bergerak menuju lokasi. Kami dipimpin ketua kelasYudi, wakil ketua kelas Reni, bendahara Yuni, seksi acara Arman dan aku seksi perlengkapan. Kami kesana menggunakan Jimny nya Yuni, bendahara kelas.

Perjalanan mendaki gunung yang masih berupa hutan. Ditengah perjalanan kami mampir di rumah makan untuk istirahat dan makan, lumayan setelah berjam2 berlima di mobil kecil. Mobilnya juga harus istirahat. Begitu masuk rumah makan, anak laki, Yudi, Arman dan aku memilih untuk rebahan di dipan meluruskan kaki. Sedangkan Reni dan Yuni langsung kemeja makan.

Saat rebahan, aku mendengar suara air mengalir. Kata uda (abang) rumah makan memang ada sungai di bawah. Tidak jauh. Aku mengikuti jalan setapak menuruni bukit hingga ke tepi sungai. Melihat segarnya sungai dan panasnya udara, aku ingin sekali menceburkan diri. Aku berjalan menyusur tepi sungai mencari tempat agak jauh dan terlindung untuk mandi di sungai. Lalu bugil dan byurr.. aku menceburkan diri ke sungai.

Aku menyelam dan berenang di tepi sungai. Saat melihat ke tepi, aku tak melihat pakaianku ditepi sungai. Ternyata aku terbawa arus sungai dan makin menjauh. Tiba2 terdengar keciplak kecipluk air, rupanya ada yang mandi di sungai juga. Aku menghampiri. Ternyata ada dua wanita sedang mandi. Mereka kaget dan segera menepi dan mengambil kain handuk untuk menutupi tubuh bugilnya.

Aku jelaskan bahwa aku pengunjung rumah makan dan sedang mandi lalu terbawa arus. Ternyata mereka adalah ibu dan anaknya penduduk local. Mereka menganjurkan aku untuk kembali lewat tepi sungai daripada berenang lalu terbawa arus lagi. Karena mereka tidak punya kain lagi, mau tidak mau aku naik ke tepi dalam keadaan bugil. Tepi sungai tidak bisa dilalui, harus agak naik ke darat berliku2. Si ibu mau mengantarkan aku dan minta anaknya menunggu.

Aku berjalan dibelakang ibu sambil menutupi penisku, takut kena duri pohon. Tidak ada jalan setapak, dan jalannya naik turun. Disalah satu jalan turun aku terpeleset dan menimpa ibu yang ada didepanku. Kami bertindihan, kain ibu tersingkap dan penisku menempel disekitar vaginanya. Aku dan si ibu lalu berdiri. Tiba2 si ibu mencopot kainnya sehingga bugil. Aku tidak mengerti maksudnya.

“Menurut adat, kalau perempuan dan laki sudah saling melihat kontol dan memek, maka mereka harus kawin”, katanya, “Aku sudah lihat kontolm dan kamu sudah lihat memekku. Jadi aku dan kamu sekarang harus kawin”. Lalu dia menggelar kain dan merebahkan diri di atasnya. Lalu tangannya melambai memanggilku untuk mengawini dia.

Aku tidak mengerti, tapi aku juga tidak kenal daerah ini. Disekelilingku hanya terlihat pohon2 besar. Kalau jalan sendiri, pasti aku tersesat. Memang terdengar suara air sungai, tapi suaranya dari segala penjuru. Aku benar2 tak tahu arah. Jadi kuikuti maunya.

Untuk bisa kawin aku harus terangsang. Maka kuperhatikan tubuh bugilnya. Kulitnya gelap agak kotor. Susunya sudah agakmenggantung, mungkin karena usianya yang dugaanku hampir 40 tahun. Bulu jembutnya lebat keriting, bibir vaginanya tipis berwarna hitam. Tapi bagian dalam vaginanya berwarna merah menyala. Itilnya besar dan terlihat keluar dari bibir vagina.

Melihat itu semua aku mulai terangsang dan penisku ngaceng. Dia senang melihat aku mulai ngaceng dan memanggil lagi. Aku menghampiri dan hendak mencium bibirnya. Dia melarang, jangan cium bibir katanya. Akhirnya aku mencium susunya. Putingnya besar juga hampir sama dengan warna kulitnya. Lalu aku ke bawah untuk mencium vaginanya. Tetapi dilarang juga olehnya, padahal aku ingin mencium itil yang besar itu. Akhirnya hanya tanganku yang memegang dan membelai2 itilnya yang besar.

Sekarang penisku sudah ngaceng penuh, tanpa membuang2 waktu segera aku arahkan ke vaginanya, dan bless .. penisku masuk perlahan. Kutahan penisku didalam, tapi dia menyuruhku untuk menggoyangkan dengan cepat. Aku ikuti perintahnya dan kugenjot dengan cepat. Aku merasakan nikmat tiada tara. Kurasakan vaginanya menjepit kuat penisku. Terus kugenjot dan dia mengerang keras “aaaahhhh..”

Aku masih menggenjot, tapi dia menahan dan segera mengeluarkan penisku dari vaginanya. Lalu berdiri, memakai kain lagi menutupi susu dan vaginanya, dan akhirnya mengajakku jalan lagi.”Ayo Pik, jalan”, katanya.
“Aku bukan Pik”, kataku.
“Itu panggilan untuk putriku, Upik. Dia melihat kita dari balik semak”, katanya.

Dan betul, Upik keluar dari persembunyiannya dan ikut berjalan. Karena penisku masih ngaceng aku tidak bisa menutupi. Dan Upik melihat terus ke penisku. Ibunya melihat perilaku Upik. Ternyata tidak sampai seratus langkah sudah sampai ditepi sungai. Dan kulihat pakaianku tidak jauh dari situ.

Karena badanku gatal tergesek2 daun dan batang pohon, aku segera menceburkan diri di pinggir sungai, tidak berani ketengah lagi takut terbawa arus. Upik masih terus berusaha melihat penisku dan ibunya melihat tingkah Upik. Si ibu menghampiriku dan bertanya, “Kamu sudah pernah lihat memek Upik?”

Pertanyaan ini tentu dikaitkan lagi dengan adat. Kalau pernah melihat berarti aku harus kawin dengan Upik. Aku melihat Upik, dia tersenyum. Cantik juga walau kulitnya hitam. Kuperkirakan umurnya 15 tahun. Walau tertutup kaiin, tapi posturnya langsing atletis. Kulihat penisku masih agak ngaceng. Muncullah niatku untuk memenuhi kebutuhan biologis si penis.

“Tadi memek Upik terlihat waktu dia naik ke tepi mau pakai kain. Bulu jembutnya masih sedikit”, aku menebak untung2an.

Si Ibu tersenyum lalu memanggil Upik. Si Ibu membisiki Upik, lalu Upik mencopot kainnya hingga bugil. Betul dugaanku, susunya padat mendongak , vaginanya terlihat tebal dengan bulu jembut yang masih halaus. Upik menghampiriku di dalam sungai. Dia memelukku sebentar lalu meraih penisku dan di elus2.

Aku membalas dengan meraba2 dan meremas2 susunya. Tanganku juga mencoba menyentuh vaginanya yang ada di dalam air sungai. Merasakan tebalnya bibir vagina. Terasa juga itil yang besar, sama seperti ibunya. Dia merangkulkan tangannya ke leherku. Kucium bibirnya dan dia tidak melarang. Kulihat ibunya juga tidak melarang. Aneh.

Lalu aku menyelipkan penis keselangkangannya dan menggesek2kan ke vaginanya. Melihat ini, ibunya memanggil2Upik, dia menunjukk ke batu besar di sungai. Upik mengikuti perintah ibunya menuju batu besar sambil menggandengku lalu terlentang di batu besar itu. Ahh benar2 pemandangan alam yang indah. Kulihat jelas , dibalik pahanya yang merapat, ada vagina dengan bibir tebal yang mulai merekah karena terangsang.

Aku membuka kakinya yang rapat sehingga vagina indah itu jadi terlihat dengan jelas. Dan itil yang besar itu menyembul keluar disela2 bibir vagina. Kuhampiri vagina itu, kucium. Aku melihat ke ibunya, dia diam tidak melarang. Maka kulanjutkan dengan menjilati bibir vagina, lubang kemaluan, lalu itilnya yang besar itu.
“aaahhhh.. aaahhh..”, Upik berteriak2 mengejang. Senang juga mendengar suara teriakannya, maka kuteruskan menjilati itil itu. “aaahhh mmm aaahhh..”

Kulihat ibunya memegang vaginanya sendiri. Lalu si ibu menyuruh aku segera mengawini anaknya. Aku berdiri dan mengarahkan penisku ke vagina Upik yang rebah. Pelan2 kutekan. “aahhh..” upik berteriak saat kepala penisku mulai masuk kedalam vaginanya. Kutekan lagi, Upik berteriak lebih kencang. Kutekan lagi dan teriakannya semakin kencang. Kutekan lagi sampai kurasakan ujung penisku membentur dinding dalam vaginanya. Upik berteriak. Dia mengigit bibir dan terlihat matanya berlinang.

Ibunya Upik membuka kain penutup tubuhnya lalu turun kesungai dan menghampiri. Dia memperhatikan penisku yang sudah berada didalam vagina putrinya. Dia tersenyum lalu mencium kening putrinya. Aku juga melihat kearah penisku yang masuk didalam vagina Upik. Terlihat ada darah mengalir keluar dari vaginanya. Darah perawan. Sudah kuduga bahwa Upik masih perawan sehingga tadi aku hati2 memasukkan penisku.

Ibunya menyuruhku untuk menggenjot. Maka kugenjotkan pinggulku dan Upik selalu berteriak mengikuti irama genjotanku. Kalau genjotanku lambat, maka erangannya juga lambat, kalau cepat, irama erangannya juga cepat. Dicampur dengan suara derasnya alran sungai, jadi seperti lagu yang asyiik.

Ibunya naik ke atas batu besar dan duduk. Kakinya mengangkang dan dia menyuruhku untuk mencium vaginanya. Sambil penisku terus menghunjam, aku menciumi dan menjilati vaginanya. Saat itilnya terjilat si ibu berteriak. Rame juga, ada suara air, suara teriakan Upik dan suara erangan ibunya.

Akhirnya Upik mengejang2 memeluk dan terasa mencakar punggungku. Lalu ibunya juga mengerang panjang. Aku terus menggenjot sampai tak tahan lagi, penisku menyemprot mani ke dalam vagina Upik. Lalu lemas memeluk dan menciumi Upik.

Setelah terasa penisku sudah loyo, aku mencabutnya dari vagina Upik. Upik duduk dibatu, dan kulihat semakin banyak darah yang keluar dari vaginanya. Juga air maniku keluar dari vaginanya. Darah itu menelusuri batu lalu turun kesungai dan hanyut terbawa derasnya air sungai. Kusiram sisa darah dan mani di batu, lalu semua meluncur mengikuti arus sungai.

Upik turun dari batu, ibunya juga. Lalu mereka berendam dan menyelam membersihkan diri dan vaginanya.
Lalu mereka berpamitan sambil tersenyum. Kupandangi kepergian mereka. Upik berjalan dengan tertatih2 karena selangkangannya masih sakit. Lalu mereka menghilang dibalik lebatnya pohon. Aku kedarat dan mengeringkan badan lalu berpakaian. Dan segera kembali ke rumah makan mengikuti jalan setapak.

“Dari mana saja kamu, lama banget, tadi dicari ke sungai kamu nggak ada. Kami jadi khawatir”, kata Yudi.
“Paling2 dia dibawa suara2 gadis rimba penjaga sungai”, Uda rumah makan bercerita bahwa kalau orang2 sekitar sini turun ke sungai, suka mendengar suara beberapa wanita bermain air di sungai itu. Tapi tak ada yang pernah melihat mereka. Mereka menyebutnya sebagai suara gadis rimba penjaga sungai. ku kaget
“Iya Jar, kamu dibawa gadis rimba penunggu sungai?”, tanya Yuni
“Nggak kok aku cuma berenang keseberang. Ngumpet karena malu takut kelihatan. Terus balik lagi.” Kataku.

“Oke. Syukur kamu sudah balik. Karena waktunya sempit kita harus segera berangkat. Kamu makan nasi bungkus di mobil saja ya.”, kata Yudi sambil menepuk punggungku.
“Aww”, punggungku terasa sakit. Aku menyingkap baju untuk melihat punggungku. Ada luka gores. Uda segera memberi obat merah. Kulihat dicermin memang ada luka gores. Ah ini luka gores cakaran Upik saat orgasme.
“tadi waktu mandi kena batang pohon”, kataku. Yuni menatapku curiga. Aku mengangkat bahu.

Lalu kami melanjutkan perjalanan ke kebun teh untuk survey darmawisata dan aku makan nasi bungkus di mobil dengan lahap..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar