Minggu, 24 Mei 2009

Kocokan Onani

Dibulan awal kelas tiga SMP, ada puting beliung yang memporakporandakan sebagian genteng sekolah kami yang memang sudah uzur. Karena ada perbaikan atap sekolah, maka sebagian kelas menumpang ke kelas lain dan masuk siang, termasuk kelasku. Karena masuk siang, aku tidak terburu2 mandi pagi. Kamar mandi dirumah kakek berada di ruang terbuka, di halaman rumah yang dikelilingi pagar, sehingga masih berada didalam lingkungan rumah.

Suatu hari saat baru mau mulai mandi, kudengar ada yang masuk kehalaman rumah. Orang itu lalu menimba air di sumur dan mengisi bak mandi dikamar mandi.
“Jar, aku numpang mandi ya..sumur di rumah kering”, ternyata Bi (tante) Neneng tetangga kakek. Memang kalau musim kemarau banyak sumur kering. Sedangkan sumur kakek dalamnya hampir 30 meter sehingga masih ada airnya. Aku kenal dan akrab dengan Bi Neneng karena sejak nenek meninggal tiga tahun lalu, ia sering mengantarkan makan untuk kakek dan aku.
“Ya Bi, tapi aku baru mulai mandi”, sahutku sambil jongkok dibawah pancuran bak mandi.

Lima kali nimba, bi Neneng langsung nyelonong masuk ke kamar mandi yang memang pintunya hanya selembar seng yang digeser. Lalu langsung bugil, membuka tutup pancuran, jongkok dan langsung mandi. Memang didalam kamar mandi itu ada dua pancuran bak.
“Maaf ya, buru-buru”, katanya tanpa mempedulikanku yang kaget dan terpana
“Iya Bi”, jawabku sambil tetap terpana melihat Bi Neneng bugil di depanku. Waktu itu usianya 26 tahun. walaupun mukanya biasa saja, tapi tubuhnya langsing dengan kulit mulus coklat langsat. Susunya lebih besar dari Ceu Kokom. Putingnya juga lebih besar, mungkin karena dia sudah punya dua anak. Melihat pemandangan ini penisku segera tegang.

Saat sabunan, terpaksa aku berdiri. Dan karena penisku ngaceng maka aku menghadap membelakangi Bi Neneng.
“Kok balik badan? Malu ya, karena titit (penis) kecilnya ngaceng..”, Bi Neneng mencandai
Tak lama Bi Neneng juga berdiri untuk sabunan. Aku penasaran untuk melihat bagian vaginanya yang tadi tertutup saat jongkok. Kalau berdiri, harusnya vaginanya terlihat, pikirku. Maka aku beranikan menoleh utk melihat Bi Neneng. Ternyata bulunya tidak lebat dan kelihatan belahan bibir vaginanya. Membuatku tambah ngaceng.

Tiba2 Bi Neneng berhenti sabunan, “coba balik badan, aku mau lihat”. Bi Neneng memegang pundakku dan memutar tubuhku menghadapnya.
“Hah, gede amat” ujarnya kaget sambil tangannya menutup mulut karena takjub. Rupanya waktu tadi aku menoleh melihat vaginanya sekilas ia melihat penisku.
“Tititmu kena penyakit ya?” tanyanya
“Nggak Bi, aku dikasih tahu Ceu Kokom cara membesarkan titit” jawabku sambil menceritakan caranya.
Bi Neneng menghampiri, memegang penisku dan membersihkan busa sabun yang masih menempel di penis, buah zakar dan sekitarnya.
“Kamu normalkan? Suka mimpi basah?”, dia menyelidiki
“Iya beberapa kali”, jawabku
“Pernah mimpi basah waktu bangun?”
“Maksudnya?”, tanyaku
“Pernah mengeluarkan mani (sperma) waktu bangun?”, ia bertanya
“Belum”, jawabku

Bi Neneng mengambil sabun lalu menyabuni penisku yang masih tegang. Lalu ia menggosok2 dan mengocok2 penisku. Aku kaget, tapi terasa nikmat.
“Diapain Bi?” tanyaku
“Ngetes ngeluarin mani”
Bi Neneng terus menambah sabun dan mengocok2 penisku. Aku meregang2.
“Kok nggak keluar sih?” setelah 15 menit mengocok. Tapi melihatku merem melek dan meregang2 dia terus mengocok. Makin lama makin cepat dan makin cepat. Aku meregang, mendesah dan menggoyang2kan pinggulku.
Akhirnya aku merasakan seperti ingin pipis, tapi berbeda. Seperti ada yang mau meledak keluar dari penisku.
“A aaaahhhhh..” ada sesuatu keluar dari penisku, sesuatu yang kental berwarna putih. Muncrat kemana2 dilantai kamar mandi itu.
“Nah , tuh bisa keluar mani. Kamu sehat”, kata Bi Neneng.
“Enak banget Bi” ujarku terbata2. Tubuh ini lemas rasanya.
“Memang enak. Sudah, mandi lagi sana”, kata Bi Neneng. Lalu ia segera menuntaskan mandinya dan terburu2 pergi.

Besoknya aku menunggu di kamar mandi. Dan sengaja tidak segera mandi, menunggu Bi Neneng datang. Tak lama kemudian dia datang, menimba dan mandi bareng lagi.
“Mau dikocok lagi tititnya?”, ia seperti tahu mauku yang telah berdiri dengan penis tegang
“Iya..”, jawabku girang.
Dan mulailah ia menyabuni dan mengocok lagi. Hingga maniku keluar.
“ini namanya onani. Kamu bisa melakukan sendiri”, kata Bi Neneng

Besoknya, kembali aku minta penisku dikocok Bi Neneng.
“Lho, kan bisa onani sendiri?” katanya
“Sudah nyoba tapi nggak bisa, ngacengnya lama” kataku
“Oo mungkin ngacengnya karena terangsang melihat aku bugil ya?” sindirnya
“He he he” aku nyengir, “Mungkin kalau sambil megang lebih cepat ngacengnya”
“Megang apa?” tanya Bi Neneng
“anu..Megang susu ..” aku menjawab ragu takut ia marah
“Ya sudah, pegang saja nih”, Bi Neneng menyodorkan susunya. Tanpa menyia2kan kesempatan aku meremas2 susunya. Dan benar, ada kenikmatan yang lebih banyak saat penis dikocok sambil megang susu. Aku jadi lebih cepat keluar mani.

Besoknya sambil dikocok aku minta nyusu. Sejak Diah pindah, sudah lama aku tidak ngemut susu wanita. Atas permintaanku itu, Bi Neneng juga mengabulkan. Kurasakan ia membelai rambut dan menikmati hisapanku di puting susunya.

Besoknya aku minta tambah megangin vaginanya. Kali ini Bi Neneng tidak mengizinkan. Akhirnya pengalamanku hanya sampai menghisap susu. Tapi dengan ukuran susu yang lebih besar sehingga tidak semua bagian susunya muat dimulutku. Juga pentil Bi Neneng lebih besar dari pentilnya Diah, lebih terasa saat dihisap2.

Lebih dari seminggu aku dikocok Bi Neneng, sampai akhirnya kelasku masuk pagi lagi, karena perbaikan atap sudah selesai. Tak ada kesempatan untuk mandi sore bareng dengan Bi Neneng karena rame orang. Kakekku, suami dan anak2 Bi Neneng, di sore hari semua ada di rumah. Apalagi setelah musim hujan tiba, Bi Neneng mandi di rumahnya sendiri.

.

Gairah Film Porno

Libur tiga hari, aku diminta menemani kakek ke adiknya (berdasarkan silsilah, adiknya kakek yang perempuan adalah juga nenekku), yang tinggal bersama anak lelakinya (berarti Om ku) di Bandung. Buat orang kota mungkin rumah om sederhana, tapi buat orang kampung seperti aku, rumah Om tergolong bagus, lengkap dengan peralatan elektroniknya. Walaupun sudah 30 tahun tapi om masih bujangan. Kabarnya dia pernah patah hati dua kali. Dia ditemani oleh sepasang suami istri, Mang Amat sebagai supir dan Bi Oyah pembantu sekaligus pengasuh nenek. Mereka tinggal beberapa puluh meter dari rumah om.

Setelah ngobrol ngalor ngidul sambil nonton tivi, akhirnya kakek dan aku pamit tidur karena capek diperjalanan. Sedangkan om melanjutkan menonton tivi dengan suara yang dipelankan. Aku biasa tidur dengan mematikan tivi dan lampu, sehingga sayup2 suara tivi di rumah om cukup mengganggu tidurku. Walaupun akhirnya aku tertidur juga.

Tengah malam sesuai kebiasaan rutin aku bangun utk pipis. Kudengar sayup2 tivi om masih nyala, sedangkan om tertidur disofa. Aku berniat akan mematikan tivi, tetapi mendekat aku agak kaget, karena di layar tivi ada wanita bule lagi bugil. Wanita itu meremas sendiri susunya dan memegangi vaginanya. Lalu gambar bergeser kesamping wanita bugil itu, ada wajah wanita yang terengah2, “uh ah aw..”. Lalu gambar bergerak menunjukkan bahwa wanita itu tidak pake bh, alias susunya terlihat. Terlihat setengah badan wanita itu sedang terentang dengan susunya bergoyang2 seperti dihentak2. Lalu gambar bergerak lagi memperlihatkan bulu jembut dan vagina wanita itu. Ternyata vaginanya sedang disodok2 sesuatu. Lalu layar tivi memperlihatkan bahwa vagina disodok oleh penis seorang pria bule.
Aku takjub, mungkin inilah yang namanya ngewe atau ngentot, yang sering disebut2 orang. Dan ini yang disebut2 orang sebagai film blue.

Terlihat pria bule itu makin kencang menggerakkan bokongnya menyodokkan penisnya ke vagina, “uuh..uuh”.
“ohh ahh fuck me..”erang si wanita.
Lalu “uuuuuuhhhh” laki2 mengerang panjang, mencabut penisnya dari lubang vagina dan memuncratkan mani ke perut wanita. Wanita satunya yang sedang bugil segera mengambil penis dan menghisapnya. 'Iih.. jijik', pikirku
Setelah itu sudah, filmnya selesai. Aku tak berani mematikan tivi, takut om terbangun. Langsung saja aku ke kamar mandi, pipis dan kembali tidur. Tapi kali ini aku susah tidur karena melihat tontonan bf tadi.

Besok paginya, om pamit ke kakek dan nenek karena ada rapat di Jakarta, menginap semalam dan akan kembali besok sore. Om berangkat bersama sopirnya. Aku menyibukkan diri dengan berkeliling kota Bandung, khususnya ke Alun-alun. Sepulang dari tour the city, aku hanya bertemu Bi Oyah yang sedang rapi2 dapur. Rupanya kakek dan nenek lagi tidur siang. Akhirnya kuluangkan waktu utk nonton tivi sambil menghabiskan gorengan yang kubeli di alun-alun.

Saat nonton tivi aku jadi teringat film bf yang tadi malam. Kuberdiri dan mengitari seluruh isi rumah untuk mencari tahu dimana om menyimpan video porno itu. Di ruang istirahat kulihat ada tempat penyimpanan video, tetapi setelah kulihat2 judulnya, kebanyakan film Warkop dan action, tidak ada yang video porno. Mungkin di kamar om, tetapi ternyata kamar om terkunci. Kutanya Bi Oyah, memang kamar om terkunci, tetapi Bi Oyah megang kuncinya untuk ngerapihin dan ngeberesin kamar.

“Ada perlu apa Sep”, tanya bi Oyah dengan memanggilku Sep, yang singkatan dari Kasep artinya cakep.
“Nggak ada kok, cuma ingin lihat seberapa besar kamar tidurnya om”, jawabku.
“O, silahkan atuh”, Bi Oyah mengambil kunci dan membukakan pintu kamar Om.
“Wow, luas juga ya”, memang kamar Om cukup luas karena kamar tidur dan kamar kerja disatukan.
“Aku lihat2 ya Bi”, aku mengagumi kamar Om, tapi juga berusah mencari dimana kira2 Om menyimpan video porno. Banyak lemari dan laci yang dikunci, dan Bi Oyah juga tidak pegang kunci sehingga tidak tahu isinya. Aku menyerah, video porno itu pasti disimpan om disalah satu lemari atau laci itu. Padahal aku sangat ingin menonton video porno, ingin belajar tentang seks.

Akhirnya kuhabiskan sore itu mengobrol dengan Bi Oyah utk lebih mengenal Om ku. Menurutnya Om adalah orang yang tidak banyak menuntut tetapi disiplin. Dua kali om punya calon istri, bahkan yang kedua sudah sering tidur di rumah ini. Kalau yg pertama berpisah karena kerja di Kalimantan. Yang kedua pisah karena si cewek ini selingkuh, dan kepergok oleh om di rumah si cewek. Kejadian ini yang menghancurkan hati om dan om melampiaskan dengan beberapa kali mengencani wanita penghibur di hotel2. Tapi om tetap berusaha tegar dalam hal kerjaan.

“Tadi malam aku lihat om nonton film porno”, kataku
“iya, om sering nonton malam2 kalau nenek sudah tidur. Om juga pernah nyuruh Mamang dan Bibi untuk nonton film porno berdua. Iih.. Bibi ogah. Risih”, kata Bi Oyam
“Memangnya Bibi tahu film pornonya disimpan dimana sama Om?”, tanyaku
“Dibawa masuk ke kamarnya. Tapi Bibi tdk lihat disimpan dimana. Paling2 dilemari yang dikunci”, jawabnya.
“Kalo buat Asep mah nonton yang itu saja”, kata Bi Oyah sambil menunjuk tempat video. Aku mengiyakan.

Sore itu aku diajak Bi Oyah berputar2 lingkungan termasuk ke rumah Bi Oyah yang sederhana. Malamnya Bi Oyah pulang kerumahnya setelah selesai melayani kakek dan nenek hingga mereka tidur. Sedangkan aku menghabiskan malam dengan membaca dan menonton tivi. Melihat deretan video Om, aku tertarikuntuk menonton salah satu film. Setelah memilih2, akhirnya film Rambo yang akan kutonton.

Saat ingin memasukkan video ke player, ternyata ada video lain yang belum dikeluarkan dari player. Tertulis di labelnya judul filmnya Schoolgirl Adventures. Karena tak ada gambar dalam judulnya, maka kustel video itu. Diawal film terlihat sekelompok pelajar siswi yang belajar bersama, belanja bersama, bermain dan bercanda bersama. Karena tak ada teks terjemahan, aku tidak mengerti jalan ceritanya, jadi lebih baik nonton Rambo.

Ups tunggu dulu, ternyata terusannya para siswi itu bertemu dengan para siswa, berpasangan dan berciuman, sebelum akhirnya masing2 pasangan berpisah. Satu pasangan ke apartemen, satu pasangan ke taman dan satu lagi naik mobil. Adegan berikutnya adalah masing2 pasangan berciuman, berpelukan dan meraba2. Melihat itu gairahku mulai membara.

Pasangan yang dikamar, setelah berciuman, yang perempuan mendorong si laki2 kekasur dan duduk di atas perutnya. Lalu si wanita melepas baju dan bh nya, sehingga tampaklah susunya yang besar. ‘wah jangan2 ini film porno. Rezeki nomplok nih’, pikirku. Lalu si pria membelai2 susu dan menciumi kedua susu itu. Aku deg2an. ‘O ternyata begini cara menciumi dan menghisap2 susu’

Setelah puas menghisap2 si pria gantian merebahkan si wanita dan melepas baju dan celananya. Terlihatlah penis si pria yang masih menggantung2. Lalu ia melepaskan rok dan celana dalam wanita sehingga tampaklah vaginanya. Lalu si pria mendekatkan kepalanya ke vagina wanita, lalu wanita itu mengerang2. Aku bingung, apa yang dilakukannnya. Setelah kamera didekatkan, terlihatlah bahwa si pria sedang menjilati kelentit wanita. Menghisap2 kelentit dan juga bibir dalam vagina. 'Ih, jorok, jijik', aku mengernyitkan dahi.

Lalu si pria membuka vagina wanita, dan terlihatlah lubang vaginanya. Aku tekan pause dan aku perhatikan betul2 gambar vagina yang sedang dibuka. Ada bulu, ada bibir luar, ada kelentit, ada lubang pipis dan ada lubang seks. Wow… lalu aku play lagi videonya. Ternyata si pria menjilati seluruh bagian vagina dan berusaha memasukkan lidahnya ke lubang seks. Setelah itu jari tengah si pria dimasukkan ke dalam lubang vagina. Ditusuk2 dan diubek2.
“Aahh..” si wanita menggelinjang2

Setelah puas, gantian wanita merebahkan pria. Lalu ia menuju ke penis, membelai2, menarik2, mencium lalu mengemut penis. Wanita menggerakkan kepalanya sehingga penis menjadi keluar masuk kedalam mulutnya. Sementara si pria terpejam. Selanjutnya wanita memutar badannya sehingga wanita mengulum dan mempermainkan penis, sedangkan pria menciumi dan menjilati vagina. Masing2 kepala berada diselangkangan pasangannya. Aku masih merasa jijik karena menurutku kelamin itu kotor. Tapi disatu sisi aku terkesima 'wow..'.

Selanjutnya si cewek duduk diatas perut membelakangi cowok, memegang penis lalu mengarahkannya ke lubang vagina. Setelah lurus ia menekan kebawah pelan2, sehingga penis itu masuk sedikit demi sedikit ke lubang vagina. Aku benar2 terpaku melihat pemandangan ini. Kuulang lagi adegan ini sampai tiga kali. Oo, ternyata beginilah cara berhubungan seks itu, penis masuk ke vagina. Selanjutnya mereka bermain seks, memasukkan penis ke vagina dengan berbagai gaya. Aku melihat ada banyak gaya dalam bermain seks. Dan disetiap gaya keduanya kelihatan sangat menikmati.

Akhir dari persetubuhan ini adalah saat si pria mencapai puncak dengan mengeluarkan maninya di muka si wanita. Hii, lagi-lagi aku merasa jijik melihatnya.

Lalu film beralih kepasangan lain. Pasangan yang ke taman bermain seks ditaman, dengan berbagai posisi. Bedanya dengan pasangan yang di kamar, hubungan seks diakhiri dengan gerakan penis yang dijepit oleh sepasang susu wanita yang besar, dan akhirnya sperma si pria muncrat di dada wanita.

Selanjutnya pasangan yang ketiga memarkir mobil di tepi jalan dipuncak dengan pemandangan kota. Lalu mereka berhubungan seks, baik didalam mobil maupun di luar mobil. Gaya berhubungan yang berbeda adalah ketika si ceweknya nungging dan cowok menusukkan penisnya. Ceweknya meringis kesakitan. Tadinya aku heran kenapa ia meringis, padahal sebelumnya ah oh kenikmatan. Setelah diperlihatkan, ternyata penis cowok tidak masuk ke vagina, tetapi ke lubang dubur. Iih, jijik.
Pasangan ini mengakhiri hubungan seks dengan posisi cewek terlentang di kap mobil dan vaginanya disodok oleh penis. Lalu sambil menekan penis dalam2, si cowok mengerang, kelihatannya ia mengeluarkan sperma di dalam vagina cewek. Karena setelah itu diperlihatkan vagina cewek, lalu dari dalamnya menetes cairan sperma yang putih.

Film belum berhenti. Pasangan yang berjalan ditaman akhirnya berpisah. Yang pria bertemu dengan pasangan yang naik mobil, sedangkan yang wanita menuju ke apartemen temannya.

Yang bertiga naik mobil, pulang ke rumah utk makan. Didapur si cowok berlaku genit ke sicewek pasangannya dengan menepok2 bokong dan meremas dada. Karena bergairah mereka bermain seks lagi, dan lupa bahwa ada temannya melihat. Saat si cowok menciumi vagina cewek, laki2 satunya menghampiri dan menciumi susu si cewek. Si cowok bukannya marah tapi malah nyuruh laki2 itu untuk nyobain menjilati vagina ceweknya. Karuan saja ceweknya senang karena dilayani dua cowok.
Saat yang satu cowok mencobloskan penis ke vagina, satunya lagi memberikan penisnya untuk diemut oleh cewek. Selanjutnya setelah puas diemut, sicowok pindah kebelakang dan mengarahkan penisnya masuk dubur cewek. Jadi sicewek mendapat dua sodokan, satu penis masuk menyodok vagina, satu penis lagi menyodok dubur. Wow.. pantesan sicewek mengerang keenakan.

Ditempat lain cewek yang mendatangi apartemen temannya, menjumpai temannya sedang mandi bareng pria pasangannya. Merasa gerah, si cewek juga mau mandi dan minta izin bergabung. Ternyata diizinkan oleh pasangan tersebut dan mereka mandi bertiga. Disitu sicowok mengelus susu kedua cewek. Semakin hangat akhirnya mereka bertiga melakukan hubungan seks.
Secara bergantian penis masuk kesatu vagina, lalu gantian ke vagina satunya lagi. Ketika penis pria masuk ke satu vagina, si pria juga disodori vagina lain untuk dijilati. Sedangkan kedua cewek saling bergantian menghisap susu cewek lainnya. Akhirnya cowoknya mengeluarkan mani diperut satu cewek dan cewek satu segera menghisap penis.

Lalu filmnya habis. Adegan terakhir ini adalah adegan yang aku lihat tadi malam. Berarti setelah selesai nonton, om lupa mengeluarkan videonya karena harus segera pergi ke Jakarta.

Nonton video porno selama dua jam ini telah membuatku shock. Dari tahu sedikit, tiba2 aku menjadi tahu banyak, bahkan tahu kevulgaran seks. Bagaimanapun malam itu telah banyak memberiku ilmu tentang seks. Selama ini aku tidak tahu bahwa penis bisa dimasukkan ke vagina. Ceu Kokom dan Bi Neneng hanya mengelus2 penisku.

.

Sex Live Show

Sore hari kami berkumpul di kebon dekat balai desa, orang2nya masih geng yang dulu juga. Kami sudah jarang berkumpul karena beberapa anggota sudah bekerja di pabrik sukro (kacang atom). Dalam pertemuan seperti itu biasanya mereka membagi2kan sukro atau mentraktir kami makan bakso. Setelah selesai SMP, mereka memang tidak melanjutkan ke SMA dan memilih bekerja. Karena memang sudah waktunya pacaran, beberapa senior membawa serta pacar mereka, termasuk komandan Maman, ketua geng kami untuk urusan perempuan. Dalam pertemuan itu Maman memberi kabar akan menikah minggu depan. Usia Maman 19 tahun dan calon istrinya, Ening, 17 tahun berasal dari kampong seberang. Masih muda, tapi utk ukuran kampong kami, umur itu dinilai cukup matang untuk menikah.

Usai pertemuan, Maman menghampiriku, “katanya kamu dulu pernah ketangkap ngintip Ceu Kokom ya?. Terus kamu diapain?” . Gaya ngomong isengnya keluar lagi.
“Dijewer ke kamar mandi, terus suruh lihat dia mandi”, jawabku
“Wah hebat. Kamu beruntung. Iri aku. Dia kan idolaku”, katanya dengan nada menggoda.
“Tapi kamu belum pernah ngewe (seks) dengan cewek kan?” tanyanya. Aku menggeleng.
“Aku sudah”, katanya bangga.
“Nggak percaya”, kataku
“Kalau mau bukti, nanti ikut aku nganterin Ening ke kampong sebelah”, kata Maman dengan nada memaksa

Kami bertiga jalan menuju kampong sebelah melewati jalan yang dikelilingi sawah dan kebun. Ditengah jalan Maman menggandeng Ening berbelok. Dan melihat aku ikut berbelok, Ening berbisik kepada Maman, “Kang, dia ikut belok..”. “Nggak apa2”, jawab Maman. Dan kami berhenti dekat saung ditengah kebun.
“Istirahat dulu disini ya. Ini kebun bapaknya Ening”, kata Maman kepadaku. Lalu kami beristirahat di saung itu.

Disaat istirahat itu, Maman menghampiri Ening, lalu mencium dan memeluknya. Ening merasa risih karena ada aku disitu. Tetapi karena Maman terus menciumi, Ening pasrah, dan malah balas mencium. Tangan Maman dan Ening meraba2 dada dan selangkangan lawannya. Lalu Maman membuka kancing baju Ening.

“Kang..”, kata Ening khawatir, sambil melihatku. Aku sendiri deg2an melihat adegan didepanku.
“Nggak apa2. Biar dia belajar”, Maman terus membuka baju dan bh Ening, dan menciumi susunya. Karena terangsang Ening tidak mempedulikan kehadiranku di saung itu.

Tak berapa lama Maman mencopot seluruh pakaian hingga bugil dan Ening mencopot pakaian tersisa sehingga bugil juga. Aku kaget dan terpana melihat laki2 bugil dan wanita bugil bersamaan. Belum hilang kagetku, Ening sudah rebahan dan Maman menindih Ening. Lalu penis Maman masuk ke vagina Ening. Sambil menciumi Ening, Maman menaik turunkan bokongnya, sehingga penisnya keluar masuk vagina. Terus berulang2.

Didorong rasa penasaran, aku mendekat utk melihat penis masuk vagina. Maman melihatku, “Nggak percaya?”.
Lalu mengangkangkan kaki Ening dan kakinya agar penis dan vagina mereka terlihat. “Lihat tuh”, kata Maman. Aku melihat dengan jelas bagaimana penis Maman masuk ke vagina Ening. Sementara Maman dan Ening semakin asyik bersenggama. Pemandangan ini membuatku tak menentu.

Sampai akhirnya Maman dan Ening sama2 menekan kuat pantatnya. “U..uuuuhhhhh”. Mereka berpelukan dan terkulai lemas di saung. Lalu tergeletak menghadap ke atas berdampingan. Disitu kulihat jelas bentuk susu yang mungil dan putingnya yang masih muncung. Juga bulu jembut Ening yang masih halus dan belum banyak. Sedangkan vaginanya mungil dan terlihat agak memerah akibat disodok penis. Aku juga melihat penisnya Maman. Uups kayaknya punyaku lebih besar dari Maman.

“Hhh, enak Jar”, kata Maman. “Terbukti kan..” Lalu Maman beranjak turun dari saung. “tunggu ya, mau bersih2 dulu di pancuran sana”

Ditinggal Maman, aku memperhatikan lagi tubuh mulus mungil Ening. Ia terlihat kelelahan dan sedikit tertidur. Entah refleks atau penasaran, aku menjulurkan tangan utk memegang jembutnya. Ening diam saja. Lalu aku teringat film porno, dan tanganku meraba2 mencari itilnya. Ternyata walau sambil merem, antara sadar dan tidak, Eningmembuka selangkangannya. Dengan mudah aku melihat itil dan lubang vagina. Lalu jariku menyentuh2 itil. Lalu kumasukkan jariku ke lubang vaginanya. Masih basah. Aku bermaksud mengeluar-masukkan jariku, tiba2 terdengar Maman datang bersiul2. Segera kucabut jariku, dan Ening kaget dan membuka matanya. Ia melihatku ada didekatnya sedangkan Maman baru datang menuju saung. Dia juga sempat melihat jariku yang basah. Ening segera menutupi susu dan vaginanya, lalu memejamkan mata lagi. Aku berdiri menjauh dari saung.

“Ning, bangun, gantian, aku sudah bersih”, kata Maman membangunkan. Ening terbangun dan segera beranjak ke untuk mencuci pejuh dan membilas keringat. Saat menuju pancuran, ia menghampiriku dan berbisik, “kamu tadi mainin memekku ya?”, memandangku kesal lalu sambil melihat jariku. Aku merasa bersalah karena ketahuan.

Melihat aku terdiam Maman menghampiri.
“Yang kamu lihat tadi anggap saja pelajaran. Ternyata ngewe itu asyiik kan.. makanya cepet2 cari cewek yang mau di ewe. Tapi jangan pernah ceritakan kejadian ini pada siapapun”, kata Maman padaku, wajahnya campur aduk antara bangga, menyesal dan mengancam. Ia tak tahu kalau aku barusan memainkan vagina calon istrinya.

Usai mereka berpakaian, kami keluar dari kebun dan kembali kejalan desa. Disitu kami berpisah. Maman melanjutkan mengantar Ening ke kampong sebelah sedangkan aku kembali ke kampungku. Kejadian ini menunjukkan bahwa Maman memang edan, tapi Ening dan aku juga terbawa edan.

Disepanjang perjalanan aku memandang jariku yang tadi sempat masuk ke lubang vagina Ening.


.

Gesek Kelamin

Aku gagal menjadi pelajar teladan SMP di tingkat kabupaten, sehingga aku tidak ikut seleksi tingkat propinsi di Bandung. Namun panitia kabupaten minta aku dan beberapa siswa lain untuk ikut ke Bandung. Katanya utk pembelajaran sekaligus cadangan kalau pada hari lomba nanti, si juara pelajar teladan kami berhalangan. Di Bandung kami bertemu dengan teman2 siswa SMP se propinsi. Diantaranya aku kenalan dengan Soraya, gara2 minumannya tumpah didekatku dan sedikit nyiprat ke bajuku. Ternyata dia sama seperti aku, besar di Bengkulu dan sekarang tinggal bersama orangtuanya di Bekasi, dan datang ke Bandung juga sebagai cadangan. Karena sama2 cadangan dan tidak berlomba, jadi kami sering bertemu dan dalam beberapa hari menjadi akrab.

Dihari terakhir ada acara tour keliling beberapa tempat di Bandung. Aku izin tidak ikut karena ingin menjenguk nenek di rumah om yag di Bandung. Ternyata Soraya juga tidak ikut tour karena mau kerumah tantenya yang di Bandung.
“Sama dong. Main ke tanteku dulu yuk. Baru nanti ke om kamu. Terus baru ke sini lagi”, Soraya mengajak jalan bareng. Aku oke saja. Dan kami jalan naik angkutan umum.

Di rumah tante Soraya, aku dikenalkan dengan tantenya. Ternyata mereka ada darah arab di kakek buyutnya. Pantesan hidung Soraya mancung dan foto keluarga tantenya yang ditempel didinding berwajah kearab2an. Tak berapa lama anak tante yang sulung datang bersama teman sekolahnya. Katanya kelas dibolehkan pulang karena guru2 sekolah mau rapat.

“Begitulah anak SMA sekarang, sudah pacaran”, tante mengomentari kedatangan putranya dan pacarnya.
“Halo Soraya, apa kabar?” kata sepupunya menyalami Soraya
“Ini siapa? Pacar ya..”, dia menyalamiku juga
“Hush..”, Soraya memukul sepupunya, “Dia memang suka godain begitu”
“Iya dong. Kalau bukan pacar, masak jalan berdua terus dibawa kesini terus dikenalin. Ini aku juga bawa pacarku”, sepupunya terus menggoda. Lalu ia dan pacarnya berlalu ke beranda belakang.

“Tante jemput sibungsu dulu ya. Sudah kelas 3 SD masih minta dijemput. Kalau mau tambah minum, ambil sendiri di kulkas. Ada eskrim juga di kulkas. Jangan pulang dulu ya, tante belikan karedok enak”, kata tante sambil terus pergi meninggalkan rumah.
“Makan es krim yuk”, Soraya mengajak sambil menuju kulkas. Aku mengikutinya. Dan kami menyantap eskrim dimeja makan. Dari situ kami bisa melihat taman belakang yang rapi, ada tempat duduknya dimana anak tante dan pacarnya duduk berduaan. Sambil menyantap eskrim soraya dan aku ngobrol tentang keluarga dan pengalaman di Bengkulu.

Ditaman kami lihat anak tante juga asik ngobrol. Saling berpegangan mesra. Lalu berpelukan dan berciuman. Soraya dan aku kaget melihatnya. Tak lama kemudian tangan putra tante meremas2 dada pacarnya. Soraya dan aku terus menonton sambil makan eskrim. Lalu tampak putra tante membuka kancing baju sekolah pacarnya, menyibak bh dan meremas serta mencium susu pacarnya. Tangannya menggerayangi paha dan selangkangan. Soraya dan aku jadi terdiam melihatnya.

Lalu putra tante berdiri menggandeng pacarnya dan membawa masuk kesalah satu kamar.
Sejenak Soraya termangu, ia menatapku lalu kelihatan salah tingkah. Belum selesai kaget kami, entah sengaja atau lupa, korden kamar itu tidak ditutup, sehingga masih terlihat sepintas oleh kami, putra tante dan pacarnya mencopot baju mereka. Setelah itu tak terlihat di jendela karena mereka merebahkan diri. Aku merasakan jantungku berdebar dan demikian juga Soraya. Kupegang tangan Soraya dan dia membalas meremas tanganku. Kami tetap menatap ke jendela kamar itu. Sesekali terlihat punggung dan dada putra tante atau pacarnya, lalu hilang lagi karena merebahkan diri.

Karena tak terlihat, aku keluar mencari tempat yang lebih jelas untuk melihat. Dan kutemukan bahwa pemandangan dikamar akan terlihat jelas dari tempat jemuran dilantai atas.
“Dari atas kelihatan”, aku mengajak Soraya. Ia tidak bergerak, jadi segera aku tarik Soraya keatas.

Memang dari atas terlihat jelas dibalik jendela, putra tante dan pacarnya dalam keadaan bugil dan sedang bersetubuh di kasur. Meskipun agak jauh, terlihat bahwa ukuran susu sicewek cukup besar, dan penisnya putra tante terlihat panjang, mungkin karena turunan arab. Mereka berhubungan seks penuh semangat dengan berbagai posisi. Soraya meremas tanganku dan bersandar dibahuku. Kami menonton mereka sampai selesai.

“Mereka sudah pada mau pakai baju. Turun yuk.”, aku menarik Soraya yang masih terkesima. Soraya sama sekali tak berkata2 masih berdegup kencang dan lemas. Sampai dibawah, kuberi ia minum air putih dan kembali mengambil es krim, lalu pindah duduk ke ruang tamu di depan dan membaca majalah sambil makan eskrim.

“Nanti kalau mama pulang, bilangin aku ngantar pacar pulang ya?” putra tante keluar dari belakang bersama pacarnya
Karena Soraya tidak menjawab, maka segera kujawab, “Iya kak. Kami menunggu tante karena katanya mau dibelikan karedok”
“O iya, memang karedoknya enak. Oke sampai ketemu lagi. Kakak pergi dulu ya..”. Lalu kami bersalaman dengan mereka.

Tak berapa lama tante datang dan bilang sudah berpapasan dengan putra dan pacarnya. Lalu tante memperkenalkan anak bungsunya dan menyajikan karedok bagi kami. Aku lahap memakannya, sedangkan Soraya masih agak terdiam. Selesai makan karedok, karena sudah siang kami berpamitan, dan langsung menuju ke rumah om. Tante telah menelpon taksi untuk kami. Di dalam taksi, Soraya masih banyak diam. Sehingga kuberanikan diri memeluknya. Dan ia bersandar dipundakku sepanjang perjalanan.

Sesampai di depan rumah om kami berpapasan dengan Bi Oyah pembantu om , baru keluar rumah.
“Eh Asep.. Nenek baru tidur, jadi Bibi pulang dulu mau beres2 di rumah Bibi. Nanti bibi ke sini lagi”, katanya
“Iya Bi. Ini Soraya teman dari Bekasi. Om ada?” aku memperkenalkan soraya.
“Om pulangnya sore. Paling2 dua jam lagi sampai di rumah. Duduk2 dulu dan minum2 dulu ya Sep”, kata bi Oyah dan berpamitan.

Di rumah om, Soraya dan aku duduk di ruang tamu.
“Kamu nggak apa2 kan Soraya”, tanyaku
“Aku masih kebayang2 kejadian tadi. Sampai sekarang aku masih gemetaran,” katanya pelan.
Kupeluk dan kudekap erat Soraya. Cukup lama. Diapun mendekapku. Kucium keningnya. Lalu pipinya, “Kenapa kamu gemetaran?”

“Liburan lalu aku nginap di rumah saudara di kampung, dan tengah malam dari sebelah kamartidurku terdengar orang ngobrol2 mesra lalu main gituan. Aku gemetaran mendengarnya. Sejak itu aku jadi penasaran, tapi tak pernah dapat jawaban. Tadi aku lihat dengan mata kepala sendiri cara orang gituan. Makanya aku gemetaran”, jelasnya.

Soraya memandangku, “kamu kok tidak gemetaran?”
“Aku sudah pernah lihat orang gituan dari dekat”, kataku
“Hah?!”, Soraya tidak percaya.
“Sebentar..”, tiba2 aku teringat video porno paman. Siapa tahu paman meninggalkan videonya di dalam player. Waktu kubuka playernya, ternyata ada satu video, dengan tulisan yang tak kukenal. Mungkin tulisan China, Korea atau Jepang. Langsung saja kustel. Lalu duduk kembali memeluk Soraya.
“Film apa?”, tanya Soraya
“Lihat saja”, jawabku

Sepasang remaja Jepang bermain dan bercanda dipantai dengan pakaian minim dan bikini, lalu masuk ke kamar hotel. Di kamar mereka mencopot pakaian, bugil dan mandi bersama. Kulihat Soraya sangat serius menonton video itu. Sambil mandi pasangan remaja itu saling berciuman dan menciumi bagian2 tubuh lawan mainnya. Yang cowok menciumi susu dan vagina cewek, sedangkan yang cewek menciumi dada dan penis cowok. Sambil bersandar di bahuku, Soraya mendekap erat. Aku membelai2 dan meremas dadanya.

Pasangan remaja itu mengeringkan tubuh dengan handuk, lalu melanjutkan permainan seks mereka di kasur. Dengan cewek dibawah, si cowok mengarahkan dan memasukkan penis ke vagina cewek. Soraya sedikit meringis menyaksikan adegan itu. Di tivi cowok itu menghunjamkan penis berulang2, sedangkan aku menyusupkan tangan ke paha dan selangkangan Soraya. Ia memejamkan mata, maka kucium bibirnya. Ia kaget, tapi diam dan akhirnya membalas ciumanku. Lama kami berciuman, dan adegan hubungan seks terus berlangsung. Akhirnya kumatikan video, kucium Soraya dan kuraba dadanya, lalu perlahan kutuntun dia ke salah satu kamar yang pintunya terbuka, yang biasanya menjadi kamar tamu. Bersama kami duduk ditepi tempat tidur.

Soraya duduk menatapku. Aku berjongkok didepannya, mencium bibirnya lagi dan meremas dadanya. Lalu aku membuka kancing bajunya, menyingkap bhnya dan menciumi susu2nya. Akhirnya kucopot semua pakaian, rok dan cdnya hingga ia bugil, lalu kurebahkan dikasur. Aku juga segera mencopot seluruh pakaian, sambil melihat tubuh mulus Soraya. Susunya masih kecil tapi hampir sama besar dengan susu Diah, dengan puting kecil berwarna coklat muda. Bulu jembutnya masih sedikit sehingga terlihat bibir vaginanya yang tipis.

Setelah sama2 bugil aku menghampirinya, rebah disampingnya. Soraya menatapku diam dan menunggu. Maka mulailah aku mencium bibirnya yang dibalas dengan ciuman dan pelukan. Tanganku bergerak meraba2 susu, puting, perut, paha, dan vaginanya. Aku juga menuntun tangannya untuk memegang penisku. Saat memegang penis, ia kaget dan segera melepas. Tapi kutuntun lagi tangannya memegang penisku yang semakin ngaceng. Dan kubantu tangannya untuk mengelus2 penisku.

Aku merangkak keatas tubuh Soraya dan menindihnya. Menggesek2kan penisku di vaginanya. Waktu aku mau melihat vagina dan memainkan vagina seperti di video porno, dia menarikku dan memelukku dan mencium bibirku, seolah melarangku melihat vaginanya.

Setelah merasa sangat ngaceng, aku meluruskan dan mengarahkan penisku ke vaginanya. Perlahan aku menurunkan pantat dan mulai menekan penis untuk masuk ke vaginanya. Soraya memegang pinggulku dan menahan agar tidak turun.
“Jangan..”, katanya memohon agar penisku jangan menembus vaginanya.Aku juga tersadar bahwa kami masihlah anak2 SMP

Akhirnya aku melakukan gerakan berhubungan seks tanpa memasukkan penis ke vaginanya. Penisku bergerak menggesek2 vagina Soraya. Adegan dan gerakan ini merangsang Soraya sehingga dia terengah2. Kubalikkan posisi sehingga aku dibawah dan Soraya diatasku. Gantian dia yang menggerak2kan pinggulnya, menggesek2an vaginanya ke penisku yang ngaceng. Terus kami lakukan itu bergantian berguling2an. Sampai akhirnya Soraya mengerang dan lemas.

Aku meneruskan menggesek2kan penis ke vaginanya sampai akhirnya maniku keluar. Seperti di video porno, maniku kumuncratkan di perut Soraya. Akhirnya kami sama2 lemas. Aku segera mencari tisu atau lap untuk membersihkan mani di perut Soraya atau yang berceceran. Lalu kami segera memakai baju dan bergantian ke kamar mandi. Setelah bersih kami merapikan kembali tempat tidur.

Kami kembali duduk di ruang tamu dalam keadaan lemas. Soraya tak hentinya memegang tanganku, mencium pipiku dan merebahkan kepalanya di dadaku. Ia terus tersenyum. Kelihatannya ia telah lega sekarang.

Tak lama kemudian Bi Oyah datang, nenek bangun dan om pulang. Kami ngobrol sebentar dan mohon pamit karena ditunggu rombongan untuk pulang ke kota masing2.

Akhirnya Soraya dan aku pulang ke kota masing2 dengan kenangan yang sangat indah. Disitulah aku pertama kali bergumul bugil2an dengan wanita, walaupun hanya sampai menggesek2an penis di vagina.

Konyolnya, soraya dan aku lupa menanyakan alamat, sehingga kami tidak bisa berkirim surat atau menelepon. Yang tinggal hanyalah kenangan dan kerinduan. Tetapi aku sudah tahu kira2 rumah tantenya, dan Soraya sudah tahu kira2 rumah om ku. Mudah2an nantinya, kedua rumah kenangan itu bisa menjadi penghubung yang mempertemukan kami lagi.

.

Oral Seks

Duduk dikelas 3 SMP memberiku tekanan untuk terus konsentrasi belajar dan harus lulus EBTA dengan baik untuk dapat meneruskan ke SMA yang bagus. Sayangnya pengalaman pendidikan pengenalan seksku yang tiba2 banyak, membuat konsentrasi belajar menjadi buyar. Nilai2 ulangan semua mata pelajaran turun. Aku resah, tetapi ternyata bukan hanya aku, sekolahkupun resah. Pelajar yang biasanya nilainya lumayan kok tiba2 jeblok. Maka mulailah aku dipanggil ke ruang kepala sekolah, yang bersama wali kelas menanyakan permasalahanku. Lalu dipanggil ke ruang BP (Bimbingan Penyuluhan) untuk membantuku. Aku hanya menjawab bahwa aku rindu orangtua di Bengkulu karena sudah lebih dari dua tahun tidak bertemu.

Mereka berusah menghibur dan membangkitkan semangatku. Mereka juga sepakat bahwa untuk mengembalikan konsentrasiku, beberapa guru dari beberapa mata ajaran utama akan memberiku les privat selama sebulan. Setiap pulang sekolah sampai sore aku wajib belajar privat di sekolah atau di rumah masing2 guru. Tapi karena siang hari sekolah sepi, akhirnya aku harus ke rumah guru. Aku jadi ingat saat harus sering belajar privat untuk lomba pelajar teladan. Aku jadi ingat sama Diah.

Siang itu adalah jadwal privat Bahasa Indonesia, ini adalah privat yang ketiga kalinya aku datang ke rumah Bu Lia. Biasanya Pak Endang, suami Bu Lia yang membukakan pintu, namun kali ini Bu Lia sendiri yang membuka pintu dan kami privat di ruang tamu. Setelah selesai biasanya Pak Endang menemani dan kami ngobrol sebentar dan Pak Endang turut memberiku semangat. Tapi kali ini dia tidak keluar menemuiku.

“Bapak kemana Bu? Sakit?”, tanyaku
“Tadi pagi sama temannya ada urusan ke Bandung. Katanya urusannya sampai sore terus langsung kembali lagi, paling2 sekitar jam 7 jam 8 sampai rumah,” jawab Bu Lia

“Jar, kalau menurut ibu, hilangnya konsentrasi kamu karena masalah cewek”, Bu Lia membuka pembahasan. Aku diam tidak menjawab.
“Ibu perhatikan dulu kamu dekat dengan Diah dan menurut ibu cukup dekat. Ibu tahu dari wajah dan bahasa tubuh kalian,” Bu Lia coba memancing. Aku masih diam.

“Satu lagi. Ingat waktu kamu dan teman2 sekolah membantu mempersiapkan pernikahan ibu di rumah orang tua ibu?” tanyanya
“Iya. Kami sampai harus menginap semalaman”, jawabku
“Kamu dan anak2 laki tidur di bale di luar dekat tenda. Disitu ibu lihat kamu berbeda”, katanya. Aku tertegun dan ingin mendengar penjelasannya.

“Tidak seperti anak lain, kamu tidur pakai sarung dan dibalik sarung kamu tidak pakai celana atau celana dalam”. Sebelum sempat bertanya Bu Lia melanjutkan, “Malam itu ibu beberapa kali keluar, ibu lihat kamu seperti bermimpi dan ibu lihat dibalik sarung penismu ngaceng. Lalu dinihari ibu keluar lagi, dan ibu lihat lagi2 penismu ngaceng dan sarungmu basah. Kamu mimpi basah. Jadi menurut ibu masalah kamu adalah masalah wanita”, kata ibu menyimpulkan.

“Darimana ibu tahu, kalau aku ngaceng?” tanyaku menyelidik
“Justru ibu juga kaget, karena kelihatannya ukuran penismu besar sehingga terlihat jelas. Kalau ibu perhatikan, kamu tidak pernah pakai celana dalam. Ini berarti kamu sudah banyak tahu tentang seks. Kamu sudah berhubungan badan dengan Diah? Atau seseorang?”, tanyanya. Aku menggelengkan kepala.

“Kalau begitu pengalaman seks apa yang pernah kamu rasakan”, Bu Lia merendahkan suaranya. Dari tadi nadanya memang tidak memaksa, tetapi mencoba menjadi seorang sahabat.

Ragu2, aku mulai menceritakan pengalamanku dengan Ceu Kokom sampai Soraya, dan tahu seks melalui film porno. Bu Lia menghibur aku, bahwa waktu kuliah dia juga pernah beberapa kali nonton film porno bersama geng cewek. Tetapi pengalamannya dengan beberapa lelaki hanyalah sampai cium kening dan pipi. Sedangkan pengalaman seks hanya dengan suaminya, dan itupun tidak seheboh seperti di film porno.

Aku dengar memang Bu Lia adalah guru primadona, karena memang wajahnya mirip paramita rusady dan perawakannya cukup tinggi dan langsing. Tambah lagi ia selalu rapi, segar dan murah senyum. Banyak lelaki yang berusaha mendekatinya dan beberapa pernah dekat dengannya walaupun sebentar. Ia memutuskan untuk memilih Pak Endang perjaka tampan insinyur teknik, dan menikah beberapa bulan lalu.

Bu Lia bercerita tentang adegan film porno yang pernah ditontonnya. Ceritanya terbuka dan vulgar, membuatku risih tapi sekaligus terangsang, sehingga tanpa bisa dicegah, penisku ngaceng. Meskipun aku sedang dalam posisi duduk, tetapi lekuk penis ngacengku terlihat di celana.

“Coba kamu berdiri”, kata Bu Lia. Aku ragu dan malu karena penisku ngaceng, tetapi Bu Lia membantuku berdiri.
“Kamu memang tidak pernah pakai celana dalam, jadi kalau lagi ngaceng bisa kelihatan”, katanya. Lalu menarikku pindah dari ruang tamu ke ruang makan. Dia duduk di kursi makan sedangkan aku berdiri disampingnya.

Lalu dia meneruskan cerita adegan di film porno. Yang membuat aku kaget dan deg2an adalah sambil bercerita, tangannya mengusap2 celana persis dibagian penisku yang ngaceng. Aku yang tadinya bingung akhirnya memutuskan untuk menikmati belaian tangan Bu Lia. Memejamkan mata dan sedikit mendesah.

Saat sedang asyiik menikmati rabaan, tiba2 Bu Lia memelorotkan celanaku dan secara reflek aku menutupi penis dengan tanganku. Dengan lembut dan perlahan Bu Lia menyingkirkan tanganku dari penis. Sejenak dia memperhatikan penisku dan mengukur dengan jengkalan tangannya. Lalu membelai2 penisku.

“Hebat kamu, kecil2 tapi burungnya gede”, katanya.

Lalu dia melanjutkan cerita adegan film porno lagi, sambil memberi contoh. Saat bercerita tentang adegan si wanita mencium penis si laki2, Bu Lia juga menciumi penisku Lalu…diemut!. Ahh… aku kaget, berjuta rasa berkecamuk. Ini pertama kali penisku diemut. Ibu guruku yang primadona itu mengemut penisku. Lalu dia memasukkan penisku lebih dalam ke mulutnya. Mengeluarkan dan memasukkan penisku kemulutnya. Berulang-ulang.

Lama juga Bu Lia menikmati penisku. Daripada berdiri, aku merebahkan diri, dan Bu Lia tetap tak mau melepaskan penisku dari mulutnya, ia mengemut sambil tiduran. Kulihat belahan dadanya, maka tanganku menggerayang menyusup bh, mengelus2 susunya. Bu Lia mendekatkan susunya agar mudah terjangkau tanganku.
Bu Lia bercerita lagi, dan semakin bernafsu memainkan penisku. Aku menggeser badanku sehingga kepalaku lebih dekat ke bagian pinggulnya. Kusingkap roknya, dan kuperosotkan celana dalamnya. Bu Lia membantu membuka rok dan mencopot celana dalamnya sendiri, sambil tetap mengemut penisku. Wow, vaginanya tebal dengan bulu jembut yang juga tebal.

Kuberanikan diri mendekatkan wajahku ke vaginanya, Bu Lia dengan sadar membuka kakinya sehingga terlihat jelas vaginanya. Pemandangan ini tidak kusia2kan. Tanganku segera membelai jembut dan vaginanya. Kubuka bibir vaginanya dan inilah pertama kali aku melihat bagian dalam vagina. Ada itil dan ada lubang.

Sesuai dengan celotehan Bu Lia tentang adegan berikutnya, maka aku mainkan itilnya dengan jariku. Bu Lia menggelinjang. Lalu jariku memainkan lubang vaginanya. Dengan rasa penasaran aku mencoba mengikuti jalan cerita Bu Lia untuk menciumi vaginanya. Saat kucium, sejenak Bu Lia menghentikan mengemut penisku. Lalu kucium lagi, kubuka bibir vaginanya dan itilnya kujilati dengan lidahku. Ahh.. Bu Lia mendesah dan meremas kuat penisku, lalu mengemut dan mengocok penisku dengan mulut dan tangannya. Bu Lia berhenti bercerita dan menikmati permainan kami.

Setelah itil, kujilati juga seluruh bagian vaginanya dan lubang vaginanya. Rasanya aneh, aku ingin meludah. Akhirnya aku hanya menciumi bagian luar vaginanya. Cukup lama aku menikmati menciumi dan menjilati vagina. Selanjutnya kuarahkan jariku ke lubang vaginanya. Kumasukkan jariku kedalamnya. Bu Lia mendesah lagi. Di dalam vagina Bu Lia kurasakan ada gundukan2 kecil. Didalamnya, jariku serasa dipijit2 oleh vaginanya. Kukeluar masukkan jariku ke vagina, Bu Lia menggelinjang2. Terus kulakukan sampai akhirnya Bu Lia mengejang. Kelihatannya dia sudah sampai puncak nikmat.

Adegan ini membuatku semakin terangsang. Setelah cukup lama, kurasakan penisku mau mengeluarkan mani. Aku bernafas kencang, Bu Lia semakin mempercepat ngocoknya. Dan akhirnya…. Aaahhh, maniku muncrat keluar. Bu Lia tidak siap, sehingga sebagian maniku masuk ke dalam mulutnya dan sebagian mengenai muka dan matanya.

Aku terlentang lemas dengan wajah masih mencium vagina Bu Lia. Sementar Bu Lia juga lemas dengan kepala di pahaku dan mencium penisku yang mulai meloyo. Tak lama kemudian ia mengambil lap untuk membersihkan mani dan cairan vaginanya yang berceceran di lantai. Lalu dia menuntunku kekamar mandi untuk membersihkan diri.

Aku menyiram dan membersihkan penis dan sekitar selangkangan. Bu Lia mengambil handuk dan kemudian ikut masuk kamar mandi untuk membersihkan. Ternyata Bu Lia malah mencopot baju dan bh nya sehingga bugil. Wah ternyata badan Bu Lia mulus, dengan warna kulit khas orang sunda. Susunya tidak terlalu besar, tetapi putingnya cukup panjang, mungkin hampir 1 cm. Bu Lia berusia 22 tahun dan baru menikah dengan Pak Endang beberapa bulan lalu.

“Kalau habis seks, sebaiknya mandi”, dia menjelaskan. Aku ikuti sarannya dan mencopot semua pakaian dan mandi bersama.

Bu Lia membantu memandikanku dan dia menyabuniku dari atas. Agak lama dia menyabuni penisku, sambil digosok2. Katanya biar bersih, tapi kenyataannya penisku menjadi ngaceng lagi, dan dia tersenyum. Lalu dia minta aku menyabuninya. Aku juga menyabuni Bu Lia dari atas sampai bawah, dan sengaja berlama2 saat menyabuni susunya. Bukan hanya menyabuni tapi meremas2 susu dan memainkan putingnya. Bu Lia tersenym. Begitu juga saat menyabuni vaginanya, aku memainkan itilnya. Setelah menyiramkan air untuk menghilangkan sabun, kulihat susunya sangat menantang. Aku beranikan diri mencium dan menghisap susu. Bergantian kiri dan kanan

Aku semakin ngaceng lagi, dan kutempelkan penis ngacengku ke pantat dari belakang. Lalu membalikkan tubuh Bu Lia dan menempelkan penis ke vaginanya dari depan. Kugesek2an dan kami berciuman. Permainan ini membuatku ingin mencoba memasukkan penis ke vagina. Kupegang penisku dan kuarahkan ke vaginanya.

“Jangan ya.. ibu belum hamil. Ibu ingin punya anak dari Pak Endang”, katanya lembut.
“Digesek2 gini saja” katanya sambil mempercepat gerak pinggulnya.

Kelihatannya Bu Lia menikmati gesekan penisku divaginanya, dia mendesah2 hingga erangan panjang menandai bahwa ia telah mencapai puncaknya. Bu Lia lemas dan merebahkan kepalanya dipundakku. Sedangkan aku terus menggesek2an penisku. Bu Lia terduduk lemas di kamar mandi, sekalian kurebahkan dia dan kuciumi seluruh tubuhnya. Dan kembali aku menciumi dan memainkan vaginanya. Jilatan di vagina membuat Bu Lia terangsang kembali dan mendesah2 memegangi kepalaku untuk dibenamkan ke selangkangannya.

“Sudah dulu ya.. terus cepat mandinya. Sebentar lagi Pak Endang pulang”, tiba2 Bu Lia menghentikan permainan kami karena ingat suaminya segera datang.

Tanggung penisku sudah ngaceng, aku merangkak menindih tubuh Bu Lia, “aku mau keluar Bu”, kataku memohon, Bu Lia tersenyum mengangguk. Lalu kogoyang2 pantatku menekan selangkangannya. Sementara tangan Bu Lia memposisikan dan menjaga penisku agar tidak masuk ke lubang vaginanya. Cukup lama aku bergoyang. Bu Lia yang tadinya pasrah menunggu aku keluar akhirnya menikmati lagi. Aku mempercepat goyangan dan akhirnya maniku meledak keluar di perutnya.

Kelihatannya Bu Lia juga akan memuncak, kedua tangannya memegang erat pinggulkan sambil menggoyang2kan pinggulnya dan menggesek2 vaginanya ke kelaminku. Sampai akhirnya iapun mencapai puncak dan kami terkulai lemas di kamar mandi.

“Aku.. tiga.. kali..sama..kamu..”, kata Bu Lia dengan napas terengah2. Maksudnya tiga kali mencapai puncak.

Tanpa istirahat, Bu Lia langsung mandi. Sedangkan aku membersihkan penisku dulu. Saat akan membersihkan, aku melihat penisku basah diselimuti cairan, tapi bukan maniku, tapi seperti cairan vagina. Aku kaget, apakah saat gesekan terakhir saat Bu Lia memuncak, tanpa sadar dan tanpa terasa penisku masuk ke vaginanya. Aku memandang Bu Lia yang sedang mandi, diapun melihatku memperhatikan penisku. Dia hanya tersenyum penuh arti dan meneruskan mandi.

Kami selesai sebelum Pak Endang pulang. Saat pamitan aku ucapkan terimakasih kepada Bu Lia. Diapun mengucapkan terimakasih dan berharap kejadian ini menambah semangat dan konsentrasi belajarku.

Setelah hari itu, aku masih 4 kali lagi les privat di rumah Bu Lia. Tetapi tidak ada kesempatan untuk mengulang menciumi vagina Bu Lia, karena Pak Endang selalu ada di rumah. Paling2 saat tahu Pak Endang mandi atau ke warung, kami memanfaatkan waktu yang sebentar itu untuk saling meraba dan mencium vagina dan penis.

Bu Lia, guru bahasa indonesiaku memberiku pengalaman pertama penisku diemut dan juga pengalaman pertama menciumi dan memainkan vagina. Dan menyisakan misteri apakah penisku sempat masuk ke vaginanya


.

Satu Coblos Saja

Kakek sakit2an. Karena tidak ada anak2nya yang tinggal di kampong, akhirnya kakek dibawa oleh Om untuk tinggal di Bandung. Anak kakek yang paling dekat, tinggal di Jogjakarta. Yang lainnya tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Dengan tidak adanya kakek, maka aku tinggal sendirian di rumah. Untuk pindah rumah dan pindah sekolah sudah tanggung karena beberapa bulan lagi EBTA (ujian akhir). Paling2 nanti waktu masuk SMA aku pindah kota. Mang Alit menawari aku untuk SMA di jogja, oleh karena itu liburan sekolah kali ini aku diundang untuk main ke Jogja.

Tiba di Jogja hari minggu di jemput Mang Alit di stasiun kereta. Rumah Mang Alit sederhana, ditinggali oleh istri, tante Retno dan dua anaknya yang masih kecil. Evi yang TK dan Eti masih bayi. Malam itu Mang Alit menyampaikan SMA yang bagus di Jogja dan di dekat rumah. Besok aku diminta utk melihat2 sekolah2 itu.

Esok pagi aku terlibat aktivitas harian di rumah Mang Alit. Pagi2 Tante Retno menyiapkan sarapan dan mengurus persiapan Evi sekolah. Aku membantu memandikan dan memakaikan seragam sekolah Evi. Setelah sarapan bersama, Mang Alit berangkat ke kantor sambil mengantar Evi. Setelah itu Tante Retno merapikan dan membereskan rumah, mengurus bayi, baru keluar untuk urusan belanja, dan bertetangga dll. Biasanya Tante Retno memanggil salah satu anak tetangga untuk menjaga bayi Eti saat Tante sibuk beraktifitas. Namun karena ada aku maka aku yang diminta tolong untuk menjaga Eti.
“Jar, jagain Eti ya. Tante mandi dulu”

Aku menjaga Eti yang tidur dikamar Mang Alit dan memandangi sosok bayi mungil yang tertidur pulas dengan damai. Aku merebahkan diri dan tiduran disebelah bayi itu. Lalu Eti menggeliat2 mencari ibunya dan tak berapa lama kemudian menangis. Mendengar bayinya menangis, Tante Retno segera keluar dengan hanya menutupi tubuhnya dengan handuk. Ia segera menghampiri bayinya, membuka handuknya dan menyodorkan susunya kepada si bayi.

Kelihatannya Tante Retno lupa bahwa yang menjaga bayinya bukanlah anak perempuan kecil tetangganya, tetapi diriku yang laki2 dan sudah kelas 3 SMP. Dan aku terkesima melihat susu Tante yang berkulit coklat dengan puting yang coklat gelap dan lingkaran putingnya cukup besar. Dan karena ia membuka handuk untuk menyusui, maka terlihat juga bulu jembut yang menutupi vagina Tante Retno. Tubuhnya masih mulus dan padat karena usia tante masih 25 tahun. Terasa air liurku keluar dan aku menelan ludah.

“Eti tenang ya kalau disusuin”, kataku. Tante Retno hanya memberi tanda jari telunjuk dimulut, menyuruhku untuk tidak berisik.

Sambil menyusu, tangan bayi itu memegang2 susu Tante Retno yang satunya lagi. Sebuah pemandangan yang merangsang bagiku. Saat tangan mungil itu melepas pegangannya ke susu, aku raih tangan itu dan aku tempelkan lagi ke susu Tante lalu kugerak2an di susu dan putingnya. Karena tangan bayi itu kecil, maka tanganku juga ikut menyentuh dan membelai2 susu tante. Melihat ini Tante Retno tak berani bereaksi karena takut Eti terganggu dan menangis.

Sadar bahwa tante tak bisa bergerak dan terlihat menikmati menyusui bayi, aku segera melepas tangan mungil bayi dan membiarkan ia meraba2 sendiri susu ibunya. Sedangkan tanganku bergerak membelai perut lalu menuju jembut. Tante tetap tak bergerak. Dia hanya menutupkan handuk ke tanganku yang sedang membelai jembutnya. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya, apakah marah atau malah menambah nikmat menyusui.

Karena kaki tante merapat, aku hanya bisa meraba jembut dan tak bisa memegang vagina. Oleh karena itu aku turut dan berpindah ke sisi tempat tidur satunya. Dari belakang tante aku bisa melihat bibir vagina yang dikepit paha yang rapat. Aku membelai2 kepala bayi dari belakang tante.

“Nyusunya banyak ya Tante?”, tanyaku. Sekali lagi tante mengisyaratkan aku untuk tidak berisik.

Sambil membelai2 kepala bayi, tanganku yang satunya membelai vagina tante. Tante malah terpejam. Aku benar2 tidak tahu apa yang ada dalam pikiran tante. Tak lama kemudian, si bayi sudah terlelap, dan tante menarik pelan2 putingnya supaya lepas dari mulut bayi. Lalu ia berdiri membenahi handuknya.

“Jagain Eti lagi ya, tante mau neruskan mandi”, katanya seolah tadi tak terjadi sesuatu.
“Jagain Eti ya, tante mau belanja dulu”, katanya selesai mandi dan berpakaian.

Setelah Tante selesai dengan urusannya, barulah aku pamit keluar rumah untuk melihat2 suasana beberapa SMA disana. Jogja lebih rame dibanding Tasik apalagi dibanding kampungku.

Keesokan harinya, kejadian pagi hari kemarin terjadi lagi. Aku menemani si bayi menyusu pada tante Retno. Ikut membelai2 susu dan jembut tante. Lalu aku berjalan kesebelah punggung tante dan mengusap2 bibir vaginanya. mirip. Kali aku sengaja hanya pakai sarung tanpa celana, dan saat berjalan tante melihat penisku tegang. Sehingga saat aku membelai2 vaginanya, tangan tante menyentuh2 dan meraih penis ngacengku yang tertutup sarung. Kusingkap sarung sehingga tangan tante dapat memegang langsung penisku.

Aku bergerak agar penisku mendekat ke vagina tante, lalu kusentuh2kan penis ke vaginanya. Aku ingin sekali merasakan penis yang masuk ke vagina. Tetapi tiba2 tante menahanku. Tapi aku tahu tante tak mungkin bergerak karena si bayi masih menyusu, jadi kuluruskan lagi penisku ke vaginanya. Sambil tetap memegang penisk, tante berusaha menahan doronganku. Akhirnya dia hanya menggerak2kan penisku bergesekan dengan vagina.

Bayi terlelap, tante beranjak melanjutkan mandi lalu belanja, tak lupa ia menitipkan si bayi utk kujaga apabila terbangun. Setelah urusan tante selesai, aku kembali mengitari SMA lain untuk membandingkan. Kelihatannya aku cocok di kota ini.

Keesokan paginya kembali aku menjaga si bayi dan mengharapkan kejadian seperti kemarin terjadi lagi. Namun kali ini, si bayi tertidur lelap sampai tante selesai mandi. Yang berarti pupus harapanku melihat tante terburu2 datang menyusui bayi dengan hanya menggunakan handuk, karena biasanya selesai mandi, tante keluar kamar mandi dengan menggunakan baju lengkap. Padahal hari ini adalah hari terakhirku di rumah paman, nanti sore aku kembali naik kereta malam.

Tapi ternyata aku salah. Walaupun mandinya sudah selesai, tante tetap menggunakan handuk dan tiduran disebelah bayinya. Menurut tante, karena nanti dia mau belanja agak lama, jadi harus nyusuin bayi dulu. Tapi aku bingung kenapa menyusui harus menggunakan handuk, kan bisa pakai baju lalu bh nya disingkap.

Tak mau ambil pusing, aku yg masih rebahan disebelah bayi, menggerakkan tanganku menerobos handuk untuk memegang susu2nya. Lalu bergerak menuju jembutnya.
Seperti hari2 kemarin, aku berjalan kebelakang punggung tante. Setelah membelai vaginanya, aku menyingkap sarung dan menggesek2kan penis yang telah tegang ke vaginanya. Tante memegangi penisku. Selanjutnya aku coba mengarahkan lagi penisku untuk kumasukkan ke vagina. Tante menahan gerakanku.

“Boleh dong tante.. aku belum pernah memasukkan kontol ke memek”, dengan suara berbisik aku meminta. Tante menggelengkan kepala.

“Sekali dorong saja tante.. setelah itu tidak”, aku menawar.

Tante diam tidak menggelengkan kepala dan melepaskan tangannya dari penisku, sambil menunjukkan isyarat dengan jarinya bahwa hanya boleh satu kali masuk. Aku merasa mendapat izin, maka kudorongkan penis menusuk vagina. Tetapi selalu meleset. Karena bibir vaginanya tertutup rapat, aku tidak tahu dimana posisi lubang vagina. Beberapa kali gagal, akhirnya tante memegang kembali penisku. Dia membantu mengarahkan penisku ke lubang vaginanya.

Kutekan penisku pelan2 dan mulai masuk kedalam. Saat mulai masuk, kulihat tante sedikit menggeliat sehingga aku menghentikan dorongan. Terasa ada cairan dan kehangatan menyelimuti penis. Kutekan lagi pelan2 dan kuhentikan. Kurasakan vagina tante bergerak2, penisku serasa dipijit2. Lalu kutekan, stop, kutekan lebih dalam, stop, sampai akhirnya ujung penisku menyentuh sesuatu dan tak bisa kutekan lebih dalam. Karena hanya boleh satu kali, maka kubiarkan penisku berada didalam vagina, kupejamkan mata untuk menikmati, kurasakan vagina tante menjepit2.

Setelah beberapa menit, tante mendorongku untuk mencabut penis dari dalam vaginanya. Kulihat penisku basah.
“Cuci dulu”, kata tante sambil menyuruhku ke kamar mandi. Eh, akhirnya tante ngomong juga.

Setelah itu tante mandi lagi, menyusui bayi lalu belanja. Ternyata belanjanya hanya sebentar, tidak lama seperti katanya tadi. Dan setelah itu aku keliling melihat SMA sekitar. Sorenya diantar paman ke stasiun kereta untuk pulang ke Tasik lewat Bandung. Saat berpamitan dengan tante dan keponakan2, tante memandangku tajam dan mengucap terimakasih. Kubilang bahwa akulah yang berterimakasih.

Dikereta malam diantara tidur, aku memegang selangkanganku.
“Kamu sudah tidak perjaka lagi”, kataku bangga kepada penisku.

.

Darah Perawan

Untuk memudahkan perawatan dan pengobatan, kakek tinggal di Bandung, sedangkan untuk urusan makan, aku dititipkan ke Bi Neneng, tetangga sebelah. Karena tidak ada kakek dirumah, sore aku punya waktu luang untuk main dan berkumpul dengan teman2 di kebon balai desa. Kebon ini seperti markas bagi kami. Dari markas inilah aku dapat tawaran utk makan dirumah mereka. Beberapa kali aku makan di rumah Kang Maman, Kang Dedi, Teh Euis, Ceu Ita. Mereka semua baru berkeluarga sehingga kami selalu makan bertiga dengan istri atau suaminya, kecuali Teh Euis baru akan menikah minggu depan sehingga kami makan dengan orangtua dan saudara2 Teh Euis.

Karena kami akrab sejak dulu, makan dirumah mereka serasa makan di rumah sendiri. Kecuali di rumah Kang Maman. Istrinya, Ening, masih menunjukkan rasa kesal atas kejadian di saung beberapa bulan lalu. Saat itu, dengan menonton mereka berhubungan, aku menjadi satu2nya laki2 selain suaminya yang pernah melihat Ening bugil, Ening mengerang nikmat, dan pernah memegang serta memasukkan jariku ke vaginanya. Setiap melihat Ening membangkitkan memori itu dan membuatku terangsang. Tetapi setiap melihat sorot mata Ening, aku menjadi merasa bersalah dan ingin segera pergi.

Saat makan di rumah Euis, bapaknya bilang bahwa Euis akan menikah minggu depan. Dan karena rumah barunya belum selesai, Euis dan suaminya akan tinggal di rumah kakekku selama 2-3 bulan. Hal ini sudah dibicarakan dan diizinkan oleh kakek dan om di Bandung.

“Jadi nanti kamu nanti tidak sendirian dan minta makan sama Euis saja”, kata bapaknya Euis.
“Asyik dong..”, seruku lalu ‘tos’, tanganku dan tangan Euis bertepukan melakukan salam persahabatan kami.

Sebelum acara pernikahan, mereka mulai boyongan beberapa perlengkapan rumah ke rumah kakek. Hari pernikahan dan malam pengantin dilaksanakan di rumah orangtua Euis, baru hari kedua setelah pesta pernikahan Euis dan suaminya Kang Ohim buru-buru ngungsi ke rumah kakek, karena hari ketiga suaminya sudah kerja lagi. Kang Ohim berperawakan kecil. Tingginya sama atau mungkin lebih pendek setengah centi dari Euis, istrinya. Untung Euis tidak pernah pakai sepatu hak.

Suatu hari aku pulang agak sore dan masuk lewat pintu belakang. Rumah sepi, tapi aku mendengar sedikit bunyi2an, datangnya dari kamar Kang Ohim. Aku menghampiri pintunya yang tidak tertutup rapat. Dari celah itu terlihat Kang Ohim sedang menindih Euis sambil keduanya bugil. Rupanya Kang Ohim sudah pulang dan ternyata itu bunyi orang yang berhubungan seks tapi ditahan karena takut kedengaran.

Asyik juga menonton orang main seks, walaupun hanya terlihat sedikit. Tapi tak lama, karena Kang Ohim sudah mencapai puncak dan kecapaian, sedangkan Euis masih mendekap Kang Ohim dan melanjutkan gerakan untuk mencapai puncak. Mata Euis menatap keatas, lalu.. ia melihatku!. Sejenak ia menghentikan gerakannya. Dan aku segera beranjak pergi ke belakang menuju kamar mandi.

Di kamar mandi itu aku mengeluarkan penisku yang tegang dan coba beronani dengan sabun. Belum sempat aku mengambil sabun, Euis dengan hanya menggunakan daster sudah masuk ke kamar mandi.

“Kamu ngintip ya, bandel!, teman sendiri diintip. Nggak kompak nih!” gaya khasnya nyerocos mengomeliku.
“Maaf, nggak sengaja”, kataku membela diri sambil mengajak dia ‘tos’
“Iya tahu, kamu nggak sengaja. Tapi harusnya segera pergi, jangan malah diam menonton”, katanya sambil ‘tos’ dan balik badan untuk berlalu.

Tiba2, sebelum melewati pintu keluar kamar mandi, langkahnya berhenti, dan dia berbalik kearahku.

“Coba menghadap sini!”, katanya dan akupun menghadap kearahnya
“Kamu ngaceng ya lihat aku”, katanya menegurku. Aku belum sempat menjawab, ia berkata, “tapi burungmu gede banget”. Lalu ia keluar kamar mandi.

Sebenarnya aku malu pada Euis, tapi tanggung sudah ngaceng, maka aku berniat meneruskan onani. Belum sempat aku onani, Euis sudah masuk kamar mandi lagi.

“Kamu bisa tolong aku nggak”, katanya sambil ngajak aku ‘tos’
Aku membalas salam persahabatan ‘tos’, “buat teman sih ayo saja. Memangnya menolong apa?”
“Kang Ohim tidur kecapekan. Aku sudah diperawanin dia sejak malam pengantin. Cuma aku bingung, kok nggak ada darah perawannya. Pagi2 aku buru2 cuci seprei dan bilang untuk bersihkan seprei dari mani dan darah perawan. Nah sampai sekarang aku ngewe sama dia tak pernah ada darah perawan, padahal kan aku belum pernah ngewe sama siapa2, aku masih perawan”, katanya.
“Terus, maksudmu minta tolong?”, aku bertanya ke Euis karena belum menangkap maksudnya

Euis mendekatkan mulutnya ke kupingku dan berbisik, “mungkin gara2 burungnya Kang Ohim kecil. Tadi kulihat burungmu besar. Siapa tahu kalau pakai burungmu bisa ada darah perawan”
“Ah yang bener saja. Kita kan teman”, kataku
“Aku penasaran”, katanya. Di menyeretku ke dapur, merebahkan diri di lantai dan menyingkapkan dasternya sehingga terlihat vaginanya yang tebal dengan bulu2 yang masih jarang dan halus disekelilingnya. Khas pemandangan vagina berumur 17 tahun.

“Bener nih?”, aku terangsang. Euis mengangguk “ayo cepetan!”

Aku mencopot celanaku dan Euis membuka selangkangannya. Terlihat bibir vaginanya merekah dan didalamnya ada itil yang kecil, sedangkan bibir dalamnya merah. “Jangan dilihatin. Langsung saja coblos. Tapi pelan2, takut sakit kalau dimasukin yang gede”, kata Euis tak sabar tapi juga takut.

Kuarahkan penisku ke lubang vaginanya, kudorong pelan2. Penisku mulai masuk ke vaginanya dan aku merasakan nikmat yang luar biasa. Kudorong lagi dan lagi, aku berusaha memasukkan semua penisku ke dalam vagina Euis. Ketika hampir semua batang penisku masuk, tiba2 di dalam terasa ada yang menahan sedikit, lalu ujung penisku membentur dinding dalam vaginanya. Saat itu Euis terhenyak dan menggigit bibirnya.

Ia memegang pantatku agar terus menekan kedalam vaginanya. Tapi tak bisa masuk lebih dalam karena sudah membentur dinding dalamnya. Euis menahan pantatku menikmati mentok nya penisku didalam, lalu menghela napas.

“Kang Ohim tidak sampai mentok begini”, katanya, “punyamu memang panjang dan gede”

Euis mengangkat kepala untuk melihat penisku yang masuk ke vaginanya.
“Sudah, sekarang keluarin burungmu dari memekku, pelan2”, dia memerintahku.

Kucabut penisku pelan2 hingga keluar semua. Euis memperhatikan penisku dan dia terlihat gembira. Di kepala penisku ada darah.
“Ini darah perawan. Jadi benar aku masih perawan”, katanya girang sambil ‘tos’ kepadaku
“Kalau menurutku kamu sekarang sudah tidak perawan, ini selaput dara perawanmu sudah sobek dan nempel di tititku”, kataku. Dia tidak terpengaruh ucapanku.

Euis segera beranjak, aku memegang tangannya.
“Terusin lagi yuk. Enak dan tanggung nih”, aku minta untuk meneruskan hubungan seks
“Enak saja. Aku kan bukan istrimu”, kata Euis, lalu ia mengajak ‘tos’

“Plok..”, dua tangan kami ‘tos’ menunjukkan keakraban persahabatan.

Sebuah keakraban yang memberi pengalaman pertamaku menembus selaput dara perawan.

.