Karena berlokasi di pinggiran kota Padang, peraturan sekolah kami cukup ketat. Bukan hanya masalah absensi, pakaian seragam, atau kerapihan rambut. Siswa-siswi juga dilarang merokok, minum miras, pacaran apalagi berhubungan seks. Beberapa kali siswa atau siswi dipanggil BP untuk diluruskan. Wali kelas kami Bu Neni juga termasuk guru BP.
Sore itu Wandi, teman sekelas waktu di kelas satu, datang ke rumah dan masih menggunakan seragam sekolah, “Jar, bantuin aku dong..”, kata Wandi. “Aku tadi dipanggil BP, diancam mau dikeluarkan dari sekolah”.
“Hah.., Memangnya kamu salah apa?” tanyaku.
“Waktu lagi pulang aku dipanggil ke ruang Pak Dedi guru ekonomi, urusan PR dan nilaiku. Pas sudah selesai dan mau pulang, aku ketemu guru BP dan diajak ke ruang BP. Pas didalam task u digeledah terus kepergok bawa buku cerita porno”, jawabnya.
“Kenapa begitu saja ancaman hukumannya berat?”, tanyaku
“Buku pornonya sih masih ringan. Kata guru BP, dia pernah memergoki aku sekamar berdua dengan Sari. Itu yang berat”, Wandi merasa bersalah. Sari adalah pacar Wandi sejak kelas satu, dulu mereka sekelas, sekarang Wandi di IPS, Sari di IPA.
“Terus, kenapa minta tolong aku?”, tanyaku
“Guru BP yang manggil itu Bu Neni. Dia kan wali kelasmu. Pas ketemu BP aku ketemu Yuni, bendahara kelasmu, aku cuma cerita ke dia bahwa ancamannya berat. Kata Yuni, Bu Neni mau dengerin kata2mu”, Wandi menjelaskan. Duh Yuni.. masih saja berusaha mencari tahu hubunganku dengan perubahan sikap Bu Neni.
“Aku nggak dekat sama Bu Neni. Tapi sebagai temanmu, aku coba deh”, kataku
“Cepat ya Jar, mumpung baru Bu Neni yang tahu. Aku takut Sari juga dipanggil dia, terus diancam mau dikeluarin”, katanya penuh harap, lalu pamit.
Segera aku menuju rumah Bu Neni. Sampai di sana ternyata Sari baru keluar dari Bu Neni dengan tertunduk. Aduhh, telat. Aku segera menghampiri Neni, dia tak mau cerita kesedihannya. Aku bilang, bahwa Wandi sudah cerita semua dan minta tolong aku menemui Bu Neni.
Akhirnya Sari mau cerita “Tadi sepulang sekolah aku nunggu Wandi di warung, nggak tahunya yang muncul Bu Neni dan nyuruh ikut ke rumahnya segera, minta tolong dan ada hal penting. Di rumah Bu Neni, awalnya dia minta tolong merapikan PR kimia anak2 kelas satu".
“Setelah itu dia bertindak sebagai guru BP. Dia bilang BP dilakukan di rumah karena masalah sensitif. Dia tahu hubungan aku dengan Wandi. Dia periksa tasku, dan dua kondom di dompetku ketahuan sama Bu Neni. Dia juga bilang bahwa pernah memergoki aku beberapa kali sekamar berdua Randi. Dan dia sudah memanggil Wandi ke ruang BP tadi. Aku nggak bisa menghindar dan mengakui. Terus dia bilang aku dan Wandi bisa dikeluarkan dari sekolah”. Sambil kuantar pulang dengan motor, Sari semakin terisak. Aku coba tenangkan dia bahwa aku akan bicara sama Bu Neni.
Setelah mengantar Sari, aku langsung ke Bu Neni. Di rumahnya dia sedang ceria, katanya baru terima telpon dari calon suaminya, ngomongin masalah pernikahan. Aku senang melihat dia gembira. Lalu Bu Neni mempersilahkan aku masuk. Aku sedikit bertanya tentang calon suaminya dan dengan semangat Bu Neni bercerita tentang status duda beranak satu, Bu Neni sudah akrab dengan anak dan keluarga besar calon suami. Dia merasa cocok dengan sikap dan kebaikan calon suami.
“Ibu sedang dimabuk asmara ya?. Sama dong sama Wandi dan Sari yang sedang dimabuk asmara”, aku mulai masuk ke permasalahan. Bu Neni kaget dan berargumen bahwa mereka telah berhubungan melebihi batas yang belum boleh untuk anak seumur mereka.
Aku sampaikan bahwa aku juga pernah berhubungan seks dengan Bu Neni. Dan menurutku Wandi dan Sari masih menjaga diri. Mereka tidak mempertontonkan tindakan melampaui batas di sekolah dan di lingkungan sekolah. Perbuatan mesum mereka lakukan jauh di luar kota atau di kota Padang. Mereka berhubungan seks dengan aman karena memakai kondom, mereka tidak mau Sari hamil.
Cukup lama aku mencoba memberi pengertian. Bu Neni ingin menegakkan aturan, tetapi dia sendiri sebenarnya melanggar aturan, karena punya video porno dan bernah berhubungan seks dengan aku muridnya. Aku menekankan bahwa apa yg telah terjadi, yg penting terjaga rahasia, tidak mempengaruhi orang dan tidak diulang lagi. Seperti aku, Wandi dan Sari masih punya masa depan, dan kita tidak boleh mematahkan semangat masa depan mereka.
Bu Neni memahami maksudku dan memahami posisinya, “Baiklah. Jaga rahasia aib orang. Dan beri kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Rahasia Wandi dan Sari ada pada kita, dan ibu tidak akan menghukum mereka asal mereka tidak melakukan lagi.. Dan kalau ketahuan satu kali lagi, maka tiada maaf”. Bu Neni menyimpulkan sekaligus mengingatkanku.
Aku mengucapkan terimakasih dan merencanakan besok siang aku, Wandi dan Sari akan ke rumah Bu Neni untuk menyelesaikan hal ini. Lalu kami cerita2 lagi tentang masa muda Bu Neni. Aku pamit dan Bu Neni memeluk dan menepuk pundakku. “Kamu cukup bijaksana”, katanya. Aku ge-er.
Besoknya kami ke rumah Bu Neni dan semua permasalahan jadi beres. Wandi dan Sari dapat nasehat panjang dari Bu Neni. Dan Bu Neni bilang bahwa dia punya mata2 untuk mengawasi Wandi dan Sari. Setelah semua masalah diselesaikan, Bu Neni minta tolong untuk membantu memeriksa PR kimia anak kelas satu. Aku dan Sari membantu, sedangkan Wandi pulang karena ada kerjaan di rumah.
Tak berapa lama, Bu Neni mendapat telpon dari calon suaminya. Bu Neni pergi urusan calon suami dan meminta kami meneruskan kerjaan.
“Terimakasih ya Jar, telah menyelamatkan masa depanku”, kata Sari
“That is what friend are for. Kamu berdua sahabatku”, kataku belagak bahasa Inggris.
Sari melihat keluar jendela dan bertanya dengan suara pelan, “Aku heran, kok kamu bisa mempengaruhi Bu Neni?”. Aku hanya tersenyum, “Aku cuma berusaha jadi siswa yang baik saja”. Sari terlihat kurang puas. Aku tetap diam sambil terus menyelesaikan tugas.
“Bagaimana aku membalas jasamu ini? Kutraktir makan saja ya?”, Sari menawarkan. Aku bilang boleh saja.
“Tapi kayaknya kurang deh kalau cuma makan. Tambah nonton deh..”, katanya tertawa.
“Nggak usah makan, nggak usah nonton. Bagaimana kalau cium?!”, kataku meledek. Sari berhenti bekerja dan memandangku.
“Kenapa?”, aku tertawa.
Sari menghampiriku lalu tiba2 mencium bibirku dan aku terdorong rebah.
”Sari.?.”, kataku, tapi tetap menerima ciumannya. Sari melepaskan ciumannya dan menatapku yang terlentang di lantai. Lalu mencium bibirku lagi. Aku biarkan dia menciumku. Lama-lama aku terangsang dan secara reflek tanganku menggerayang dadanya. Menyusup kebalik baju dan mencari susunya.
Sari tak peduli, badannya dimiringkan untuk memudahkan tanganku mencari susu. Bahkan tangannya membantu menyingkap bh sehingga dengan mudah aku meremas dan memainkan susunya. Sambil menciumku, tangan Sari mencari letak penis di balik celana dan meremas2 penisku.
“Sari?”, aku coba menyadarkannya, tapi aku sendiri jadi terangsang dan penisku ngaceng. Aku membalas menyingkap rok dan menyelinapkan tanganku kebalik celana dalamnya dan memainkan vaginanya.
Sari memelorotkan sedikit celanaku sehingga penisku menyembul keluar dalam keadaan ngaceng. Lalu dia duduk diatas perutku. Tanpa mencopot rok dan celana dalam, Sari menyingkap sisi celana dalamnya sehingga vaginanya mengintip.
“Sari?”, aku masih ragu. Tapi tak ada waktu untuk bertanya, tangan Sari meraih penisku, meluruskan ke vaginanya dan bless.. penisku masuk ke vaginanya.
“Sari..”, aku berada di dua kebimbangan. Sari adalah sahabatku. Wandi pacarnya Sari, juga sahabatku. Sulit bagiku untuk bersetubuh dengan Sari. Tapi disisi lain nafsu seks membuatku terangsang dan bergairah, aku jadi tak ingin dia berhenti.
Sari terus menggenjot. Saat asyik menggenjot, terdengar pintu pagar di buka dan terlihat Bu Neni pulang. Dengan cepat Sari mengeluarkan penisku, lalu membetulkan celana dalamnya sehingga vagina yang ngintip tadi langsung ngumpet lagi. Lalu meneruskan tugas. Aku juga sigap membenahi celana dan menutup retsleting. Karena penisku masih ngaceng, aku tengkurap menyembunyikannya sambil segera kembali mengerjakan tugas.
Bu Neni masuk dan memandang kami dan langsung membawa barang bawaan kebelakang. Ternyata masih ada barangnya di depan pintu dan Bu Neni minta tolong aku membawanya ke dalam. Aku berusaha meutupi penisku yang masih tampak ngaceng dibalik celana, tapi tak bisa. Akhirnya aku mengeluarkan baju menutupi bagian selangkanganku.
Saat aku mengantar kebelakang, Bu Neni berbisik menegurku, “Kamu nakal ya Jar. Masak ngerjain tugas begitu, napas kamu terengah2”. Bu Neni melanjutkan. Tangannya segera bergerak memegang daerah selangkanganku dan memergoki penisku masih ngaceng “dan kontolmu ngaceng”.
“Memangnya sempat Jar?”, Bu Neni nggak percaya kami sempat berhubungan dan segera memakai baju lagi.
“Sari cuma ucapin terimakasih, tapi sedikit berlebihan, jadi aku terangsang”, kataku sambil mengusap bibir, mengisyaratkan bahwa Sari mencium bibirku.
“Oo begitu..”, kata Bu Neni. Lalu kami kembali membantu memeriksa PR kimia hingga selesai.
Aku mengantar Sari ke rumahnya. “Ucapan terimakasihmu berlebihan, Sari”, kataku.
“Maaf. Waktu sekelas di kelas satu, aku suka kamu, tapi kamu cuek. Lalu Wandi yang baik menghampiriku. Kami jadian. Karena sudah sama2 cinta, kami buta dan berbuat tidak semestinya. Tapi aku masih menjaga diri dengan pakai kondom”, Sari berusaha menjelaskan.
“Tapi kamu sama aku tadi tidak pake kondom”, kataku
“Aku nggak berani bawa kondom, takut diambil Bu Neni lagi”, jawabnya
“Aku bingung Jar. Aku cinta dan sayang sama Wandi. Tapi rasa suka sama kamu tidak hilang. Selama ini bisa kukendalikan, tapi waktu kamu tadi minta cium, aku menjadi buta dan hilang kendali”, Sari berkata pelan.
Sesampai dirumahnya, Sari minta aku tunggu sebentar. Dia masuk kedalam rumah lalu keluar lagi. “Antarin aku ke rumah mak tuo (bude)”, katanya.“Kemarin maktuo nitip kunci karena rumahnya kosong dua hari. Di titip untuk sore menyalakan beberapa lampu dan paginya dimatikan.”, Sari menjelaskan
Aku mengantarnya ke rumah maktuo, lalu Sari segera masuk ke rumah untuk menyalakan lampu. “Jar, bantuin menyalakan lampu halaman belakang dan lampu atas ya.”
Setelah menyalakan lampu teras lantai atas, aku turun kembali ke lantai bawah. Aku kaget. Sari menungguku dalam keadaan bugil, dan pintu rumah tertutup
“Di rumah Bu Neni tadi, aku belum selesai mengucapkan terimakasih, buat cowok yang aku suka”, kata Sari tersenyum
“Sari..”, aku coba meyakinkan apa yang dia lakukan, “tadi sudah cukup”
“Please..”, Sari sedikit merengek, dia mendekatiku “tadi kan kita sama2 belum selesai.
Tubuhnya pendek sedadaku tapi badannya sintal, kulit mulus, susunya besar dengan putting coklat mendongak, dan bibir vagina tebal dengan bulu yang cukup lebat. Didekati dan dipeluk Sari yang bugil membuatku terangsang. Aku mencium kepalanya yang menempel di dadaku. Sari memandangku. Dia tersenyum.
Maka mulailah Sari beraksi. Pakaianku dicopoti semua hingga aku bugil. Dia menciumi seluruh dada dan perutku lalu memegang penis dan menciuminya. Dari pangkal buah zakar hingga ujung penis. Lalu mengemutnya dengan lahap. Penisku menegang dan Sari merasa senang.
Sari berdiri meraih pundakku menurunkan mukaku hingga sedadanya. Dia memintaku menciumi susunya. Terasa susu yang sudah matang dan kenyal. Sari menekan lagi pundakku sehingga wajahku berhadapan dengan vagina yang tertutup bulu jembut yang hitam keriting dan tebal. Aku menciumi vagina lebat itu. Sari meregangkan kaki, sehingga sedikit terbuka vaginanya. Kujilati vagina itu, Sari mendesah kencang.
Sari mendorong pundakku sehingga aku rebah terlentang. Sekali lagi dia mencium dada, perut dan penisku. Lalu dia beranjak ke meja dan mengambil sesuatu.
“Sekarang pakai kondom ya..” , katanya sambil mempersiapkan kondom untuk dipasang di penisku.
“Kalau ucapan terimakasih tidak boleh ditutup2i. Jangan pakai kondom”, kataku. Sari tampak ragu. Aku ambil kondom ditangannya, lalu kubuang. Sari menarik napas dalam.
Lalu dia mengambil posisi diatas penisku yang tegak. Dan blesssssss.. perlahan vaginanya menelan penisku. Dia terus menekan sampai mentok. Walaupun tubuhnya pendek, tapi vaginanya cukup dalam. Sari menarik napas lagi. Lalu mulai mengayun, satu tekanan, diam sesaat, lalu mengayun dan menekan lagi.
Sari mendiamkan penisku dalam vaginanya. Matanya memandang kearah kondom yang kubuang. Dia menarik napas lagi. Memandangku dan tersenyum. Lalu.. cleps, cleps, cleps.. dia menaik turunkan pantatnya, membuat penisku keluar dan masuk vaginanya berulang-ulang. Kepalanya mendangak ke atas dan mulutnya bersuara tidak menentu. Semakin lama Sari mempercepat ayunan dan goyangannya.
Setelah lama bergoyang, Sari merebahkan diri disampingku, dan meminta aku untuk menindihnya. Aku sempatkan menciumi susunya lalu mencium bibirnya. Sari menggenggam penisku dan diarahkan ke vaginanya. Aku menekan dan bless.. penisku masuk ke vaginanya hingga dasar. Sari menggoyangkan pantatnya meminta aku untuk memompa. Maka kuayunkan pantatku sehingga penisku kembali menghunjam dasar vaginanya berkali2.
Wajah Sari yang segar, terlihat sangat menikmati dan bergairah. Sesekali erangannya terdengar mmphh…, Aku tak tahu berapa kali aku menghunjam, berapa lama aku menggenjot, tetapi Sari sepertinya masih belum mau memuncak.
“Sari, aku mau keluarr..”, kataku. Sari menggoyangkan pantatnya seirama genjotanku dan coba mencapai orgasmenya. Aku tak tahan, dan akhirnya penisku memuntahkan mani yang ada di dalamnya. Saripun mencapai orgasmenya. Dia segera membalikkan posisi sehingga aku berada di bawah dan dia diatas. Lalu segera mengeluarkan penisku dari dalam vaginanya. Lalu membiarkan mani yang berada didalam vagina mengalir keluar.
Dia tersenyum melihat penisku penuh dengan mani. Lalu segera ke kamar mandi membersihkan diri. Dari kamar mandi dia memanggilku untuk mandi bersama. Kami saling menyabuni dan membilas. Sari terus tersenyum.
“Kamu terlihat bahagia”, kataku
“Ya, hari ini aku terbebas dari ancaman dikeluarkan dari sekolah. Hari ini aku dapat kesempatan berduaan dengan cowok yang kusuka. Hari ini… aku merasakan gesekan kontol tanpa kondom di memekku... Hari ini aku merasakan hangatnya mani yang keluar di dalam memekku..”, katanya riang.
“Tapi aku sangat sayang dan cinta sama Wandi”, masih dengan senyum yang lebar, Sari teringat pacarnya Wandi.. Lalu dahinya sedikit mengernyit, dan terucap kalimat datar, “Tapi aku akan berhenti dulu berhubungan seks dengan Wandi”.
“Kenapa?”, tanyaku
“Pertama karena aku masih ingin lulus SMA dan tidak mau di dikeluarkan dari sekolah gara2 kepergok seks. Wandi juga ingin selesaikan sekolahnya. Kami berdua harus sukses”, katanya semangat.
“Alasan kedua?”, tanyaku
“Kedua, kalau nanti aku positif hamil, karena aku tidak seks lagi dan seks terakhir dengan kamu hari ini, itu berarti anakmu Jar. Tapi aku tak mau hamil dulu”, katanya sambil menepuk penisku. O.. o..
Seminggu kemudian Sari memberi kode padaku bahwa dia sedang mens, berarti dia tidak hamil. Aku lega.
Setelah kejadian itu persahabatan kami berjalan semakin baik dan kami banyak saling membantu. Akhirnya Sari menjadi perawat dan Wandi membuka toko kelontong yang cukup sukses.
.
Jumat, 24 April 2009
Gadis Rimba
Liburan kenaikan kelas tiga adalah saat darmawisata. Masing2 kelas menentukan tujuan darmawisata. Kelasku mendapat jatah darmawisata cukup jauh, ke Perkebunan Teh di Kaki Gunung Kerinci. Sebulan sebelumnya Kami melakukan survey untuk tempat menginap dan lokasi kunjungan, baik ke pabrik maupun wisata alam. Hari Sabtu kami berlima izin tidak masuk sekolah dan bergerak menuju lokasi. Kami dipimpin ketua kelasYudi, wakil ketua kelas Reni, bendahara Yuni, seksi acara Arman dan aku seksi perlengkapan. Kami kesana menggunakan Jimny nya Yuni, bendahara kelas.
Perjalanan mendaki gunung yang masih berupa hutan. Ditengah perjalanan kami mampir di rumah makan untuk istirahat dan makan, lumayan setelah berjam2 berlima di mobil kecil. Mobilnya juga harus istirahat. Begitu masuk rumah makan, anak laki, Yudi, Arman dan aku memilih untuk rebahan di dipan meluruskan kaki. Sedangkan Reni dan Yuni langsung kemeja makan.
Saat rebahan, aku mendengar suara air mengalir. Kata uda (abang) rumah makan memang ada sungai di bawah. Tidak jauh. Aku mengikuti jalan setapak menuruni bukit hingga ke tepi sungai. Melihat segarnya sungai dan panasnya udara, aku ingin sekali menceburkan diri. Aku berjalan menyusur tepi sungai mencari tempat agak jauh dan terlindung untuk mandi di sungai. Lalu bugil dan byurr.. aku menceburkan diri ke sungai.
Aku menyelam dan berenang di tepi sungai. Saat melihat ke tepi, aku tak melihat pakaianku ditepi sungai. Ternyata aku terbawa arus sungai dan makin menjauh. Tiba2 terdengar keciplak kecipluk air, rupanya ada yang mandi di sungai juga. Aku menghampiri. Ternyata ada dua wanita sedang mandi. Mereka kaget dan segera menepi dan mengambil kain handuk untuk menutupi tubuh bugilnya.
Aku jelaskan bahwa aku pengunjung rumah makan dan sedang mandi lalu terbawa arus. Ternyata mereka adalah ibu dan anaknya penduduk local. Mereka menganjurkan aku untuk kembali lewat tepi sungai daripada berenang lalu terbawa arus lagi. Karena mereka tidak punya kain lagi, mau tidak mau aku naik ke tepi dalam keadaan bugil. Tepi sungai tidak bisa dilalui, harus agak naik ke darat berliku2. Si ibu mau mengantarkan aku dan minta anaknya menunggu.
Aku berjalan dibelakang ibu sambil menutupi penisku, takut kena duri pohon. Tidak ada jalan setapak, dan jalannya naik turun. Disalah satu jalan turun aku terpeleset dan menimpa ibu yang ada didepanku. Kami bertindihan, kain ibu tersingkap dan penisku menempel disekitar vaginanya. Aku dan si ibu lalu berdiri. Tiba2 si ibu mencopot kainnya sehingga bugil. Aku tidak mengerti maksudnya.
“Menurut adat, kalau perempuan dan laki sudah saling melihat kontol dan memek, maka mereka harus kawin”, katanya, “Aku sudah lihat kontolm dan kamu sudah lihat memekku. Jadi aku dan kamu sekarang harus kawin”. Lalu dia menggelar kain dan merebahkan diri di atasnya. Lalu tangannya melambai memanggilku untuk mengawini dia.
Aku tidak mengerti, tapi aku juga tidak kenal daerah ini. Disekelilingku hanya terlihat pohon2 besar. Kalau jalan sendiri, pasti aku tersesat. Memang terdengar suara air sungai, tapi suaranya dari segala penjuru. Aku benar2 tak tahu arah. Jadi kuikuti maunya.
Untuk bisa kawin aku harus terangsang. Maka kuperhatikan tubuh bugilnya. Kulitnya gelap agak kotor. Susunya sudah agakmenggantung, mungkin karena usianya yang dugaanku hampir 40 tahun. Bulu jembutnya lebat keriting, bibir vaginanya tipis berwarna hitam. Tapi bagian dalam vaginanya berwarna merah menyala. Itilnya besar dan terlihat keluar dari bibir vagina.
Melihat itu semua aku mulai terangsang dan penisku ngaceng. Dia senang melihat aku mulai ngaceng dan memanggil lagi. Aku menghampiri dan hendak mencium bibirnya. Dia melarang, jangan cium bibir katanya. Akhirnya aku mencium susunya. Putingnya besar juga hampir sama dengan warna kulitnya. Lalu aku ke bawah untuk mencium vaginanya. Tetapi dilarang juga olehnya, padahal aku ingin mencium itil yang besar itu. Akhirnya hanya tanganku yang memegang dan membelai2 itilnya yang besar.
Sekarang penisku sudah ngaceng penuh, tanpa membuang2 waktu segera aku arahkan ke vaginanya, dan bless .. penisku masuk perlahan. Kutahan penisku didalam, tapi dia menyuruhku untuk menggoyangkan dengan cepat. Aku ikuti perintahnya dan kugenjot dengan cepat. Aku merasakan nikmat tiada tara. Kurasakan vaginanya menjepit kuat penisku. Terus kugenjot dan dia mengerang keras “aaaahhhh..”
Aku masih menggenjot, tapi dia menahan dan segera mengeluarkan penisku dari vaginanya. Lalu berdiri, memakai kain lagi menutupi susu dan vaginanya, dan akhirnya mengajakku jalan lagi.”Ayo Pik, jalan”, katanya.
“Aku bukan Pik”, kataku.
“Itu panggilan untuk putriku, Upik. Dia melihat kita dari balik semak”, katanya.
Dan betul, Upik keluar dari persembunyiannya dan ikut berjalan. Karena penisku masih ngaceng aku tidak bisa menutupi. Dan Upik melihat terus ke penisku. Ibunya melihat perilaku Upik. Ternyata tidak sampai seratus langkah sudah sampai ditepi sungai. Dan kulihat pakaianku tidak jauh dari situ.
Karena badanku gatal tergesek2 daun dan batang pohon, aku segera menceburkan diri di pinggir sungai, tidak berani ketengah lagi takut terbawa arus. Upik masih terus berusaha melihat penisku dan ibunya melihat tingkah Upik. Si ibu menghampiriku dan bertanya, “Kamu sudah pernah lihat memek Upik?”
Pertanyaan ini tentu dikaitkan lagi dengan adat. Kalau pernah melihat berarti aku harus kawin dengan Upik. Aku melihat Upik, dia tersenyum. Cantik juga walau kulitnya hitam. Kuperkirakan umurnya 15 tahun. Walau tertutup kaiin, tapi posturnya langsing atletis. Kulihat penisku masih agak ngaceng. Muncullah niatku untuk memenuhi kebutuhan biologis si penis.
“Tadi memek Upik terlihat waktu dia naik ke tepi mau pakai kain. Bulu jembutnya masih sedikit”, aku menebak untung2an.
Si Ibu tersenyum lalu memanggil Upik. Si Ibu membisiki Upik, lalu Upik mencopot kainnya hingga bugil. Betul dugaanku, susunya padat mendongak , vaginanya terlihat tebal dengan bulu jembut yang masih halaus. Upik menghampiriku di dalam sungai. Dia memelukku sebentar lalu meraih penisku dan di elus2.
Aku membalas dengan meraba2 dan meremas2 susunya. Tanganku juga mencoba menyentuh vaginanya yang ada di dalam air sungai. Merasakan tebalnya bibir vagina. Terasa juga itil yang besar, sama seperti ibunya. Dia merangkulkan tangannya ke leherku. Kucium bibirnya dan dia tidak melarang. Kulihat ibunya juga tidak melarang. Aneh.
Lalu aku menyelipkan penis keselangkangannya dan menggesek2kan ke vaginanya. Melihat ini, ibunya memanggil2Upik, dia menunjukk ke batu besar di sungai. Upik mengikuti perintah ibunya menuju batu besar sambil menggandengku lalu terlentang di batu besar itu. Ahh benar2 pemandangan alam yang indah. Kulihat jelas , dibalik pahanya yang merapat, ada vagina dengan bibir tebal yang mulai merekah karena terangsang.
Aku membuka kakinya yang rapat sehingga vagina indah itu jadi terlihat dengan jelas. Dan itil yang besar itu menyembul keluar disela2 bibir vagina. Kuhampiri vagina itu, kucium. Aku melihat ke ibunya, dia diam tidak melarang. Maka kulanjutkan dengan menjilati bibir vagina, lubang kemaluan, lalu itilnya yang besar itu.
“aaahhhh.. aaahhh..”, Upik berteriak2 mengejang. Senang juga mendengar suara teriakannya, maka kuteruskan menjilati itil itu. “aaahhh mmm aaahhh..”
Kulihat ibunya memegang vaginanya sendiri. Lalu si ibu menyuruh aku segera mengawini anaknya. Aku berdiri dan mengarahkan penisku ke vagina Upik yang rebah. Pelan2 kutekan. “aahhh..” upik berteriak saat kepala penisku mulai masuk kedalam vaginanya. Kutekan lagi, Upik berteriak lebih kencang. Kutekan lagi dan teriakannya semakin kencang. Kutekan lagi sampai kurasakan ujung penisku membentur dinding dalam vaginanya. Upik berteriak. Dia mengigit bibir dan terlihat matanya berlinang.
Ibunya Upik membuka kain penutup tubuhnya lalu turun kesungai dan menghampiri. Dia memperhatikan penisku yang sudah berada didalam vagina putrinya. Dia tersenyum lalu mencium kening putrinya. Aku juga melihat kearah penisku yang masuk didalam vagina Upik. Terlihat ada darah mengalir keluar dari vaginanya. Darah perawan. Sudah kuduga bahwa Upik masih perawan sehingga tadi aku hati2 memasukkan penisku.
Ibunya menyuruhku untuk menggenjot. Maka kugenjotkan pinggulku dan Upik selalu berteriak mengikuti irama genjotanku. Kalau genjotanku lambat, maka erangannya juga lambat, kalau cepat, irama erangannya juga cepat. Dicampur dengan suara derasnya alran sungai, jadi seperti lagu yang asyiik.
Ibunya naik ke atas batu besar dan duduk. Kakinya mengangkang dan dia menyuruhku untuk mencium vaginanya. Sambil penisku terus menghunjam, aku menciumi dan menjilati vaginanya. Saat itilnya terjilat si ibu berteriak. Rame juga, ada suara air, suara teriakan Upik dan suara erangan ibunya.
Akhirnya Upik mengejang2 memeluk dan terasa mencakar punggungku. Lalu ibunya juga mengerang panjang. Aku terus menggenjot sampai tak tahan lagi, penisku menyemprot mani ke dalam vagina Upik. Lalu lemas memeluk dan menciumi Upik.
Setelah terasa penisku sudah loyo, aku mencabutnya dari vagina Upik. Upik duduk dibatu, dan kulihat semakin banyak darah yang keluar dari vaginanya. Juga air maniku keluar dari vaginanya. Darah itu menelusuri batu lalu turun kesungai dan hanyut terbawa derasnya air sungai. Kusiram sisa darah dan mani di batu, lalu semua meluncur mengikuti arus sungai.
Upik turun dari batu, ibunya juga. Lalu mereka berendam dan menyelam membersihkan diri dan vaginanya.
Lalu mereka berpamitan sambil tersenyum. Kupandangi kepergian mereka. Upik berjalan dengan tertatih2 karena selangkangannya masih sakit. Lalu mereka menghilang dibalik lebatnya pohon. Aku kedarat dan mengeringkan badan lalu berpakaian. Dan segera kembali ke rumah makan mengikuti jalan setapak.
“Dari mana saja kamu, lama banget, tadi dicari ke sungai kamu nggak ada. Kami jadi khawatir”, kata Yudi.
“Paling2 dia dibawa suara2 gadis rimba penjaga sungai”, Uda rumah makan bercerita bahwa kalau orang2 sekitar sini turun ke sungai, suka mendengar suara beberapa wanita bermain air di sungai itu. Tapi tak ada yang pernah melihat mereka. Mereka menyebutnya sebagai suara gadis rimba penjaga sungai. ku kaget
“Iya Jar, kamu dibawa gadis rimba penunggu sungai?”, tanya Yuni
“Nggak kok aku cuma berenang keseberang. Ngumpet karena malu takut kelihatan. Terus balik lagi.” Kataku.
“Oke. Syukur kamu sudah balik. Karena waktunya sempit kita harus segera berangkat. Kamu makan nasi bungkus di mobil saja ya.”, kata Yudi sambil menepuk punggungku.
“Aww”, punggungku terasa sakit. Aku menyingkap baju untuk melihat punggungku. Ada luka gores. Uda segera memberi obat merah. Kulihat dicermin memang ada luka gores. Ah ini luka gores cakaran Upik saat orgasme.
“tadi waktu mandi kena batang pohon”, kataku. Yuni menatapku curiga. Aku mengangkat bahu.
Lalu kami melanjutkan perjalanan ke kebun teh untuk survey darmawisata dan aku makan nasi bungkus di mobil dengan lahap..
Perjalanan mendaki gunung yang masih berupa hutan. Ditengah perjalanan kami mampir di rumah makan untuk istirahat dan makan, lumayan setelah berjam2 berlima di mobil kecil. Mobilnya juga harus istirahat. Begitu masuk rumah makan, anak laki, Yudi, Arman dan aku memilih untuk rebahan di dipan meluruskan kaki. Sedangkan Reni dan Yuni langsung kemeja makan.
Saat rebahan, aku mendengar suara air mengalir. Kata uda (abang) rumah makan memang ada sungai di bawah. Tidak jauh. Aku mengikuti jalan setapak menuruni bukit hingga ke tepi sungai. Melihat segarnya sungai dan panasnya udara, aku ingin sekali menceburkan diri. Aku berjalan menyusur tepi sungai mencari tempat agak jauh dan terlindung untuk mandi di sungai. Lalu bugil dan byurr.. aku menceburkan diri ke sungai.
Aku menyelam dan berenang di tepi sungai. Saat melihat ke tepi, aku tak melihat pakaianku ditepi sungai. Ternyata aku terbawa arus sungai dan makin menjauh. Tiba2 terdengar keciplak kecipluk air, rupanya ada yang mandi di sungai juga. Aku menghampiri. Ternyata ada dua wanita sedang mandi. Mereka kaget dan segera menepi dan mengambil kain handuk untuk menutupi tubuh bugilnya.
Aku jelaskan bahwa aku pengunjung rumah makan dan sedang mandi lalu terbawa arus. Ternyata mereka adalah ibu dan anaknya penduduk local. Mereka menganjurkan aku untuk kembali lewat tepi sungai daripada berenang lalu terbawa arus lagi. Karena mereka tidak punya kain lagi, mau tidak mau aku naik ke tepi dalam keadaan bugil. Tepi sungai tidak bisa dilalui, harus agak naik ke darat berliku2. Si ibu mau mengantarkan aku dan minta anaknya menunggu.
Aku berjalan dibelakang ibu sambil menutupi penisku, takut kena duri pohon. Tidak ada jalan setapak, dan jalannya naik turun. Disalah satu jalan turun aku terpeleset dan menimpa ibu yang ada didepanku. Kami bertindihan, kain ibu tersingkap dan penisku menempel disekitar vaginanya. Aku dan si ibu lalu berdiri. Tiba2 si ibu mencopot kainnya sehingga bugil. Aku tidak mengerti maksudnya.
“Menurut adat, kalau perempuan dan laki sudah saling melihat kontol dan memek, maka mereka harus kawin”, katanya, “Aku sudah lihat kontolm dan kamu sudah lihat memekku. Jadi aku dan kamu sekarang harus kawin”. Lalu dia menggelar kain dan merebahkan diri di atasnya. Lalu tangannya melambai memanggilku untuk mengawini dia.
Aku tidak mengerti, tapi aku juga tidak kenal daerah ini. Disekelilingku hanya terlihat pohon2 besar. Kalau jalan sendiri, pasti aku tersesat. Memang terdengar suara air sungai, tapi suaranya dari segala penjuru. Aku benar2 tak tahu arah. Jadi kuikuti maunya.
Untuk bisa kawin aku harus terangsang. Maka kuperhatikan tubuh bugilnya. Kulitnya gelap agak kotor. Susunya sudah agakmenggantung, mungkin karena usianya yang dugaanku hampir 40 tahun. Bulu jembutnya lebat keriting, bibir vaginanya tipis berwarna hitam. Tapi bagian dalam vaginanya berwarna merah menyala. Itilnya besar dan terlihat keluar dari bibir vagina.
Melihat itu semua aku mulai terangsang dan penisku ngaceng. Dia senang melihat aku mulai ngaceng dan memanggil lagi. Aku menghampiri dan hendak mencium bibirnya. Dia melarang, jangan cium bibir katanya. Akhirnya aku mencium susunya. Putingnya besar juga hampir sama dengan warna kulitnya. Lalu aku ke bawah untuk mencium vaginanya. Tetapi dilarang juga olehnya, padahal aku ingin mencium itil yang besar itu. Akhirnya hanya tanganku yang memegang dan membelai2 itilnya yang besar.
Sekarang penisku sudah ngaceng penuh, tanpa membuang2 waktu segera aku arahkan ke vaginanya, dan bless .. penisku masuk perlahan. Kutahan penisku didalam, tapi dia menyuruhku untuk menggoyangkan dengan cepat. Aku ikuti perintahnya dan kugenjot dengan cepat. Aku merasakan nikmat tiada tara. Kurasakan vaginanya menjepit kuat penisku. Terus kugenjot dan dia mengerang keras “aaaahhhh..”
Aku masih menggenjot, tapi dia menahan dan segera mengeluarkan penisku dari vaginanya. Lalu berdiri, memakai kain lagi menutupi susu dan vaginanya, dan akhirnya mengajakku jalan lagi.”Ayo Pik, jalan”, katanya.
“Aku bukan Pik”, kataku.
“Itu panggilan untuk putriku, Upik. Dia melihat kita dari balik semak”, katanya.
Dan betul, Upik keluar dari persembunyiannya dan ikut berjalan. Karena penisku masih ngaceng aku tidak bisa menutupi. Dan Upik melihat terus ke penisku. Ibunya melihat perilaku Upik. Ternyata tidak sampai seratus langkah sudah sampai ditepi sungai. Dan kulihat pakaianku tidak jauh dari situ.
Karena badanku gatal tergesek2 daun dan batang pohon, aku segera menceburkan diri di pinggir sungai, tidak berani ketengah lagi takut terbawa arus. Upik masih terus berusaha melihat penisku dan ibunya melihat tingkah Upik. Si ibu menghampiriku dan bertanya, “Kamu sudah pernah lihat memek Upik?”
Pertanyaan ini tentu dikaitkan lagi dengan adat. Kalau pernah melihat berarti aku harus kawin dengan Upik. Aku melihat Upik, dia tersenyum. Cantik juga walau kulitnya hitam. Kuperkirakan umurnya 15 tahun. Walau tertutup kaiin, tapi posturnya langsing atletis. Kulihat penisku masih agak ngaceng. Muncullah niatku untuk memenuhi kebutuhan biologis si penis.
“Tadi memek Upik terlihat waktu dia naik ke tepi mau pakai kain. Bulu jembutnya masih sedikit”, aku menebak untung2an.
Si Ibu tersenyum lalu memanggil Upik. Si Ibu membisiki Upik, lalu Upik mencopot kainnya hingga bugil. Betul dugaanku, susunya padat mendongak , vaginanya terlihat tebal dengan bulu jembut yang masih halaus. Upik menghampiriku di dalam sungai. Dia memelukku sebentar lalu meraih penisku dan di elus2.
Aku membalas dengan meraba2 dan meremas2 susunya. Tanganku juga mencoba menyentuh vaginanya yang ada di dalam air sungai. Merasakan tebalnya bibir vagina. Terasa juga itil yang besar, sama seperti ibunya. Dia merangkulkan tangannya ke leherku. Kucium bibirnya dan dia tidak melarang. Kulihat ibunya juga tidak melarang. Aneh.
Lalu aku menyelipkan penis keselangkangannya dan menggesek2kan ke vaginanya. Melihat ini, ibunya memanggil2Upik, dia menunjukk ke batu besar di sungai. Upik mengikuti perintah ibunya menuju batu besar sambil menggandengku lalu terlentang di batu besar itu. Ahh benar2 pemandangan alam yang indah. Kulihat jelas , dibalik pahanya yang merapat, ada vagina dengan bibir tebal yang mulai merekah karena terangsang.
Aku membuka kakinya yang rapat sehingga vagina indah itu jadi terlihat dengan jelas. Dan itil yang besar itu menyembul keluar disela2 bibir vagina. Kuhampiri vagina itu, kucium. Aku melihat ke ibunya, dia diam tidak melarang. Maka kulanjutkan dengan menjilati bibir vagina, lubang kemaluan, lalu itilnya yang besar itu.
“aaahhhh.. aaahhh..”, Upik berteriak2 mengejang. Senang juga mendengar suara teriakannya, maka kuteruskan menjilati itil itu. “aaahhh mmm aaahhh..”
Kulihat ibunya memegang vaginanya sendiri. Lalu si ibu menyuruh aku segera mengawini anaknya. Aku berdiri dan mengarahkan penisku ke vagina Upik yang rebah. Pelan2 kutekan. “aahhh..” upik berteriak saat kepala penisku mulai masuk kedalam vaginanya. Kutekan lagi, Upik berteriak lebih kencang. Kutekan lagi dan teriakannya semakin kencang. Kutekan lagi sampai kurasakan ujung penisku membentur dinding dalam vaginanya. Upik berteriak. Dia mengigit bibir dan terlihat matanya berlinang.
Ibunya Upik membuka kain penutup tubuhnya lalu turun kesungai dan menghampiri. Dia memperhatikan penisku yang sudah berada didalam vagina putrinya. Dia tersenyum lalu mencium kening putrinya. Aku juga melihat kearah penisku yang masuk didalam vagina Upik. Terlihat ada darah mengalir keluar dari vaginanya. Darah perawan. Sudah kuduga bahwa Upik masih perawan sehingga tadi aku hati2 memasukkan penisku.
Ibunya menyuruhku untuk menggenjot. Maka kugenjotkan pinggulku dan Upik selalu berteriak mengikuti irama genjotanku. Kalau genjotanku lambat, maka erangannya juga lambat, kalau cepat, irama erangannya juga cepat. Dicampur dengan suara derasnya alran sungai, jadi seperti lagu yang asyiik.
Ibunya naik ke atas batu besar dan duduk. Kakinya mengangkang dan dia menyuruhku untuk mencium vaginanya. Sambil penisku terus menghunjam, aku menciumi dan menjilati vaginanya. Saat itilnya terjilat si ibu berteriak. Rame juga, ada suara air, suara teriakan Upik dan suara erangan ibunya.
Akhirnya Upik mengejang2 memeluk dan terasa mencakar punggungku. Lalu ibunya juga mengerang panjang. Aku terus menggenjot sampai tak tahan lagi, penisku menyemprot mani ke dalam vagina Upik. Lalu lemas memeluk dan menciumi Upik.
Setelah terasa penisku sudah loyo, aku mencabutnya dari vagina Upik. Upik duduk dibatu, dan kulihat semakin banyak darah yang keluar dari vaginanya. Juga air maniku keluar dari vaginanya. Darah itu menelusuri batu lalu turun kesungai dan hanyut terbawa derasnya air sungai. Kusiram sisa darah dan mani di batu, lalu semua meluncur mengikuti arus sungai.
Upik turun dari batu, ibunya juga. Lalu mereka berendam dan menyelam membersihkan diri dan vaginanya.
Lalu mereka berpamitan sambil tersenyum. Kupandangi kepergian mereka. Upik berjalan dengan tertatih2 karena selangkangannya masih sakit. Lalu mereka menghilang dibalik lebatnya pohon. Aku kedarat dan mengeringkan badan lalu berpakaian. Dan segera kembali ke rumah makan mengikuti jalan setapak.
“Dari mana saja kamu, lama banget, tadi dicari ke sungai kamu nggak ada. Kami jadi khawatir”, kata Yudi.
“Paling2 dia dibawa suara2 gadis rimba penjaga sungai”, Uda rumah makan bercerita bahwa kalau orang2 sekitar sini turun ke sungai, suka mendengar suara beberapa wanita bermain air di sungai itu. Tapi tak ada yang pernah melihat mereka. Mereka menyebutnya sebagai suara gadis rimba penjaga sungai. ku kaget
“Iya Jar, kamu dibawa gadis rimba penunggu sungai?”, tanya Yuni
“Nggak kok aku cuma berenang keseberang. Ngumpet karena malu takut kelihatan. Terus balik lagi.” Kataku.
“Oke. Syukur kamu sudah balik. Karena waktunya sempit kita harus segera berangkat. Kamu makan nasi bungkus di mobil saja ya.”, kata Yudi sambil menepuk punggungku.
“Aww”, punggungku terasa sakit. Aku menyingkap baju untuk melihat punggungku. Ada luka gores. Uda segera memberi obat merah. Kulihat dicermin memang ada luka gores. Ah ini luka gores cakaran Upik saat orgasme.
“tadi waktu mandi kena batang pohon”, kataku. Yuni menatapku curiga. Aku mengangkat bahu.
Lalu kami melanjutkan perjalanan ke kebun teh untuk survey darmawisata dan aku makan nasi bungkus di mobil dengan lahap..
Cinta Terpendam
Kami tiba di lokasi kebun the untuk survey darmawisata agak sore. Karena banyak hal harus di survey dan sebelum siang besok harus kembali ke Padang, kami bagi tugas. Yudi mengurus perizinan serta nama2 pejabat PTP yang akan membimbing kami ke dalam pabrik teh. Arman dan Reni mencari dan menyiapkan tempat menginap dirumah2 milik PTP termasuk kamar mandinya. Aku dan Yuni mengecek tempat berkumpul di dekat danau kecil dan di sekitar air terjun. Sebenarnya aku lebih senang jalan sama Reni daripada Yuni.
Aku dipinjami motor oleh PTP. Kami memutuskan untuk terlebih dahulu meninjau pondok dekat danau ditengah kebun teh. Suasananya nyaman, cocok untuk acara2 dan permainan teman2 sekelas. Walaupun serius mempersiapkan acara dan perlengkapan yang diperlukan nanti, Yuni sekali2 bertindak seperti detektif yang menyelidiki aku.Yuni masih menaruh curiga atas perubahan sikap Bu Neni dan juga kejadian tadi di sungai tadi siang
Aku melihat ada puncak kebun teh yang cukup tinggi. Aku mau kesana dan Yuni ikut. Jalannya melewati celah2 pohon teh. Dari puncak bukit itu terlihat pemandangan yang luas. Kaki gunung Kerincipun terlihat dari situ. Aku sempat memotret secara mozaik keseluruh penjuru kebun teh yang terlihat dari puncak bukit itu.
Kami kembali ke tepi danau dan merancang kembali acara darmawisata ditempat itu. Yuni bekerja dengan serius.
Saat kami akan ke air terjun seorang pemetik teh menyarankan untuk dilanjutkan besok pagi saja, karena sekarang sudah hampir gelap dan jarak air terjun lumayan jauh. Aku kembali ke posko di rumah dekat kantor PTP dan petugas PTP menyarankan hal yang sama. Yudi juga setuju, besok pulang agak siang, karena besok pagi dia ingn melihat aktivitas pabrik yang tadi keburu istirahat. Mumpung belum gelap aku minta antar petugas PTP menunjukkan arah ke air terjun. Aku diantar sampai batas motor, dan petugas menunjukkan jalan setapak kearah air terjun.
Waktu kembali keposko, kami bertemu dengan Arman dan Reni dipinggir jalan. Rupanya motor mereka mogok. Karena sudah mau gelap aku menggonceng Reni ke posko dan petugas PTP membantu Arman menghidupkan motor.
Aku memberitahu Reni bahwa tadi siang kami ke puncak bukit dan dapat melihat pemandangan kesegala arah. Reni sangat ingin ke sana. Motor kuarahkan ke jalan setapak diantara pohon2 teh, lalu kami melanjutkan dengan sedikit jalan kaki menuju puncak bukit. Pemandangan yang indah. Semburat matahari mewarnai mega langit. Lampu2 rumah pemetik teh dan perumahan karyawan mulai dinyalakan. Dilangit ada bulan sabit yang sudah mulai menemani. Reni duduk di sebidang rumput yang sengaja tidak ditanami teh, aku ikut duduk disebelahnya.
“Indah sekali. Romantis”, kata Reni dengan senyum yang merekah.
“Sok tahu. Memangnya Reni sudah punya pacar?”, tanyaku
“Belum sih”, katanya tertawa kecil, “Tapi terbayang kalau suasana dan pemandangan disini romantis sekali”.
“Memangnya kalau cari pacar, tipe cowok idaman Reni seperti apa?”, aku memancing.
“Seperti kamu, Jar. Agak pintar, mandiri, perhatian dan suka membantu teman”, kata Reni sambil tertawa. Aku ge-er.
“ Kalau kamu, cewek idaman seperti apa?”, tanyanya.
“Seperti Reni. Aktif, banyak temannya, berpendirian, dan tak pernah berhenti tersenyum”, kataku
“Gombal”, katanya tersenyum
“Serius”, aku sungguh2.
Aku memang suka sama Reni. Dia anak yang cerdas dan berpendirian. Aku mengenalnya waktu ikutan aktifitas majalah dinding di kelas satu. Saat itu kami beda kelas, tapi di kelas dua ini kami satu kelas. Waktu musim pasang2an atau jodoh2an semester lalu, aku dipasangkan sama dia. Kami malu2 dan belagak acuh. Aku beberapa kali cari alasan untuk kerumahnya. Kurasakan dia senang menyambutku di rumahnya. Namun karena suasana rumahnya cukup ramai, baik keluarga maupun teman2 yang punya urusan dengannya, sehingga aku tak sempat mengutarakan rasa. begitulah, aku pulang dengan tangan hampa.
“Kamu nggak lihat tingkah lakuku selama ini ya?”, aku berusaha menunjukkan keseriusanku tentang rasa suka padanya.
“Aku kan selalu berusaha mengikuti kegiatan yang kamu lakukan. Kamu jadi sekretaris, aku ikut jadi seksi umum. Kamu aktif di majalah dinding, aku ikut. Setiap tugas dari guru dan semua pelajaran, aku berusaha untuk selalu satu kelompok sama kamu”, kataku. Reni tersenyum dan tertawa.
“Kenapa kamu nggak bilang langsung kalau suka sama aku?”, dia bertanya.
“Setiap mau ketemu kamu, aku sudah mempersiapkan diri untuk bilang suka sama kamu. Tapi setiap ketemu kamu selalu dalam keadaan rame. Dan aku juga tahu banyak cowok yang suka sama kamu”, aku memberi alasan.
Tapi memang banyak cowok yang berusaha mendekati Reni. Parasnya cantik, perawakannya cukup tinggi dan langsing, kulitnya putih, orangnya lincah dan selalu tersenyum. Dia bukan anak orang kaya, tetapi pakaiannya selalu bersih dan rapi.
“Memangnya aku artis, banyak yang suka”, Reni terlihat senang.
“Aku tahu, kamu memang berusaha mendekatiku. Sama seperti beberapa cowok lain”, katanya sambil tersenyum sambilmenataplangit.
“Cuma kamu beda dengan yang lain”, sekarang dia menatapku. “kamu tidak overacting.”
“Ada perasaan senang yang berbeda kalau aku dekat dengan kamu. Makanya aku tidak pernah menolak untuk satu kelompok dengan kamu”, Reni tersenyum memandang langit lagi.
“Wah jadi, walaupun belum terucap, selama ini hati kita sudah berpacaran”, kataku.
“Jar..”, Reni menatapku. Aku juga menatapnya. “Sebenarnya aku juga menunggu kamu bilang sesuatu”, katanya.
Aku menatap Reni. Kuraih tangannya dan kugenggam. Lalu terucaplah, “Reni, aku suka kamu. Aku ingin rasa suka ini tumbuh menjadi rasa sayang dan cinta. Maukah kamu jadi pacarku?”
Reni meletakkan gengaman tangan kami di dadanya. Dia tersenyum haru. “Jar.. aku mau..”, katanya. Aku memeluknya dan dia memelukku.
Merasa sudah cukup lama disana, kami kembali menuruni bukit. Pohon2 teh itu setinggi leher kami. Apalagi dijalan setapak yg posisinya lebih rendah, maka pohon teh itu menjadi setinggi kepala kami. Aku menggandeng Reni, sekali2 merangkul pundaknya, dia merangkul pinggangku. Iseng aku mengulurkan sedikit tanganku yang merangkul pundaknya, sehingga jari2ku menyentuh dadanya. Kutekan2 sedikit, Hmm.. susunya terasa kenyal.
“Nakal kamu”, kata Reni menyingkirkan tanganku dari pundaknya
“Lho katanya kita pacaran?”, aku menggoda
“Iya deh..”, kata Reni lalu mengalungkan kembali tanganku dipundaknya
Sambil jalan, rangkulan tanganku kembali memanjang dan meraba2 susu Reni. Kali ini tidak dari luar baju, tapi menyusup dari kerah bajunya, masuk lagi menyusup kebalik bhnya. Meremas dan mendapatkan putting susunya. Reni berhenti.Dia memegang wajahku. Mataku ditatapnya. Aku tersenyum.
“Jar sayang, pacaran itu tidak harus begini”, katanya menasehati. Aku diam. Malu juga ketahuan mata ke ranjang.
Reni tersenyum. “Tapi begini..”, tiba2 dia menarik wajahku dan mencium bibirku.
Lama kami berciuman. Tanganku mulai tak tahan berdiam diri. Aku menggerayangi dadanya. Reni terus asyik menciumku. Bibir kami berpagutan, tapi tanganku beraksi membuka kancing bajunya. Lalu menyingkap bhnya sehingga muncullah dua bukit putih. Kubelai dan kuremas susunya. Reni tetap asyik menciumku sambil sesekali tersenyum.
Aku ingin mencium dan menghisap susunya. Tetapi ditahan oleh Reni, dia ingin kami tetap berciuman. Aku mengikuti kemauannya. Tapi tanganku tidak berhenti bergerilya. Tanganku memegang dan meremas bagian pantatnya. Reni menepuk tanganku. Tak mau kalah, kali ini menuju ke bagian depan celana jin nya. Reni juga menepuk tanganku. Terpaksa tanganku kembali meremas2 susunya.
Setelah napasnya mulai tersengal2 karena gairah. Tanganku kembali menuju celananya. Reni tidak menepuk. Lalu tanganku membuka retsleting dan sedikit memelorotkan hingga pertengahan pahanya. Kubelai2 celana dalamnya, dan kuremas2vagina yang sembunyi dibalik celana dalam itu. Reni terus mencium bibirku, lidahnya menari2 dengan lidahku.
Sambil terus ciuman, aku memelorotkan celanaku. Lalu kubimbing tangan Reni memegang penis yang masih sembunyi dibalik celana dalam. Kugerakkan tangannya membelai2 penisku, dan selanjutnya dia sendiri yang aktif membelai2. Kami terus berciuman dan saling membelai celana dalam. Napas Reni mulai tak beraturan, jantungnya mulai berdegup kencang.
Tanganku bergerilya lagi. Kali ini celana dalamnya kupelorotkan, sehingga dengan mudah tanganku mendapatkan bibir vagina dan bulu2nya. Reni semakin berdegup, dia mulai menggigit2 pelan lidahku. Aku memelorotkan juga celana dalamku sehingga penis ngacengku keluar. Lalu kubimbing lagi tangan Reni memegang penis. Dia membelai2 penisku.
Aku meluruskan penis dan menyelipkannya selangkangan Reni. Reni hanya bisa membuka pahanya sedikit karena masih ada celana di pahanya. Itu cukup bagi penisku untuk menggesek2 vaginanya. Reni juga menggoyang2kan pantatnya maju mundur, menikmati gesekan2.
Dengan celana yang belum dicopot, kami hanya bisa menggesek2an penis dan vagina. Sementara mulut kami tetap berciuman dan tanganku meremas2 kedua susunya. Tangan Reni merangkul pundakku dan terus menggenjot pantatnya. Terasa keringatnya mulai mengucur. Sampai akhirnya Reni mencapai orgasmenya. Dan terjongkok karena lemas. Sementara aku masih berdiri dengan penis masih ngaceng.
“Bandel nih..”, Reni menepuk penisku.
Setelah kami membenahi celana dan pakaian, aku duduk disebelahnya, Reni bersandar didadaku sambil memeluk.
“Aku baru pertama kali orgasme. Ternyata nikmat dan capek”, kata Reni. Aku membelai2 rambutnya.
“Kamu sepertinya sudah pernah dan sudah biasa ya Jar”, Reni memandangku. Aku tidak menjawab dan memeluknya erat.
“Tapi kamu sekarang pacarku. Aku bahagia”, katanya.
Lalu kami kembali ke posko. Arman belum datang juga, rupanya motornya belum bisa dihidupkan. Aku segera berangkat menjemput Arman dan menemukan dia dan pegawai PTP sedang mendorong motornya. Karena sudah mempersiapkan tali, kami menarik motor mogok itu ke posko. Setelah selesai mandi dan makan malam, kami melanjutkan tugas. Arman mengurus motor atau pinjam motor lain. Aku dan Yuni baru besok pagi ke lokasi air terjun. Tinggal Yudi yang ke rumah kepala PTP dan Reni ke tempat penginapan mengecek kondisi malam.
Seharusnya aku dan Yuni ketempat penginapan untuk merancang acara darmawisata di malam hari. Tetapi karena cuma ada satu motor, akhirnya Yudi memutuskan Yuni menemani Yudi ke rumah kepala PTP, sedangkan aku dan Reni yang ke penginapan. Dari posko ke penginapan sekitar 5 km. Disepanjang jalan Reni memelukku dari belakang. Maklum sedang kasmaran.
Penginapan yang ada jumlahnya terbatas, maka sebagian akan menginap di beberapa rumah karyawan atau pemetik teh yang kebetulan tidak ditempati. Jam delapan malam kami sudah menyelesaikan pengecekan dan rencana acara, dan segera kembali ke posko. Belum jauh berjalan, Reni minta kembali ke rumah karyawan karena salah satu catatannya tertinggal disana.
Ternyata catatannya tertinggal dikasur. Reni kembali memukul kasur
“kasurnya tipis”, katanya. Aku merebahkan diri mencoba kasur tipis. Reni memperhatikan. Aku menepuk kasur menyuruhnya mencoba juga. Maka kami tiduran berdua dikasur itu. Kami saling berpandangan. Reni tersenyum, memelukku lalu menciumku.
“Mau lagi ya? Yang di kebun teh tadi belum puas ya?”, aku meledek, dia tersenyum manja.
Mulailah kutindih dia dan menciuminya. Lama kami saling menindih dan melakukan gerakan2 seks. Akhirnya setelah kulihat matanya memejam menikmati ciuman, sambil tetap menindih, aku membuka bajuku dan kubuka juga bajunya. Tak lama dia bantu aku membuka bhnya. Aku memandang susunya. Bentuknya bulat mangkok. Reni malu dilihat dan segera meraih kepalaku ke dadanya. Mau tidak mau kuciumi dengan lahap susu2nya.
Aku beranjak turun dari kasur lalu mencopot dulu celanaku. Karena penisku sudah mulai ngaceng, sekalian kucopot juga celana pendekku hingga bugil. Reni kaget, tertawa dan menutup matanya.
“Aku belum pernah lihat kontol”, katanya tertawa.
Lalu aku berusaha mencopot celananya. Reni menahan tapi akhirnya dia membiarkanku mencopot celana panjangnya. Dia segera mengepitkan pahanya, maka kubelai dan kuciumi pahanya. Dia belum mau aku mencopot celana dalamnya.
Aku yang bugil rebah di samping Reni yang hanya pakai celana dalam. Kami berciuman, dan tanganku membelai dan meremas susunya. Lalu aku menciumi susunya dan tanganku menyusup kebalik celana dalamnya mencari vagina. Reni menggeliat2 tak terarah. Aku mendapatkan itil dan lubang vaginanya, jariku lincah memainkan itil dan permukaan lubang vagina. Reni semakin menggeliat dan tak menentu. Kubantu tangannya untuk mendapatkan penisku. Reni langsung meremas penis dengan keras.
Aku menindihnya dan melakukan gerakan bersetubuh. Reni menggelinjang dan menaik turunkan pantatnya. Tanganku memegang celana dalamnya mencoba untuk memelorotkan dan mencopot, tetapi ditahan Reni. Akhirnya tanpa mencopot celana dalamnya, aku hanya menyingkap celana dalamnya, sehingga vaginanya terlihat.
Sambil terus menindih dan menciumi susu dan bibirnya, kuarahkan dan kutempelkan penisku ke vaginanya. Reni sempat kaget sejenak, tetapi birahinya sudah tidak terbendung. Dia berhenti menggeliat dan menunggu. Aku menekan sedikit penisku hingga kepala penisku masuk ke vaginanya.
“Jar..”, Reni memanggilku. Aku mencium bibirnya lagi. Kutekan sedikit lagi penis sehingga masuk lebih dalam.
“Jaarr..” Reni merasakan ada yang masuk ke vaginanya. Kutekan lagi perlahan.
“Jaaarrr…”, Reni merasa agak sakit. Lalu kutekan hingga ujung penisku merasakan dinding. Kutahan sebentar.
“Jar..”, Reni berlinang air mata. Kutekan dan kurasakan selaput daranya sobek.
“Jaarrr..!”, Reni agak berteriak. Kutekan lagi hingga mentok kedasar vaginanya.
“JJaarr”,, suara Reni bergetar. Dia memandangku.
“Kontolmu sudah masuk, Jar,” Dia berlinang tapi tersenyum, lalu mendekapku erat.
Kuayun pantatku naik turun perlahan. “Aww..aww”, mulanya Reni merasa sakit, tapi selanjutnya “Mmmphh..mmphh..”, terdengar desahan nikmat dari mulutnya. Aku terus menyodoknya.
Aku berguling meletakkan dia diatas tubuhku. Reni tidak mau dan berguling kembali ke posisi dibawah. Akhirnya aku genjot terus sampai Reni mencapai klimaks. Aku belum, tapi tidak ingin mengeluarkan mani, takut Reni hamil. Reni terkulai lemas dan tersenyum.
Setelah terasa penisku loyo, aku mencabutnya dari vagina Reni. Reni bangkit dari tidur dan melihat keselangkangannya. Ada cukup banyak darah perawan mengalir keluar dari vaginanya. Dia melihat di penisku juga banyak darah perawan.
“Jar, kamu sudah mengambil perawanku”, katanya pelan. Aku hanya bisa memeluk dan mencium keningnya.
Tak ada air di kamar mandi, akhirnya kami membersihkan diri menggunakan air aqua yang dibawa.
Selesai berpakaian kami keluar rumah untuk kembali ke posko. Tapi langkah Reni tertahan.
“Kenapa?”, tanyaku.
“Selangkanganku sakit dan pegal”, katanya. Aku segera memeluknya, dan menyuruhnya duduk dulu istirahat.
"Kalau nanti ada yang tanya, bilang saja terpeleset dan kaki jadi agak sakit", aku memberi saran Reni.
Setelah cukup istirahat dan peregangan tubuh, kami segera pulang kembali ke posko.
“Jar, besok pagi kamu survey ke air terjun dengan Yuni ya?”, tanyanya sambil memelukku dari boncengannya.
“Iya, lihat lokasi acara”, kataku
“Jangan macam2 sama Yuni ya..”, Reni mengingatkanku. “Soalnya kelihatannya tadi kamu sudah pengalaman dengan cewek”, katanya pelan.
Aku meremas tangannya. Kupacu motor kembali keposko. Hari ini letih sekali, aku segera tidur lelap.
.
Aku dipinjami motor oleh PTP. Kami memutuskan untuk terlebih dahulu meninjau pondok dekat danau ditengah kebun teh. Suasananya nyaman, cocok untuk acara2 dan permainan teman2 sekelas. Walaupun serius mempersiapkan acara dan perlengkapan yang diperlukan nanti, Yuni sekali2 bertindak seperti detektif yang menyelidiki aku.Yuni masih menaruh curiga atas perubahan sikap Bu Neni dan juga kejadian tadi di sungai tadi siang
Aku melihat ada puncak kebun teh yang cukup tinggi. Aku mau kesana dan Yuni ikut. Jalannya melewati celah2 pohon teh. Dari puncak bukit itu terlihat pemandangan yang luas. Kaki gunung Kerincipun terlihat dari situ. Aku sempat memotret secara mozaik keseluruh penjuru kebun teh yang terlihat dari puncak bukit itu.
Kami kembali ke tepi danau dan merancang kembali acara darmawisata ditempat itu. Yuni bekerja dengan serius.
Saat kami akan ke air terjun seorang pemetik teh menyarankan untuk dilanjutkan besok pagi saja, karena sekarang sudah hampir gelap dan jarak air terjun lumayan jauh. Aku kembali ke posko di rumah dekat kantor PTP dan petugas PTP menyarankan hal yang sama. Yudi juga setuju, besok pulang agak siang, karena besok pagi dia ingn melihat aktivitas pabrik yang tadi keburu istirahat. Mumpung belum gelap aku minta antar petugas PTP menunjukkan arah ke air terjun. Aku diantar sampai batas motor, dan petugas menunjukkan jalan setapak kearah air terjun.
Waktu kembali keposko, kami bertemu dengan Arman dan Reni dipinggir jalan. Rupanya motor mereka mogok. Karena sudah mau gelap aku menggonceng Reni ke posko dan petugas PTP membantu Arman menghidupkan motor.
Aku memberitahu Reni bahwa tadi siang kami ke puncak bukit dan dapat melihat pemandangan kesegala arah. Reni sangat ingin ke sana. Motor kuarahkan ke jalan setapak diantara pohon2 teh, lalu kami melanjutkan dengan sedikit jalan kaki menuju puncak bukit. Pemandangan yang indah. Semburat matahari mewarnai mega langit. Lampu2 rumah pemetik teh dan perumahan karyawan mulai dinyalakan. Dilangit ada bulan sabit yang sudah mulai menemani. Reni duduk di sebidang rumput yang sengaja tidak ditanami teh, aku ikut duduk disebelahnya.
“Indah sekali. Romantis”, kata Reni dengan senyum yang merekah.
“Sok tahu. Memangnya Reni sudah punya pacar?”, tanyaku
“Belum sih”, katanya tertawa kecil, “Tapi terbayang kalau suasana dan pemandangan disini romantis sekali”.
“Memangnya kalau cari pacar, tipe cowok idaman Reni seperti apa?”, aku memancing.
“Seperti kamu, Jar. Agak pintar, mandiri, perhatian dan suka membantu teman”, kata Reni sambil tertawa. Aku ge-er.
“ Kalau kamu, cewek idaman seperti apa?”, tanyanya.
“Seperti Reni. Aktif, banyak temannya, berpendirian, dan tak pernah berhenti tersenyum”, kataku
“Gombal”, katanya tersenyum
“Serius”, aku sungguh2.
Aku memang suka sama Reni. Dia anak yang cerdas dan berpendirian. Aku mengenalnya waktu ikutan aktifitas majalah dinding di kelas satu. Saat itu kami beda kelas, tapi di kelas dua ini kami satu kelas. Waktu musim pasang2an atau jodoh2an semester lalu, aku dipasangkan sama dia. Kami malu2 dan belagak acuh. Aku beberapa kali cari alasan untuk kerumahnya. Kurasakan dia senang menyambutku di rumahnya. Namun karena suasana rumahnya cukup ramai, baik keluarga maupun teman2 yang punya urusan dengannya, sehingga aku tak sempat mengutarakan rasa. begitulah, aku pulang dengan tangan hampa.
“Kamu nggak lihat tingkah lakuku selama ini ya?”, aku berusaha menunjukkan keseriusanku tentang rasa suka padanya.
“Aku kan selalu berusaha mengikuti kegiatan yang kamu lakukan. Kamu jadi sekretaris, aku ikut jadi seksi umum. Kamu aktif di majalah dinding, aku ikut. Setiap tugas dari guru dan semua pelajaran, aku berusaha untuk selalu satu kelompok sama kamu”, kataku. Reni tersenyum dan tertawa.
“Kenapa kamu nggak bilang langsung kalau suka sama aku?”, dia bertanya.
“Setiap mau ketemu kamu, aku sudah mempersiapkan diri untuk bilang suka sama kamu. Tapi setiap ketemu kamu selalu dalam keadaan rame. Dan aku juga tahu banyak cowok yang suka sama kamu”, aku memberi alasan.
Tapi memang banyak cowok yang berusaha mendekati Reni. Parasnya cantik, perawakannya cukup tinggi dan langsing, kulitnya putih, orangnya lincah dan selalu tersenyum. Dia bukan anak orang kaya, tetapi pakaiannya selalu bersih dan rapi.
“Memangnya aku artis, banyak yang suka”, Reni terlihat senang.
“Aku tahu, kamu memang berusaha mendekatiku. Sama seperti beberapa cowok lain”, katanya sambil tersenyum sambilmenataplangit.
“Cuma kamu beda dengan yang lain”, sekarang dia menatapku. “kamu tidak overacting.”
“Ada perasaan senang yang berbeda kalau aku dekat dengan kamu. Makanya aku tidak pernah menolak untuk satu kelompok dengan kamu”, Reni tersenyum memandang langit lagi.
“Wah jadi, walaupun belum terucap, selama ini hati kita sudah berpacaran”, kataku.
“Jar..”, Reni menatapku. Aku juga menatapnya. “Sebenarnya aku juga menunggu kamu bilang sesuatu”, katanya.
Aku menatap Reni. Kuraih tangannya dan kugenggam. Lalu terucaplah, “Reni, aku suka kamu. Aku ingin rasa suka ini tumbuh menjadi rasa sayang dan cinta. Maukah kamu jadi pacarku?”
Reni meletakkan gengaman tangan kami di dadanya. Dia tersenyum haru. “Jar.. aku mau..”, katanya. Aku memeluknya dan dia memelukku.
Merasa sudah cukup lama disana, kami kembali menuruni bukit. Pohon2 teh itu setinggi leher kami. Apalagi dijalan setapak yg posisinya lebih rendah, maka pohon teh itu menjadi setinggi kepala kami. Aku menggandeng Reni, sekali2 merangkul pundaknya, dia merangkul pinggangku. Iseng aku mengulurkan sedikit tanganku yang merangkul pundaknya, sehingga jari2ku menyentuh dadanya. Kutekan2 sedikit, Hmm.. susunya terasa kenyal.
“Nakal kamu”, kata Reni menyingkirkan tanganku dari pundaknya
“Lho katanya kita pacaran?”, aku menggoda
“Iya deh..”, kata Reni lalu mengalungkan kembali tanganku dipundaknya
Sambil jalan, rangkulan tanganku kembali memanjang dan meraba2 susu Reni. Kali ini tidak dari luar baju, tapi menyusup dari kerah bajunya, masuk lagi menyusup kebalik bhnya. Meremas dan mendapatkan putting susunya. Reni berhenti.Dia memegang wajahku. Mataku ditatapnya. Aku tersenyum.
“Jar sayang, pacaran itu tidak harus begini”, katanya menasehati. Aku diam. Malu juga ketahuan mata ke ranjang.
Reni tersenyum. “Tapi begini..”, tiba2 dia menarik wajahku dan mencium bibirku.
Lama kami berciuman. Tanganku mulai tak tahan berdiam diri. Aku menggerayangi dadanya. Reni terus asyik menciumku. Bibir kami berpagutan, tapi tanganku beraksi membuka kancing bajunya. Lalu menyingkap bhnya sehingga muncullah dua bukit putih. Kubelai dan kuremas susunya. Reni tetap asyik menciumku sambil sesekali tersenyum.
Aku ingin mencium dan menghisap susunya. Tetapi ditahan oleh Reni, dia ingin kami tetap berciuman. Aku mengikuti kemauannya. Tapi tanganku tidak berhenti bergerilya. Tanganku memegang dan meremas bagian pantatnya. Reni menepuk tanganku. Tak mau kalah, kali ini menuju ke bagian depan celana jin nya. Reni juga menepuk tanganku. Terpaksa tanganku kembali meremas2 susunya.
Setelah napasnya mulai tersengal2 karena gairah. Tanganku kembali menuju celananya. Reni tidak menepuk. Lalu tanganku membuka retsleting dan sedikit memelorotkan hingga pertengahan pahanya. Kubelai2 celana dalamnya, dan kuremas2vagina yang sembunyi dibalik celana dalam itu. Reni terus mencium bibirku, lidahnya menari2 dengan lidahku.
Sambil terus ciuman, aku memelorotkan celanaku. Lalu kubimbing tangan Reni memegang penis yang masih sembunyi dibalik celana dalam. Kugerakkan tangannya membelai2 penisku, dan selanjutnya dia sendiri yang aktif membelai2. Kami terus berciuman dan saling membelai celana dalam. Napas Reni mulai tak beraturan, jantungnya mulai berdegup kencang.
Tanganku bergerilya lagi. Kali ini celana dalamnya kupelorotkan, sehingga dengan mudah tanganku mendapatkan bibir vagina dan bulu2nya. Reni semakin berdegup, dia mulai menggigit2 pelan lidahku. Aku memelorotkan juga celana dalamku sehingga penis ngacengku keluar. Lalu kubimbing lagi tangan Reni memegang penis. Dia membelai2 penisku.
Aku meluruskan penis dan menyelipkannya selangkangan Reni. Reni hanya bisa membuka pahanya sedikit karena masih ada celana di pahanya. Itu cukup bagi penisku untuk menggesek2 vaginanya. Reni juga menggoyang2kan pantatnya maju mundur, menikmati gesekan2.
Dengan celana yang belum dicopot, kami hanya bisa menggesek2an penis dan vagina. Sementara mulut kami tetap berciuman dan tanganku meremas2 kedua susunya. Tangan Reni merangkul pundakku dan terus menggenjot pantatnya. Terasa keringatnya mulai mengucur. Sampai akhirnya Reni mencapai orgasmenya. Dan terjongkok karena lemas. Sementara aku masih berdiri dengan penis masih ngaceng.
“Bandel nih..”, Reni menepuk penisku.
Setelah kami membenahi celana dan pakaian, aku duduk disebelahnya, Reni bersandar didadaku sambil memeluk.
“Aku baru pertama kali orgasme. Ternyata nikmat dan capek”, kata Reni. Aku membelai2 rambutnya.
“Kamu sepertinya sudah pernah dan sudah biasa ya Jar”, Reni memandangku. Aku tidak menjawab dan memeluknya erat.
“Tapi kamu sekarang pacarku. Aku bahagia”, katanya.
Lalu kami kembali ke posko. Arman belum datang juga, rupanya motornya belum bisa dihidupkan. Aku segera berangkat menjemput Arman dan menemukan dia dan pegawai PTP sedang mendorong motornya. Karena sudah mempersiapkan tali, kami menarik motor mogok itu ke posko. Setelah selesai mandi dan makan malam, kami melanjutkan tugas. Arman mengurus motor atau pinjam motor lain. Aku dan Yuni baru besok pagi ke lokasi air terjun. Tinggal Yudi yang ke rumah kepala PTP dan Reni ke tempat penginapan mengecek kondisi malam.
Seharusnya aku dan Yuni ketempat penginapan untuk merancang acara darmawisata di malam hari. Tetapi karena cuma ada satu motor, akhirnya Yudi memutuskan Yuni menemani Yudi ke rumah kepala PTP, sedangkan aku dan Reni yang ke penginapan. Dari posko ke penginapan sekitar 5 km. Disepanjang jalan Reni memelukku dari belakang. Maklum sedang kasmaran.
Penginapan yang ada jumlahnya terbatas, maka sebagian akan menginap di beberapa rumah karyawan atau pemetik teh yang kebetulan tidak ditempati. Jam delapan malam kami sudah menyelesaikan pengecekan dan rencana acara, dan segera kembali ke posko. Belum jauh berjalan, Reni minta kembali ke rumah karyawan karena salah satu catatannya tertinggal disana.
Ternyata catatannya tertinggal dikasur. Reni kembali memukul kasur
“kasurnya tipis”, katanya. Aku merebahkan diri mencoba kasur tipis. Reni memperhatikan. Aku menepuk kasur menyuruhnya mencoba juga. Maka kami tiduran berdua dikasur itu. Kami saling berpandangan. Reni tersenyum, memelukku lalu menciumku.
“Mau lagi ya? Yang di kebun teh tadi belum puas ya?”, aku meledek, dia tersenyum manja.
Mulailah kutindih dia dan menciuminya. Lama kami saling menindih dan melakukan gerakan2 seks. Akhirnya setelah kulihat matanya memejam menikmati ciuman, sambil tetap menindih, aku membuka bajuku dan kubuka juga bajunya. Tak lama dia bantu aku membuka bhnya. Aku memandang susunya. Bentuknya bulat mangkok. Reni malu dilihat dan segera meraih kepalaku ke dadanya. Mau tidak mau kuciumi dengan lahap susu2nya.
Aku beranjak turun dari kasur lalu mencopot dulu celanaku. Karena penisku sudah mulai ngaceng, sekalian kucopot juga celana pendekku hingga bugil. Reni kaget, tertawa dan menutup matanya.
“Aku belum pernah lihat kontol”, katanya tertawa.
Lalu aku berusaha mencopot celananya. Reni menahan tapi akhirnya dia membiarkanku mencopot celana panjangnya. Dia segera mengepitkan pahanya, maka kubelai dan kuciumi pahanya. Dia belum mau aku mencopot celana dalamnya.
Aku yang bugil rebah di samping Reni yang hanya pakai celana dalam. Kami berciuman, dan tanganku membelai dan meremas susunya. Lalu aku menciumi susunya dan tanganku menyusup kebalik celana dalamnya mencari vagina. Reni menggeliat2 tak terarah. Aku mendapatkan itil dan lubang vaginanya, jariku lincah memainkan itil dan permukaan lubang vagina. Reni semakin menggeliat dan tak menentu. Kubantu tangannya untuk mendapatkan penisku. Reni langsung meremas penis dengan keras.
Aku menindihnya dan melakukan gerakan bersetubuh. Reni menggelinjang dan menaik turunkan pantatnya. Tanganku memegang celana dalamnya mencoba untuk memelorotkan dan mencopot, tetapi ditahan Reni. Akhirnya tanpa mencopot celana dalamnya, aku hanya menyingkap celana dalamnya, sehingga vaginanya terlihat.
Sambil terus menindih dan menciumi susu dan bibirnya, kuarahkan dan kutempelkan penisku ke vaginanya. Reni sempat kaget sejenak, tetapi birahinya sudah tidak terbendung. Dia berhenti menggeliat dan menunggu. Aku menekan sedikit penisku hingga kepala penisku masuk ke vaginanya.
“Jar..”, Reni memanggilku. Aku mencium bibirnya lagi. Kutekan sedikit lagi penis sehingga masuk lebih dalam.
“Jaarr..” Reni merasakan ada yang masuk ke vaginanya. Kutekan lagi perlahan.
“Jaaarrr…”, Reni merasa agak sakit. Lalu kutekan hingga ujung penisku merasakan dinding. Kutahan sebentar.
“Jar..”, Reni berlinang air mata. Kutekan dan kurasakan selaput daranya sobek.
“Jaarrr..!”, Reni agak berteriak. Kutekan lagi hingga mentok kedasar vaginanya.
“JJaarr”,, suara Reni bergetar. Dia memandangku.
“Kontolmu sudah masuk, Jar,” Dia berlinang tapi tersenyum, lalu mendekapku erat.
Kuayun pantatku naik turun perlahan. “Aww..aww”, mulanya Reni merasa sakit, tapi selanjutnya “Mmmphh..mmphh..”, terdengar desahan nikmat dari mulutnya. Aku terus menyodoknya.
Aku berguling meletakkan dia diatas tubuhku. Reni tidak mau dan berguling kembali ke posisi dibawah. Akhirnya aku genjot terus sampai Reni mencapai klimaks. Aku belum, tapi tidak ingin mengeluarkan mani, takut Reni hamil. Reni terkulai lemas dan tersenyum.
Setelah terasa penisku loyo, aku mencabutnya dari vagina Reni. Reni bangkit dari tidur dan melihat keselangkangannya. Ada cukup banyak darah perawan mengalir keluar dari vaginanya. Dia melihat di penisku juga banyak darah perawan.
“Jar, kamu sudah mengambil perawanku”, katanya pelan. Aku hanya bisa memeluk dan mencium keningnya.
Tak ada air di kamar mandi, akhirnya kami membersihkan diri menggunakan air aqua yang dibawa.
Selesai berpakaian kami keluar rumah untuk kembali ke posko. Tapi langkah Reni tertahan.
“Kenapa?”, tanyaku.
“Selangkanganku sakit dan pegal”, katanya. Aku segera memeluknya, dan menyuruhnya duduk dulu istirahat.
"Kalau nanti ada yang tanya, bilang saja terpeleset dan kaki jadi agak sakit", aku memberi saran Reni.
Setelah cukup istirahat dan peregangan tubuh, kami segera pulang kembali ke posko.
“Jar, besok pagi kamu survey ke air terjun dengan Yuni ya?”, tanyanya sambil memelukku dari boncengannya.
“Iya, lihat lokasi acara”, kataku
“Jangan macam2 sama Yuni ya..”, Reni mengingatkanku. “Soalnya kelihatannya tadi kamu sudah pengalaman dengan cewek”, katanya pelan.
Aku meremas tangannya. Kupacu motor kembali keposko. Hari ini letih sekali, aku segera tidur lelap.
.
Detektif Membongkar Rahasia
Aku kaget ada yang mengetuk pintu. Kulihat disebelahku Yudi dan Arman masih tidur. Rupanya Yuni membangunkan karena kami harus berangkat lebih pagi untuk survey air terjun. Waktu mau mandi, airnya dingin sekali, maka aku hanya cuci muka, mandinya nanti kalau ada kesempatan di air terjun, atau sekalian nanti siang saja. Jadi aku bawa perlengkapan mandi. Aku membangunkan Yudi dan Arman karena mau berangkat dengan Yuni. Di teras rumah, Reni sudah berdiri, melepas Yuni dan aku dengan senyum khasnya.
Jarak berjalan kaki menuju air terjun tidak terlalu jauh. Dan ternyata air terjunnya sangat indah. Yuni dan aku serius merancang acara yang pas di sekitar air terjun. Menurut rancangan kami, acara di air terjun akan ditutup dengan menyiram wali kelas Bu Neni. Karena ngomongin Bu Neni, Yuni jadi kambuh lagi penyakit detektifnya.
Yuni masih menaruh curiga atas perubahan sikap Bu Neni, setelah aku ke rumah Bu Neni sendiri dengan waktu cukup lama. Menurutnya banyak hal bisa terjadi saat aku lama di rumah Bu Neni. Aku tetap bertahan mengatakan bahwa saat itu Bu Neni banyak menceritakan masa mudanya dan mengharapkan aku berhasil dimasa depanku. Kami saling memberi semangat untuk masa depan. Aku memberi semangat dan yakin bahwa Bu Neni bisa mendapatkan yang lebih baik lagi.
Yuni tetap terlihat belum puas tapi juga tak bisa membantah. Lalu Yuni mengungkit masalah lain. Menurutnya, kemarin aku tidak hanya berenang di sungai. Ia tak percaya aku bisa lupa waktu hanya gara2 berenang. Ia juga menduga luka dipunggungku bukan karena kayu atau batang pohon. Aku bilang bahwa memang aku agak terseret arus karena arusnya deras, aku tantang Yuni untuk mencoba berenang disungai kalau waktu pulang nanti kita mampir lagi dirumah makan itu. Untuk luka dipunggung, aku hanya bilang ada banyak jenis pohon di hutan dan batangnya beda2.
Si detektif Yuni tetap belum puas. Lalu ia mengungkit penyelidikan yang ketiga. Tadi malam Yuni tidur sekamar Reni. Yuni melihat jalannya Reni agak tertatih, walaupun Reni berusaha normal. Yuni menanyakan padaku apa yang terjadi dengan Reni tadi malam. Kujawab bahwa Reni beberapa kali terpeleset, mungkin itu penyebabnya. Yuni bilang dia juga bertanya ke Reni dan Reni menjawab terpeleset dengan posisi kaki terbuka sehingga sakit ke pangkal paha.
Yuni tetap berkeras, “Aku masih tidak percaya lho Jar. Aku masih curiga. Semuanya”.
Tugasku merencanakan perlengkapan di lokasi air terjun sudah selesai. Tinggal Yuni yang masih merancang detail acara, pengelompokan dan waktu. Dia sibuk mengitari area dan mencoret2 di kertas. Daripada bengong, karena belum mandi pagi, aku minta izin ke Yuni untuk mandi di dekat air terjun. Aku menyeberang dan mendapat tempat yang tersembunyi dibalik batu besar yang hanya terlihat dari arah air terjun. Walau sudah mempersiapkan celana pendek, tetapi karena cukup tersembunyi dan sepi dan supaya lebih nyaman, aku mandi bugil saja.
Saat bersabun, diantara gemuruh air terjun, aku mendengar benda jatuh ke air dibalik batu besarku. Sambil berendam aku keluar untuk melihat benda jatuh itu. Ternyata Yuni! Rupanya dia terpeleset saat menyebrangi batu2.
Aku menghampirinya dan menanyakan apakah ada yang terluka atau sakit. Hanya tangan dan kaki dan sedikit dipunggung yang terasa sakit. Aku menuntunnya ke tepi dan melihat tangannya yang sakit. Kulihat matanya bergerak2 agak melotot. Aku takut kepalanya terbentur.
“Kepalamu sakit?”, tanyaku.
“Oh.. ah.. nggak..”, katanya.
“Tadi kulihat matamu bergerak2”, kataku.
“Anu.. Jar.. kamu bugil..”, kata Yuni. Oops, aku baru sadar bahwa aku dalam keadaan bugil. Segera aku mengambil celana pendek dan memakainya. Karena tangan Yuni sedikit berdarah, segera aku kembali keseberang untuk mengambil tas obat, lalu segera mengobati luka di tangannya.
“Kakimu yang sakit dimana?”, tanyaku. Yuni menunjuk kearah kedua lututnya. Karena memakai celana jin ketat, agak sulit melihat dari lintingan bawah, jadi celananya harus dibuka.
“Lihat lukanya ya..”, kataku sambil menyuruh mencopot celana jinnya. Dia ragu sejenak, lalu berusaha membuka celananya, tetapi karena tangannya sakit, ia kesulitan. Akhirnya kubantu untuk mencopot celananya. Terlihat kakinya dipaha dekat lutut agak membiru. Maka segera kukeringkan dengan handukku lalu kuoleskan penghangat di kedua pahanya.
“Sekarang lihat punggungmu”. Yuni menyingkap kaosnya keatas dan memang ada memar sedikit. Setelah kukeringkan dengan handuk, kugosok juga punggunya dengan cream penghangat. Supaya tidak kena baju kaosnya yang basah, aku sarankan Yuni untuk mencopot bajunya. Dia tidak bawa ganti, aku juga cuma bawa tambahan celana pendek untuk mandi, maka baju dan celananya kuperas dan kujemur.
Aku duduk disampingnya.”Kenapa kamu harus kesini, kan bisa teriak, nanti aku yang kembali ke seberang”, tanyaku. Yuni diam saja. Napasnya masih terengah2 dan berusaha menarik napas panjang.
“Kamu sudah selesai surveynya?”, tanyaku. “Sudah”, jawabnya.
“Mau pulang sekarang atau nunggu kakinya agak enak jalan, atau nunggu kering baju dan celana?”, tanyaku. “Nunggu kering saja”, katanya.
“Kalau begitu, sekalian bh dan celana dalamnya di jemur biar tidak masuk angin. Sambil nunggu, kamu bisa pakai baju dan celana pendekku yang satu lagi”, aku mengambil pakaianku dan memberikan padanya. Yuni diam sejenak. Lalu menyuruhku melihat kearah lain saat dia copot bh dan celana dalam. Aku ikuti perintahnya.
Setelah dia berpakaian dan minum sehingga lebih tenang, aku melanjutkan mandi. Gantian aku menyuruhnya melihat kearah lain karena aku akan mencopot celana pendek dan bugil lalu berendam di air. Sayang kalau celana pendekku basah dan Yuni butuh celana pendekku yang satu lagi.
Yuni tertawa, “Ngapain aku harus noleh, tadi kan aku sudah lihat kamu bugil”. Dia tidak mau menoleh dan tetap melihat kearahku. Mau tidak mau aku membelakanginya dan segera mencopot celana lalu nyebur ke air.
Saat mau sabunan, ternyata sabunku ada jauh didarat karena tadi kulempar. Kuminta Yuni untuk mengambil sabun.
“Airnya segar nggak?”, tanya Yuni saat memberi sabun padaku.
“Lho, tadi kan kamu sudah kecebur”, candaku.
“Aku ingin mandi juga”, katanya. “Silahkan, tapi baju dan celana pendekku tidak boleh basah”, kataku.
“Kamu menghadap sana dulu”, katanya. Aku mengikutinya. Dia mencopot baju dan celana, lalu berendam ke air. Aku melihatnya. “Segar kan?”. “Iya.”, jawabnya senang. Kami berkecipak kecipuk di air dekat air terjun.
“Sabunnya mana Jar”, tanya Yuni. Aku melempar sabun ke Yuni. Lalu dia sabunan. Tapi dia kesulitan menyabuni punggung karena tangannya masih sakit. Aku mendekat, “Sini, punggunmu aku sabuni”, kataku dan dia memberikan sabun kepadaku.
“Kalau mau disabuni, berdiri dong, jangan berendam”. Yuni berdiri dan aku menyabuni punggungnya dari belakang. Karena kakinya masih sakit, Yuni terjatuh kebelakang. Aku terlambat menahan sehingga kami jatuh berdua keair, Aku dibawah dan Yuni diatas menimpaku. Untung airnya dangkal. Yuni berbalik merangkak untuk berdiri, tapi kakinya lemah sehingga terjatuh dan menimpaku lagi. Akhirnya aku berusaha membopongnya dan merebahkannya di tepi.
Lalu mengambil handuk untuk mengeringkan seluruh bagian tubuhnya. Dari muka, dada, punggung, pinggang, bokong, selangkangan, paha, betis, tangan dan kaki. Lalu kukenakan kembali baju dan celana pendekku.
“Jar”, katanya. Aku menoleh.”Maaf ya, selama ini kukira kamu maniak seks.. Ternyata waktu aku bugil dan lemah, kamu tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kamu menolong aku dengan tulus tanpa bermaksud mesum”, kata Yuni.
Aku tersenyum. Sebenarnya aku juga sudah terangsang dari tadi. Apalagi saat menyabuni dan saat mengeringkan dengan handuk. Aku melihat dan mengelap susunya yang coklat menantang dan vaginanya yang coklat tertutup jembut yang sudah lebat.
“Kamu sudah punya pacar Jar?”, tanyanya. Aku mengangguk karena mulai tadi malam aku resmi pacaran dengan Reni.
“Berbahagialah pacarmu. Andai aku jadi pacarmu.”, katanya. Aku tersenyum.
Aku memegang baju dan celananya. “Sudah mau kering. Basah sedikit kalau dibawa jalan dan naik motor, bisa kering kena angin”.
Kami berpakaian. Yuni tidak lagi menyuruhku memalingkan muka, tapi membiarkan aku melihatnya bugil. Dan diapun melihatku bugil berganti pakaian.
“Jar, tadi kulihat burungmu kecil, kok sekarang gede?”, tanya Yuni. “terangsang ya?. Kenapa tadi tidak?”, dia bertanya lagi. Aku hanya tersenyum dan memakaikan celana pendekku.
Karena tadi pikiranku hanya menolong Yuni, penisku tidak terangsang. Sekarang aku tidak punya focus pikiran lain. Jadi kalau lihat wanita bugil secara otomatis penisku terangsang.
Yuni yang sedang memakai bh segera berhenti. Dia mencopot kembali bh nya, mencopot celana dan celana dalamnya. Dia bugil. Lalu menghampiriku. Dia menghentikan tanganku yang sedang pakai celana. Mencopot celanaku dan celana dalamku. Kami sama2 berdiri dalam keadaan bugil. Yuni meraih tanganku dan menatapku. Aku diam tetapi penisku semakin ngaceng. Yuni melihatnya dan tersenyum.
“Kamu terangsang melihat aku bugil ya?”, godanya. Aku tidak menjawab.
“Mulutmu tidak menjawab. Tapi burungmu yang menjawab”, katanya tersenyum.
Lalu Yuni merebahkan diri dan menarikku untuk ikut merebahkan diri diatasnya. Dadaku menempel di susunya, penisku menempel di vaginanya.
“Yuni. Aku sudah punya pacar”, kataku dengan posisi menindihnya. Aku teringat Reni yang mengancamku bila bermesum dengan Yuni di survey air terjun ini.
“Aku tahu. Reni kan?”, katanya tersenyum. Aku kaget, dia bisa menebak.
“Walaupun Reni bilang terpeleset, semalam aku lihat ada bercak darah di celana dalamnya” kata Yuni . Dasar detektif, aku jadi tidak bisa berkelit. “Iya, Reni pacarku”, kataku.
Yuni menarik napas dalam. “Aku juga suka sama kamu Jar”, katanya. “Kamu juga suka sama aku kan?”, tanyanya.
“Iya”, aku tak mau mengecewakannya. “Tapi sekarang aku sudah menjadi pacarnya Reni . Aku sayang sama Reni”, kataku. Kulihat Yuni sedikit cemberut. Karena pembicaraan ini, penisku mulai mengendor. Aku hendak berdiri, tapi ditarik lagi oleh Yuni. Dia tersenyum.
“Kalau begitu beri aku pembuktian bahwa dugaanku tentang Bu Neni dan Reni benar”, katanya.
“Maksud kamu?”, tanyaku
“Lakukan padaku apa yang pernah kamu lakukan dengan Bu Neni dan Reni”, katanya. Aku menarik napas.
“Yuni. Kamu masih perawan?”, tanyaku. Yuni mengangguk tersenyum.
“Kalau begitu, perawanmu buat pacarmu saja nanti”, aku menyarankan.
“Kalau sampai tidak tembus perawan, bisa nggak?”, Yuni menawar. Aku diam.
“Atau nanti kulaporkan ke orangtuanya Reni juga ke Bu Neni lho”, Yuni berkata sambil tersenyum.
Aku menatapnya, mengangkat dadaku yang menghimpit susunya, lalu melihat susunya. Lalu mengangkat selangkanganku yang menghimpit selangkangannya, melihat vaginanya dan penisku. Dengan melihat pemandangan ini penisku mulai ngaceng lagi.
“Setengah main saja ya Yun?”, kataku. “Maksudnya?”, tanya Yuni. “Nggak usah dimasukin”, kataku.
“Aku nggak ngerti. Jadi iya saja lah”, kata Yuni senang. Aku juga senang dan sudah sangat terangsang.
Yuni menatapku menunggu. Maka mulailah kucium bibirnya, mungil sekali. Yuni terpejam. Pelan2 aku turun ke lehernya. Lalu turun ke dadanya, mencium dan menghisap satu susu sedangkan susu lain kubelai dan kuremas dengan tanganku. Susunya lebih besar dari susu Reni, putingnya juga. Yuni masih memejamkan matanya dan mulutnya mulai bersuara, “oohh, jar..”
Aku tetap membelai dan meremas kedua susunya dan putingnya dengan kedua tanganku. Sedangkan wajahku mulai turun menciumi perut, bulu jembut . pahanya masih tertutup rapat. Kurenggangkan pahanya sehingga vaginanya terlihat, kubelai bibir vaginanya. “oohh..”, desah Yuni. Jariku mencari itil dan ketemu, walaupun agak kecil dan lebih kecil dari itil Reni, “aaawwwwwhhh ohhh”, Yuni menjerit panjang saat itilnya tersentuh dan kugesek2 dengan jariku.
Lalu kucium vaginanya. “Jar, oohh..”. Kubuka bibir vaginanya dengan jariku, sehingga terlihat jelas itil dan lubang vaginanya yang berwarna merahmuda. Yuni mengepitkan pahanya, lalu kubuka dan kutahan dengan siku tanganku. Lalu kujilati lubang dan itilnya, Yuni meremas rambutku dan memekik keras “aaaaawwwwhhhh aaawwhhhh…”
Lama aku menjilati vaginanya, akhirnya aku merangkak diatasnya. Yuni menatapku dengan pandangan sayu. Dadanya naik turun karena napas dan detak jantung tak beraturan. Aku menciumnya dan meluruskan penisku ke vaginanya, lalu menggesek2kan kevaginanya. “Jar?” Yuni bertanya. “Nggak apa-apa kok Yun”, kataku menenangkan.
Mulailah aku menaikturunkan pantatku menggesek2 penis di vaginanya. “Ooohh Jar ohhh…” desahnya sambil menggelinjang dan menggerak2kan pantatnya
“Yuni..” aku menggenjot sambil bergantian mencium leher, bibir dan susunya.
Kami terus menggenjot dan bergoyang, dan diantara pergumulan kami Yuni berkata, “oohh.. Jar.. hh.. aku.. bisa .. hh .. diatas..?”. “.. boleh..hh”, jawabku. Lalu berguling dan mengangkat tubuhnya menjadi diatasku. Lalu kembali penisku diposisi menggesek vaginanya. Dan mulailah Yuni menaikturunkan pantatnya.
“ohh.. ennaakk bang nget jar.. ohh…”, celotehnya. “..Rheni.. bhelum.. phernahh .. bheghinhi ya..”, katanya lagi. Aku tidak menjawab dan terus memegang pantatnya yang bergoyang dan terus menciumnya.
Cukup lama kami menggenjot sehingga keringat mulai keluar. Lalu Yuni berhenti. Kami bertatapan.
“hh.. jar.., aku.. ingin seperti Reni..”, katanya. “Yuni..”, belum sempat aku selesai berucap, Yuni meluruskan lubang vaginanya ke ujung penisku. Dia menatapku. Napas kami masih tersengal2 karena capek dan gairah.
“Sakit nggak Jar?”, tanya Yuni. “Sakit Yun.. sebaiknya jangan”, kataku mencoba mencegah Yuni memasukkan penisku ke vaginanya. Tapi Yuni tidak peduli, dia menekan sedikit, sehingga kepala penisku mulai masuk ke lubang vaginanya. Lalu diam dan membiarkan kepala penisku mendekam. Kurasa kan sempitnya lubang vagina Yuni, kayaknya lubangnya lebih kecil dari Reni, atau otot lubangnya yang kuat..
“Aww hh..”, Yuni merasakan ada benda yang mulai masuk vaginanya. “Yuni..”, aku mengingatkan sambil membelai rambutnya. Yuni menekan lagi sedikit. ‘aww..hh”, lalu berhenti lagi.
Aku segera mencabut penisku dan menggesek2kan lagi ke vaginanya sambil melumat bibirnya dan meremas susunya. Yuni sempat kecewa tapi karena sedang dalam puncak gairah, dia membalas genjotan. “oohh..ohh..ohh..”. Dan akhirnya Yuni mencapai puncak. “mmmphh..a.. a.. aahhhhhhhhh…”. Lalu terkulai lemas. Aku membiarkannya.
Yuni beranjak dari tubuhku dan langsung menceburkan diri ke air. Dia suruh aku membawa sabun. Kami saling menyabuni. Penisku tegang disabuni, putting susunya Yuni juga mengeras. Mungkin karena terangsang, Yuni memeluk dan menciumku, lalu mendorongku jatuh ke air.
Aku bergeser ke air yang lebih dangkal sehingga dengan sanggahan siku tanganku, kepalaku bisa diatas air, sedangkan seluruh badan dari pundak hingga kakiku berada dibawah air. Yuni kembali menindihku dan menciumku, lalu menggesek2an vaginanya di penisku. Kami mendesah2.
Tiba2 aku merasa kepala penisku bukan menggesek, tetapi masuk ke lubang vagina.
“Yuni!”, aku menegur Yuni, tapi Yuni tak peduli dan terus menekan hingga bless,crot.
“aaaawww..”, Yuni berhenti menekan. ”..saakiitt Jarr”, katanya. Aku bangkit dari rebahku dan duduk memeluk Yuni.
“Sakit Jar, sakit..”, Yuni berlinang air mata. Kami sama2 melihat kebawah. Di dalam air, penisku masih tertancap ke vagina Yuni. Lalu keluarlah darah dari mulut vaginanya. “Jar.. darah..”, katanya. Aku memeluknya lagi dan berbisik “itu darah perawanmu Yuni”.
Yuni mendekapku, “Sakit Jar..”, katanya sedikit menangis. Aku tak bisa berkata apa2 dan hanya bisa memperat pelukan. Kami terdiam.
Kucoba menggoyangkan pantatku untuk membangkitkan rasa nikmat. Dan tak lama Yuni juga menggoyang2kan pantatnya. Pelan2 kami saling bergoyang dan semakin lama semakin cepat. Kami saling mendesah dan mengerang. Hingga akhirnya Yuni kembali mengerang panjang dan lemas.
Aku merebahkannya diair dangkal dan meneruskan menancapkan penis kevagina berulang2. Sampai akupun tak tahan dan kumuncratkan mani diluar vaginanya, tapi masih di dalam air. Yuni segera duduk untuk melihat. Air maniku keluar dari kepala penisku lalu bergerak2 sesuai gelombang air. Yuni memelukku senang.
Setelah istirahat sejenak, kami kembali dan aku setengah membopong Yuni karena dia kesulitan berjalan. Selain karena terjatuh juga karena selangkangannya masih sakit setelah berhubungan seks. Di perjalanan setapak menuju tempat parkir motor, kami bertemu dengan Arman dan Reni. Mereka sudah selesai, dan karena kami belum kembali ke posko, Reni usul agar mereka menyusulku. Melihat Yuni yang jalan terpincang2 dengan luka ditangan, Arman segera datang dan membantuku membopong Yuni.
Sesampai di posko, sambil menunggu Yudi, Reni mengajakku belanja oleh2 ke pasar terdekat, sedangkan Arman menjaga Yuni. Saat kami berjalan pergi, kulihat Reni dan Yuni saling berpandangan penuh arti.
“Jar, Yuni kamu apain?” sambil belanja Reni menanyaiku. “Dia terjatuh waktu nyebrang batu di air”, jawabku.
“Kenapa harus di air? Kan acaranya di darat”, Reni terus menyelidik. “takut ada yang ingin nyebur air, kami cek apakah ada tempat yang dalam atau berbahaya”, jawabku.
Reni mencubit lenganku dengan keras. “Aww!”, aku kaget.
“Kamu pacarku. Dan aku tidak suka pacar yang bohong!”, katanya dengan gemas dan suara ditahan karena takut terdengar di keramaian pasar.
“Iya iya, nanti aku cerita sejujurnya”, kataku.
“Jujur ya!”, Reni mengepalkan tinjunya.
Kami pulang kembali ke Padang. Di mobil Jimny yang sempit itu aku duduk dibelakang dengan Reni. Yuni juga memilih duduk dibelakang bertiga. Tapi Yuni tidak mau Reni ditengah, dia memilih duduk di tepi sehingga aku berada ditengah2 mereka. Reni kesel, tapi dia ingin merahasiakan dulu pacaran kami.
“Wah, asyik nih diapit dua cewek”, Yudi dan Arman menggoda kami. Apalagi ketika Yuni dan Reni tertidur, atau pura2 tidur?, kepala mereka rebah ke pundakku. “Gantian dong Jar”, kata Yudi dan Arman.
Tentu saja aku tidak mau.
.
Jarak berjalan kaki menuju air terjun tidak terlalu jauh. Dan ternyata air terjunnya sangat indah. Yuni dan aku serius merancang acara yang pas di sekitar air terjun. Menurut rancangan kami, acara di air terjun akan ditutup dengan menyiram wali kelas Bu Neni. Karena ngomongin Bu Neni, Yuni jadi kambuh lagi penyakit detektifnya.
Yuni masih menaruh curiga atas perubahan sikap Bu Neni, setelah aku ke rumah Bu Neni sendiri dengan waktu cukup lama. Menurutnya banyak hal bisa terjadi saat aku lama di rumah Bu Neni. Aku tetap bertahan mengatakan bahwa saat itu Bu Neni banyak menceritakan masa mudanya dan mengharapkan aku berhasil dimasa depanku. Kami saling memberi semangat untuk masa depan. Aku memberi semangat dan yakin bahwa Bu Neni bisa mendapatkan yang lebih baik lagi.
Yuni tetap terlihat belum puas tapi juga tak bisa membantah. Lalu Yuni mengungkit masalah lain. Menurutnya, kemarin aku tidak hanya berenang di sungai. Ia tak percaya aku bisa lupa waktu hanya gara2 berenang. Ia juga menduga luka dipunggungku bukan karena kayu atau batang pohon. Aku bilang bahwa memang aku agak terseret arus karena arusnya deras, aku tantang Yuni untuk mencoba berenang disungai kalau waktu pulang nanti kita mampir lagi dirumah makan itu. Untuk luka dipunggung, aku hanya bilang ada banyak jenis pohon di hutan dan batangnya beda2.
Si detektif Yuni tetap belum puas. Lalu ia mengungkit penyelidikan yang ketiga. Tadi malam Yuni tidur sekamar Reni. Yuni melihat jalannya Reni agak tertatih, walaupun Reni berusaha normal. Yuni menanyakan padaku apa yang terjadi dengan Reni tadi malam. Kujawab bahwa Reni beberapa kali terpeleset, mungkin itu penyebabnya. Yuni bilang dia juga bertanya ke Reni dan Reni menjawab terpeleset dengan posisi kaki terbuka sehingga sakit ke pangkal paha.
Yuni tetap berkeras, “Aku masih tidak percaya lho Jar. Aku masih curiga. Semuanya”.
Tugasku merencanakan perlengkapan di lokasi air terjun sudah selesai. Tinggal Yuni yang masih merancang detail acara, pengelompokan dan waktu. Dia sibuk mengitari area dan mencoret2 di kertas. Daripada bengong, karena belum mandi pagi, aku minta izin ke Yuni untuk mandi di dekat air terjun. Aku menyeberang dan mendapat tempat yang tersembunyi dibalik batu besar yang hanya terlihat dari arah air terjun. Walau sudah mempersiapkan celana pendek, tetapi karena cukup tersembunyi dan sepi dan supaya lebih nyaman, aku mandi bugil saja.
Saat bersabun, diantara gemuruh air terjun, aku mendengar benda jatuh ke air dibalik batu besarku. Sambil berendam aku keluar untuk melihat benda jatuh itu. Ternyata Yuni! Rupanya dia terpeleset saat menyebrangi batu2.
Aku menghampirinya dan menanyakan apakah ada yang terluka atau sakit. Hanya tangan dan kaki dan sedikit dipunggung yang terasa sakit. Aku menuntunnya ke tepi dan melihat tangannya yang sakit. Kulihat matanya bergerak2 agak melotot. Aku takut kepalanya terbentur.
“Kepalamu sakit?”, tanyaku.
“Oh.. ah.. nggak..”, katanya.
“Tadi kulihat matamu bergerak2”, kataku.
“Anu.. Jar.. kamu bugil..”, kata Yuni. Oops, aku baru sadar bahwa aku dalam keadaan bugil. Segera aku mengambil celana pendek dan memakainya. Karena tangan Yuni sedikit berdarah, segera aku kembali keseberang untuk mengambil tas obat, lalu segera mengobati luka di tangannya.
“Kakimu yang sakit dimana?”, tanyaku. Yuni menunjuk kearah kedua lututnya. Karena memakai celana jin ketat, agak sulit melihat dari lintingan bawah, jadi celananya harus dibuka.
“Lihat lukanya ya..”, kataku sambil menyuruh mencopot celana jinnya. Dia ragu sejenak, lalu berusaha membuka celananya, tetapi karena tangannya sakit, ia kesulitan. Akhirnya kubantu untuk mencopot celananya. Terlihat kakinya dipaha dekat lutut agak membiru. Maka segera kukeringkan dengan handukku lalu kuoleskan penghangat di kedua pahanya.
“Sekarang lihat punggungmu”. Yuni menyingkap kaosnya keatas dan memang ada memar sedikit. Setelah kukeringkan dengan handuk, kugosok juga punggunya dengan cream penghangat. Supaya tidak kena baju kaosnya yang basah, aku sarankan Yuni untuk mencopot bajunya. Dia tidak bawa ganti, aku juga cuma bawa tambahan celana pendek untuk mandi, maka baju dan celananya kuperas dan kujemur.
Aku duduk disampingnya.”Kenapa kamu harus kesini, kan bisa teriak, nanti aku yang kembali ke seberang”, tanyaku. Yuni diam saja. Napasnya masih terengah2 dan berusaha menarik napas panjang.
“Kamu sudah selesai surveynya?”, tanyaku. “Sudah”, jawabnya.
“Mau pulang sekarang atau nunggu kakinya agak enak jalan, atau nunggu kering baju dan celana?”, tanyaku. “Nunggu kering saja”, katanya.
“Kalau begitu, sekalian bh dan celana dalamnya di jemur biar tidak masuk angin. Sambil nunggu, kamu bisa pakai baju dan celana pendekku yang satu lagi”, aku mengambil pakaianku dan memberikan padanya. Yuni diam sejenak. Lalu menyuruhku melihat kearah lain saat dia copot bh dan celana dalam. Aku ikuti perintahnya.
Setelah dia berpakaian dan minum sehingga lebih tenang, aku melanjutkan mandi. Gantian aku menyuruhnya melihat kearah lain karena aku akan mencopot celana pendek dan bugil lalu berendam di air. Sayang kalau celana pendekku basah dan Yuni butuh celana pendekku yang satu lagi.
Yuni tertawa, “Ngapain aku harus noleh, tadi kan aku sudah lihat kamu bugil”. Dia tidak mau menoleh dan tetap melihat kearahku. Mau tidak mau aku membelakanginya dan segera mencopot celana lalu nyebur ke air.
Saat mau sabunan, ternyata sabunku ada jauh didarat karena tadi kulempar. Kuminta Yuni untuk mengambil sabun.
“Airnya segar nggak?”, tanya Yuni saat memberi sabun padaku.
“Lho, tadi kan kamu sudah kecebur”, candaku.
“Aku ingin mandi juga”, katanya. “Silahkan, tapi baju dan celana pendekku tidak boleh basah”, kataku.
“Kamu menghadap sana dulu”, katanya. Aku mengikutinya. Dia mencopot baju dan celana, lalu berendam ke air. Aku melihatnya. “Segar kan?”. “Iya.”, jawabnya senang. Kami berkecipak kecipuk di air dekat air terjun.
“Sabunnya mana Jar”, tanya Yuni. Aku melempar sabun ke Yuni. Lalu dia sabunan. Tapi dia kesulitan menyabuni punggung karena tangannya masih sakit. Aku mendekat, “Sini, punggunmu aku sabuni”, kataku dan dia memberikan sabun kepadaku.
“Kalau mau disabuni, berdiri dong, jangan berendam”. Yuni berdiri dan aku menyabuni punggungnya dari belakang. Karena kakinya masih sakit, Yuni terjatuh kebelakang. Aku terlambat menahan sehingga kami jatuh berdua keair, Aku dibawah dan Yuni diatas menimpaku. Untung airnya dangkal. Yuni berbalik merangkak untuk berdiri, tapi kakinya lemah sehingga terjatuh dan menimpaku lagi. Akhirnya aku berusaha membopongnya dan merebahkannya di tepi.
Lalu mengambil handuk untuk mengeringkan seluruh bagian tubuhnya. Dari muka, dada, punggung, pinggang, bokong, selangkangan, paha, betis, tangan dan kaki. Lalu kukenakan kembali baju dan celana pendekku.
“Jar”, katanya. Aku menoleh.”Maaf ya, selama ini kukira kamu maniak seks.. Ternyata waktu aku bugil dan lemah, kamu tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kamu menolong aku dengan tulus tanpa bermaksud mesum”, kata Yuni.
Aku tersenyum. Sebenarnya aku juga sudah terangsang dari tadi. Apalagi saat menyabuni dan saat mengeringkan dengan handuk. Aku melihat dan mengelap susunya yang coklat menantang dan vaginanya yang coklat tertutup jembut yang sudah lebat.
“Kamu sudah punya pacar Jar?”, tanyanya. Aku mengangguk karena mulai tadi malam aku resmi pacaran dengan Reni.
“Berbahagialah pacarmu. Andai aku jadi pacarmu.”, katanya. Aku tersenyum.
Aku memegang baju dan celananya. “Sudah mau kering. Basah sedikit kalau dibawa jalan dan naik motor, bisa kering kena angin”.
Kami berpakaian. Yuni tidak lagi menyuruhku memalingkan muka, tapi membiarkan aku melihatnya bugil. Dan diapun melihatku bugil berganti pakaian.
“Jar, tadi kulihat burungmu kecil, kok sekarang gede?”, tanya Yuni. “terangsang ya?. Kenapa tadi tidak?”, dia bertanya lagi. Aku hanya tersenyum dan memakaikan celana pendekku.
Karena tadi pikiranku hanya menolong Yuni, penisku tidak terangsang. Sekarang aku tidak punya focus pikiran lain. Jadi kalau lihat wanita bugil secara otomatis penisku terangsang.
Yuni yang sedang memakai bh segera berhenti. Dia mencopot kembali bh nya, mencopot celana dan celana dalamnya. Dia bugil. Lalu menghampiriku. Dia menghentikan tanganku yang sedang pakai celana. Mencopot celanaku dan celana dalamku. Kami sama2 berdiri dalam keadaan bugil. Yuni meraih tanganku dan menatapku. Aku diam tetapi penisku semakin ngaceng. Yuni melihatnya dan tersenyum.
“Kamu terangsang melihat aku bugil ya?”, godanya. Aku tidak menjawab.
“Mulutmu tidak menjawab. Tapi burungmu yang menjawab”, katanya tersenyum.
Lalu Yuni merebahkan diri dan menarikku untuk ikut merebahkan diri diatasnya. Dadaku menempel di susunya, penisku menempel di vaginanya.
“Yuni. Aku sudah punya pacar”, kataku dengan posisi menindihnya. Aku teringat Reni yang mengancamku bila bermesum dengan Yuni di survey air terjun ini.
“Aku tahu. Reni kan?”, katanya tersenyum. Aku kaget, dia bisa menebak.
“Walaupun Reni bilang terpeleset, semalam aku lihat ada bercak darah di celana dalamnya” kata Yuni . Dasar detektif, aku jadi tidak bisa berkelit. “Iya, Reni pacarku”, kataku.
Yuni menarik napas dalam. “Aku juga suka sama kamu Jar”, katanya. “Kamu juga suka sama aku kan?”, tanyanya.
“Iya”, aku tak mau mengecewakannya. “Tapi sekarang aku sudah menjadi pacarnya Reni . Aku sayang sama Reni”, kataku. Kulihat Yuni sedikit cemberut. Karena pembicaraan ini, penisku mulai mengendor. Aku hendak berdiri, tapi ditarik lagi oleh Yuni. Dia tersenyum.
“Kalau begitu beri aku pembuktian bahwa dugaanku tentang Bu Neni dan Reni benar”, katanya.
“Maksud kamu?”, tanyaku
“Lakukan padaku apa yang pernah kamu lakukan dengan Bu Neni dan Reni”, katanya. Aku menarik napas.
“Yuni. Kamu masih perawan?”, tanyaku. Yuni mengangguk tersenyum.
“Kalau begitu, perawanmu buat pacarmu saja nanti”, aku menyarankan.
“Kalau sampai tidak tembus perawan, bisa nggak?”, Yuni menawar. Aku diam.
“Atau nanti kulaporkan ke orangtuanya Reni juga ke Bu Neni lho”, Yuni berkata sambil tersenyum.
Aku menatapnya, mengangkat dadaku yang menghimpit susunya, lalu melihat susunya. Lalu mengangkat selangkanganku yang menghimpit selangkangannya, melihat vaginanya dan penisku. Dengan melihat pemandangan ini penisku mulai ngaceng lagi.
“Setengah main saja ya Yun?”, kataku. “Maksudnya?”, tanya Yuni. “Nggak usah dimasukin”, kataku.
“Aku nggak ngerti. Jadi iya saja lah”, kata Yuni senang. Aku juga senang dan sudah sangat terangsang.
Yuni menatapku menunggu. Maka mulailah kucium bibirnya, mungil sekali. Yuni terpejam. Pelan2 aku turun ke lehernya. Lalu turun ke dadanya, mencium dan menghisap satu susu sedangkan susu lain kubelai dan kuremas dengan tanganku. Susunya lebih besar dari susu Reni, putingnya juga. Yuni masih memejamkan matanya dan mulutnya mulai bersuara, “oohh, jar..”
Aku tetap membelai dan meremas kedua susunya dan putingnya dengan kedua tanganku. Sedangkan wajahku mulai turun menciumi perut, bulu jembut . pahanya masih tertutup rapat. Kurenggangkan pahanya sehingga vaginanya terlihat, kubelai bibir vaginanya. “oohh..”, desah Yuni. Jariku mencari itil dan ketemu, walaupun agak kecil dan lebih kecil dari itil Reni, “aaawwwwwhhh ohhh”, Yuni menjerit panjang saat itilnya tersentuh dan kugesek2 dengan jariku.
Lalu kucium vaginanya. “Jar, oohh..”. Kubuka bibir vaginanya dengan jariku, sehingga terlihat jelas itil dan lubang vaginanya yang berwarna merahmuda. Yuni mengepitkan pahanya, lalu kubuka dan kutahan dengan siku tanganku. Lalu kujilati lubang dan itilnya, Yuni meremas rambutku dan memekik keras “aaaaawwwwhhhh aaawwhhhh…”
Lama aku menjilati vaginanya, akhirnya aku merangkak diatasnya. Yuni menatapku dengan pandangan sayu. Dadanya naik turun karena napas dan detak jantung tak beraturan. Aku menciumnya dan meluruskan penisku ke vaginanya, lalu menggesek2kan kevaginanya. “Jar?” Yuni bertanya. “Nggak apa-apa kok Yun”, kataku menenangkan.
Mulailah aku menaikturunkan pantatku menggesek2 penis di vaginanya. “Ooohh Jar ohhh…” desahnya sambil menggelinjang dan menggerak2kan pantatnya
“Yuni..” aku menggenjot sambil bergantian mencium leher, bibir dan susunya.
Kami terus menggenjot dan bergoyang, dan diantara pergumulan kami Yuni berkata, “oohh.. Jar.. hh.. aku.. bisa .. hh .. diatas..?”. “.. boleh..hh”, jawabku. Lalu berguling dan mengangkat tubuhnya menjadi diatasku. Lalu kembali penisku diposisi menggesek vaginanya. Dan mulailah Yuni menaikturunkan pantatnya.
“ohh.. ennaakk bang nget jar.. ohh…”, celotehnya. “..Rheni.. bhelum.. phernahh .. bheghinhi ya..”, katanya lagi. Aku tidak menjawab dan terus memegang pantatnya yang bergoyang dan terus menciumnya.
Cukup lama kami menggenjot sehingga keringat mulai keluar. Lalu Yuni berhenti. Kami bertatapan.
“hh.. jar.., aku.. ingin seperti Reni..”, katanya. “Yuni..”, belum sempat aku selesai berucap, Yuni meluruskan lubang vaginanya ke ujung penisku. Dia menatapku. Napas kami masih tersengal2 karena capek dan gairah.
“Sakit nggak Jar?”, tanya Yuni. “Sakit Yun.. sebaiknya jangan”, kataku mencoba mencegah Yuni memasukkan penisku ke vaginanya. Tapi Yuni tidak peduli, dia menekan sedikit, sehingga kepala penisku mulai masuk ke lubang vaginanya. Lalu diam dan membiarkan kepala penisku mendekam. Kurasa kan sempitnya lubang vagina Yuni, kayaknya lubangnya lebih kecil dari Reni, atau otot lubangnya yang kuat..
“Aww hh..”, Yuni merasakan ada benda yang mulai masuk vaginanya. “Yuni..”, aku mengingatkan sambil membelai rambutnya. Yuni menekan lagi sedikit. ‘aww..hh”, lalu berhenti lagi.
Aku segera mencabut penisku dan menggesek2kan lagi ke vaginanya sambil melumat bibirnya dan meremas susunya. Yuni sempat kecewa tapi karena sedang dalam puncak gairah, dia membalas genjotan. “oohh..ohh..ohh..”. Dan akhirnya Yuni mencapai puncak. “mmmphh..a.. a.. aahhhhhhhhh…”. Lalu terkulai lemas. Aku membiarkannya.
Yuni beranjak dari tubuhku dan langsung menceburkan diri ke air. Dia suruh aku membawa sabun. Kami saling menyabuni. Penisku tegang disabuni, putting susunya Yuni juga mengeras. Mungkin karena terangsang, Yuni memeluk dan menciumku, lalu mendorongku jatuh ke air.
Aku bergeser ke air yang lebih dangkal sehingga dengan sanggahan siku tanganku, kepalaku bisa diatas air, sedangkan seluruh badan dari pundak hingga kakiku berada dibawah air. Yuni kembali menindihku dan menciumku, lalu menggesek2an vaginanya di penisku. Kami mendesah2.
Tiba2 aku merasa kepala penisku bukan menggesek, tetapi masuk ke lubang vagina.
“Yuni!”, aku menegur Yuni, tapi Yuni tak peduli dan terus menekan hingga bless,crot.
“aaaawww..”, Yuni berhenti menekan. ”..saakiitt Jarr”, katanya. Aku bangkit dari rebahku dan duduk memeluk Yuni.
“Sakit Jar, sakit..”, Yuni berlinang air mata. Kami sama2 melihat kebawah. Di dalam air, penisku masih tertancap ke vagina Yuni. Lalu keluarlah darah dari mulut vaginanya. “Jar.. darah..”, katanya. Aku memeluknya lagi dan berbisik “itu darah perawanmu Yuni”.
Yuni mendekapku, “Sakit Jar..”, katanya sedikit menangis. Aku tak bisa berkata apa2 dan hanya bisa memperat pelukan. Kami terdiam.
Kucoba menggoyangkan pantatku untuk membangkitkan rasa nikmat. Dan tak lama Yuni juga menggoyang2kan pantatnya. Pelan2 kami saling bergoyang dan semakin lama semakin cepat. Kami saling mendesah dan mengerang. Hingga akhirnya Yuni kembali mengerang panjang dan lemas.
Aku merebahkannya diair dangkal dan meneruskan menancapkan penis kevagina berulang2. Sampai akupun tak tahan dan kumuncratkan mani diluar vaginanya, tapi masih di dalam air. Yuni segera duduk untuk melihat. Air maniku keluar dari kepala penisku lalu bergerak2 sesuai gelombang air. Yuni memelukku senang.
Setelah istirahat sejenak, kami kembali dan aku setengah membopong Yuni karena dia kesulitan berjalan. Selain karena terjatuh juga karena selangkangannya masih sakit setelah berhubungan seks. Di perjalanan setapak menuju tempat parkir motor, kami bertemu dengan Arman dan Reni. Mereka sudah selesai, dan karena kami belum kembali ke posko, Reni usul agar mereka menyusulku. Melihat Yuni yang jalan terpincang2 dengan luka ditangan, Arman segera datang dan membantuku membopong Yuni.
Sesampai di posko, sambil menunggu Yudi, Reni mengajakku belanja oleh2 ke pasar terdekat, sedangkan Arman menjaga Yuni. Saat kami berjalan pergi, kulihat Reni dan Yuni saling berpandangan penuh arti.
“Jar, Yuni kamu apain?” sambil belanja Reni menanyaiku. “Dia terjatuh waktu nyebrang batu di air”, jawabku.
“Kenapa harus di air? Kan acaranya di darat”, Reni terus menyelidik. “takut ada yang ingin nyebur air, kami cek apakah ada tempat yang dalam atau berbahaya”, jawabku.
Reni mencubit lenganku dengan keras. “Aww!”, aku kaget.
“Kamu pacarku. Dan aku tidak suka pacar yang bohong!”, katanya dengan gemas dan suara ditahan karena takut terdengar di keramaian pasar.
“Iya iya, nanti aku cerita sejujurnya”, kataku.
“Jujur ya!”, Reni mengepalkan tinjunya.
Kami pulang kembali ke Padang. Di mobil Jimny yang sempit itu aku duduk dibelakang dengan Reni. Yuni juga memilih duduk dibelakang bertiga. Tapi Yuni tidak mau Reni ditengah, dia memilih duduk di tepi sehingga aku berada ditengah2 mereka. Reni kesel, tapi dia ingin merahasiakan dulu pacaran kami.
“Wah, asyik nih diapit dua cewek”, Yudi dan Arman menggoda kami. Apalagi ketika Yuni dan Reni tertidur, atau pura2 tidur?, kepala mereka rebah ke pundakku. “Gantian dong Jar”, kata Yudi dan Arman.
Tentu saja aku tidak mau.
.
Hipnosex
Liburan kenaikan kelas kali ini aku akan mengunjungi orangtuaku di Bengkulu. Sambil menunggu di terminal bis aku kepikiran masalah ruwet cintaku ke Reni dan Yuni.
“Bangkunya kosong ya dik”, suara ibu2 membuyarkan pikiranku. Aku menyingkirkan tasku dari bangku dan mempersilahkan ibu itu duduk. Lalu kami ngobrol sedikit. Ibu itu mau ke Lampung dan ini yang pertama kali. Dia minta tolong aku untuk belikan tiket. Aku tawarkan beberapa bis yang ke Jakarta dan lewat Lampung, dia memilih salah satu bis eksekutif AC.
Aku antarkan ibu itu ke loket bis dimaksud. Ibu itu menepuk pundakku dan berkata, “Dik, saya belum pernah jalan jauh sendiri. Kalau kamu tidak terburu2 ke Bengkulu, boleh antar saya ke Lampung, nanti dari Lampung ke Bengkulu. Saya bayarin tiketnya”.
Karena memang tidak terburu2, aku mengiyakan, lalu ibu itu membeli 2 tiket, dan aku mengembalikan tiket perjalananku Padang-Bengkulu. Kursi di dalam bis hanya ada beberapa baris, setiap baris ada 3 kursi, 2 di kanan dan 1 di kiri, kami duduk di bangku paling belakang dekat toilet.
Menjelang sore bis berangkat. Kami ngobrol biasa, ternyata ibu itu bernama Arum, 32 tahun. Sekitar jam 7 malam bis mampir di rumah makan. Makanku dibayarin bu Arum. Bis berangkat lagi malam itu, dan dalam keadaan kenyang penumpang mulai ngantuk dan tidur. Kursi bis itu bisa direbahkan sehingga nyaman buat tidur. Bu Arum juga tidur dan akupun tidur.
Ditengah tidur aku terbangun karena Bu Arum mau ketoilet. Selesai dari toilet Bu Arum menepuk pundakku agar pindah kursi. Aku pindah kepinggir jendela dan dia yang di gang, dan bersiap2 tidur lagi. Bu Arum merebahkan kepalanya di dadaku, tangannya memeluk perutku. Kubiarkan. Tak lama tangannya bergeser mengusap2 celanaku persis ditempat penis. Kubiarkan. Lalu dia membuka retsleting celanaku, menyingkap celana pendekku dan mengeluarkan penisku. Kubiarkan. Dan dalam kegelapan bis yang sedang melaju Bu Arum membelai, menciumi, mengemut dan mengocok dan menghisap penisku. Kubiarkan.
Permainan kami tidak ada yang melihat, karena para penumpang bis sedang terlelap tidur. Dan diseberang bangku kami adalah pintu belakang bis, jadi tidak ada penumpang yang sejajar dengan kursi kami. Bis terus berjalan dan aku terus menikmati permainan tangan dan mulut Bu Arum pada penis. Tanganku mulai beraksi menyusup kedalam baju Bu Arum dan mencari susunya. Setelah dapat, ternyata susunya masih kenyal dan putingnya terasa besar dan tegak. Tanganku meremas2 susu dan memainkan putingnya.
Setelah puas, Bu Arum berdiri, mengangkat roknya dan menyingkap celana dalamnya sehingga vaginanya terlihat. Dia menyodorkan kekepalaku, maka kubelai2 vaginanya. Bulunya lebat sekali sampai ke bibir vagina, itilnya tidak terlalu besar, sedangkan lubang vaginanya basah dan bergerak2 mengempot2. Kumainkan itil dan lubang vaginanya dengan jariku, Bu Arum menggelinjang2 tanpa bersuara.
Bu Arum bergerak mengangkangi selangkanganku. Karena jumlah kursinya sedikit, maka setiap penumpang mendapat tempat yang cukup luas. Dan cukup nyaman bagi bu Arum duduk diatasku yang sedang rebahan dikursi. Bu Arum segera memegang penisku dan meluruskan ke vaginanya, lalu blesss.. tanpa basa-basi langsung menekan pantatnya hingga penisku langsung masuk seluruhnya dan menyentuh bagian dalam vaginanya. ‘mmmphh’, bu Arum menahan suara erangannya.
Diam sejenak merasakan seluruh penisku masuk ke vaginannya. Lalu segera bu Arum menggenjot pantatnya berulang2. Penisku dengan tenangnya keluar masuk vaginanya. Karena vaginanya sudah mulai basah, terdengar suara cleps cleps cleps, setiap penisku menusuk kedalam. Namun suara mesin bis dibelakang dan membuat suara permainan seks kami tak terlalu terdengar.
Bis berbelok ke kiri kekanan, badan kami terguncang, tetapi penis dan vagina kami tidak peduli dan terus saling berpagut. Sampai akhirnya bu Arum menggoyang pinggulnya dengan cepat lalu menekan kebawah dengan kencang. Aku tahu sebentar lagi bu Arum akan orgasme, maka akupun mempercepat sodokanku. Terdengar bu Arum menghela napas berat lalu lemas terduduk diatas selangkanganku. Dan tak lama kemudian aku merasakan penisku memuncratkan mani cukup banyak didalam vagina bu Arum.
Bu Arum mengambil beberapa tisu dari tasnya. Sambil beranjak dari selangkanganku, dia membersihkan cairan dan mani yang membasahi vaginanya. Lalu dia mengambil tisu lagi dan membersihkan cairan dan mani di penisku dan sekitarnya. Dia mencium penisku sebentar lalu merapikan celana dalam dan menutup retsletingku. Bu Arum mengambil minum untuk kami berdua. Lalu kami terlelap tidur kembali.
Aku terbangun karena pundakku ditepuk2 bu Arum. Dia membangunkanku dan mengajakku ke toilet. Kuikuti dia kedalam toilet dan pintu dikunci. Didalam toilet yang sempit itu dia membuka kancing bajunya dan mengendorkan bh nya sehingga susunya terlihat. Bukit kembar yang cukup besar tapi masih menantang. Kepalaku ditarik kearah susunya dan aku segera menciumi dan meremas kedua susu itu secara bergantian.
Bu Arum kembali mencopot celanaku sehingga penisku terlihat. Walaupun masih loyo, dia tetap mengemut dan membelai2 penis. Tanganku tetap meremas susu2nya. Aku mulai terangsang dan penisku mulai membesar dan mengeras. Bu Arum berdiri dan mencopot celana dalamnya. Dia mengangkat roknya dan mengangkat kakinya diletakkan di atas wc. Vaginanya terlihat dan terbuka lebar.
Tanpa membuang kesempatan kuarahkan penisku ke vaginanya. Dalam posisi berdiri di toilet bis yang sempit, penisku masuk dan keluar dan masuk ke dalam vaginanya. Aku terus menggenjot sambil memainkan susunya dan sekali2 menciumnya. Karena pegal, bu Arum menurunkan kakinya. Dia membelakangiku sehingga aku menyodokkan penis masuk ke vaginanya dari belakang. Itupun bu Arum dengan posisi yang agak berdiri.
Bus berbelok lagi kekiri dan kekanan. Sambil berpegangan seadanya dan menahan ke dinding toilet, kami terus saling menggenjot. Sampai akhirnya kami memuncak hampir bersamaan. Dalam kelelahan kami saling berpelukan. Lalu bu Arum memakai cd dan merapikan bh dan bajunya, akupun merapikan celanaku. Kami keluar dari toilet dan mendengar kami keluar, ada bapak2 berdiri dari duduknya lalu terburu2 berjalan menuju toilet. Mungkin dia sudah mengunggu dari tadi. Bu Arum dan aku duduk kembali dan langsung tertidur pulas.
Kami terbangun karena dibangunkan oleh awak bis. Ternyata hari sudah pagi dan bis berhenti di rumah makan, memberi kesempatan penumpangnya untuk sarapan. Biasanya penumpang juga memanfaatkan saat istirahat ini untuk mandi pagi. Untuk sarapan dan mandi, bis akan berhenti sekitar 1 jam. Merasa lemas karena semalam bersetubuh dua kali, kami langsung sarapan. Sementara penumpang lain memilih untuk mandi dulu.
Selesai sarapan, bu Arum menepukku mengingatkan untuk mandi. Banyak kamar mandi tersedia, kami berjalan ke tempat paling ujung dan masuk ke kamar mandi yang bersebelahan. Ternyata batas kamar mandi hanya disekat setengah tembok. Bu Arum menyuruhku untuk menyeberangi tembok yang tingginya dua meter lebih. Memanfaatkan bak mandi, susah payah aku menyeberang ke kamar mandi bu Arum.
Sesampai dikamar mandi, bu Arum menepukku untuk segera mencopot baju. Dia juga segera mencopot baju. Kami sama2 bugil. Ternyata tubuh bu Arum masih mulus dan padat. Bahkan bentuk dan ukuran badannya sangat mirip dengan Yuni. Kuperhatikan lagi, susu dan vaginanyapun mirip Yuni. Tanpa menunggu lama aku melahap bu Arum. Kamar mandinya cukup lega, sehingga kami bisa leluasa melakukan berbagai posisi seks. Karena takut tertinggal bis kami tidak lama bermain seks. Aku kembali menyeberang kekamar mandi sebelah.
Bis berjalan lagi dan sore itu tiba di Lampung. Bu Arum membelikan aku tiket bis ke Bengkulu. Setibanya di rumah orangtua di Bengkulu, aku disuruh mandi. Saat mandi itu aku merasakan air begitu segar dan aku tiba2 merasakan selangkanganku pegal sekali. Tentu saja aku ingat karena aku tiga kali bermain seks dengan bu Arum. Tetapi yang aku herankan, mengapa aku mau begitu saja diajak bermain seks dengannya. Dan aku juga heran mengapa tubuh bugil bu Arum sama persis dengan tubuh bugil Yuni.
Selesai mandi aku berpakaian dan heboh sendiri; seluruh uang yang ada di dompet dan di tasku hilang. Ibu membantu mencari tapi tidak ketemu. Kuceritakan bahwa aku berbaik hati menemani seorang ibu2 ke Lampung baru ke Bengkulu, semua biaya ditanggung oleh ibu2 itu. Ibuku tertawa dan mengatakan bahwa aku dihipnotis, sehingga ibu2 itu leluasa menggerayangi dompet dan tas bawaanku. Tapi ibu menghiburku karena yang penting aku bisa sampai ke rumah orang tuaku yang sudah hampir dua tahun tidak kujenguk.
Aku membereskan tasku, disana masih ada tiket bis Padang-Lampung atas namaku dan Bu Arum. Ah, bu Arum telah memberiku hipnosex, bermain seks dibawah pengaruh hipnotis. Pantesan tubuh bu Arum bisa segar seperti Yuni.
.
“Bangkunya kosong ya dik”, suara ibu2 membuyarkan pikiranku. Aku menyingkirkan tasku dari bangku dan mempersilahkan ibu itu duduk. Lalu kami ngobrol sedikit. Ibu itu mau ke Lampung dan ini yang pertama kali. Dia minta tolong aku untuk belikan tiket. Aku tawarkan beberapa bis yang ke Jakarta dan lewat Lampung, dia memilih salah satu bis eksekutif AC.
Aku antarkan ibu itu ke loket bis dimaksud. Ibu itu menepuk pundakku dan berkata, “Dik, saya belum pernah jalan jauh sendiri. Kalau kamu tidak terburu2 ke Bengkulu, boleh antar saya ke Lampung, nanti dari Lampung ke Bengkulu. Saya bayarin tiketnya”.
Karena memang tidak terburu2, aku mengiyakan, lalu ibu itu membeli 2 tiket, dan aku mengembalikan tiket perjalananku Padang-Bengkulu. Kursi di dalam bis hanya ada beberapa baris, setiap baris ada 3 kursi, 2 di kanan dan 1 di kiri, kami duduk di bangku paling belakang dekat toilet.
Menjelang sore bis berangkat. Kami ngobrol biasa, ternyata ibu itu bernama Arum, 32 tahun. Sekitar jam 7 malam bis mampir di rumah makan. Makanku dibayarin bu Arum. Bis berangkat lagi malam itu, dan dalam keadaan kenyang penumpang mulai ngantuk dan tidur. Kursi bis itu bisa direbahkan sehingga nyaman buat tidur. Bu Arum juga tidur dan akupun tidur.
Ditengah tidur aku terbangun karena Bu Arum mau ketoilet. Selesai dari toilet Bu Arum menepuk pundakku agar pindah kursi. Aku pindah kepinggir jendela dan dia yang di gang, dan bersiap2 tidur lagi. Bu Arum merebahkan kepalanya di dadaku, tangannya memeluk perutku. Kubiarkan. Tak lama tangannya bergeser mengusap2 celanaku persis ditempat penis. Kubiarkan. Lalu dia membuka retsleting celanaku, menyingkap celana pendekku dan mengeluarkan penisku. Kubiarkan. Dan dalam kegelapan bis yang sedang melaju Bu Arum membelai, menciumi, mengemut dan mengocok dan menghisap penisku. Kubiarkan.
Permainan kami tidak ada yang melihat, karena para penumpang bis sedang terlelap tidur. Dan diseberang bangku kami adalah pintu belakang bis, jadi tidak ada penumpang yang sejajar dengan kursi kami. Bis terus berjalan dan aku terus menikmati permainan tangan dan mulut Bu Arum pada penis. Tanganku mulai beraksi menyusup kedalam baju Bu Arum dan mencari susunya. Setelah dapat, ternyata susunya masih kenyal dan putingnya terasa besar dan tegak. Tanganku meremas2 susu dan memainkan putingnya.
Setelah puas, Bu Arum berdiri, mengangkat roknya dan menyingkap celana dalamnya sehingga vaginanya terlihat. Dia menyodorkan kekepalaku, maka kubelai2 vaginanya. Bulunya lebat sekali sampai ke bibir vagina, itilnya tidak terlalu besar, sedangkan lubang vaginanya basah dan bergerak2 mengempot2. Kumainkan itil dan lubang vaginanya dengan jariku, Bu Arum menggelinjang2 tanpa bersuara.
Bu Arum bergerak mengangkangi selangkanganku. Karena jumlah kursinya sedikit, maka setiap penumpang mendapat tempat yang cukup luas. Dan cukup nyaman bagi bu Arum duduk diatasku yang sedang rebahan dikursi. Bu Arum segera memegang penisku dan meluruskan ke vaginanya, lalu blesss.. tanpa basa-basi langsung menekan pantatnya hingga penisku langsung masuk seluruhnya dan menyentuh bagian dalam vaginanya. ‘mmmphh’, bu Arum menahan suara erangannya.
Diam sejenak merasakan seluruh penisku masuk ke vaginannya. Lalu segera bu Arum menggenjot pantatnya berulang2. Penisku dengan tenangnya keluar masuk vaginanya. Karena vaginanya sudah mulai basah, terdengar suara cleps cleps cleps, setiap penisku menusuk kedalam. Namun suara mesin bis dibelakang dan membuat suara permainan seks kami tak terlalu terdengar.
Bis berbelok ke kiri kekanan, badan kami terguncang, tetapi penis dan vagina kami tidak peduli dan terus saling berpagut. Sampai akhirnya bu Arum menggoyang pinggulnya dengan cepat lalu menekan kebawah dengan kencang. Aku tahu sebentar lagi bu Arum akan orgasme, maka akupun mempercepat sodokanku. Terdengar bu Arum menghela napas berat lalu lemas terduduk diatas selangkanganku. Dan tak lama kemudian aku merasakan penisku memuncratkan mani cukup banyak didalam vagina bu Arum.
Bu Arum mengambil beberapa tisu dari tasnya. Sambil beranjak dari selangkanganku, dia membersihkan cairan dan mani yang membasahi vaginanya. Lalu dia mengambil tisu lagi dan membersihkan cairan dan mani di penisku dan sekitarnya. Dia mencium penisku sebentar lalu merapikan celana dalam dan menutup retsletingku. Bu Arum mengambil minum untuk kami berdua. Lalu kami terlelap tidur kembali.
Aku terbangun karena pundakku ditepuk2 bu Arum. Dia membangunkanku dan mengajakku ke toilet. Kuikuti dia kedalam toilet dan pintu dikunci. Didalam toilet yang sempit itu dia membuka kancing bajunya dan mengendorkan bh nya sehingga susunya terlihat. Bukit kembar yang cukup besar tapi masih menantang. Kepalaku ditarik kearah susunya dan aku segera menciumi dan meremas kedua susu itu secara bergantian.
Bu Arum kembali mencopot celanaku sehingga penisku terlihat. Walaupun masih loyo, dia tetap mengemut dan membelai2 penis. Tanganku tetap meremas susu2nya. Aku mulai terangsang dan penisku mulai membesar dan mengeras. Bu Arum berdiri dan mencopot celana dalamnya. Dia mengangkat roknya dan mengangkat kakinya diletakkan di atas wc. Vaginanya terlihat dan terbuka lebar.
Tanpa membuang kesempatan kuarahkan penisku ke vaginanya. Dalam posisi berdiri di toilet bis yang sempit, penisku masuk dan keluar dan masuk ke dalam vaginanya. Aku terus menggenjot sambil memainkan susunya dan sekali2 menciumnya. Karena pegal, bu Arum menurunkan kakinya. Dia membelakangiku sehingga aku menyodokkan penis masuk ke vaginanya dari belakang. Itupun bu Arum dengan posisi yang agak berdiri.
Bus berbelok lagi kekiri dan kekanan. Sambil berpegangan seadanya dan menahan ke dinding toilet, kami terus saling menggenjot. Sampai akhirnya kami memuncak hampir bersamaan. Dalam kelelahan kami saling berpelukan. Lalu bu Arum memakai cd dan merapikan bh dan bajunya, akupun merapikan celanaku. Kami keluar dari toilet dan mendengar kami keluar, ada bapak2 berdiri dari duduknya lalu terburu2 berjalan menuju toilet. Mungkin dia sudah mengunggu dari tadi. Bu Arum dan aku duduk kembali dan langsung tertidur pulas.
Kami terbangun karena dibangunkan oleh awak bis. Ternyata hari sudah pagi dan bis berhenti di rumah makan, memberi kesempatan penumpangnya untuk sarapan. Biasanya penumpang juga memanfaatkan saat istirahat ini untuk mandi pagi. Untuk sarapan dan mandi, bis akan berhenti sekitar 1 jam. Merasa lemas karena semalam bersetubuh dua kali, kami langsung sarapan. Sementara penumpang lain memilih untuk mandi dulu.
Selesai sarapan, bu Arum menepukku mengingatkan untuk mandi. Banyak kamar mandi tersedia, kami berjalan ke tempat paling ujung dan masuk ke kamar mandi yang bersebelahan. Ternyata batas kamar mandi hanya disekat setengah tembok. Bu Arum menyuruhku untuk menyeberangi tembok yang tingginya dua meter lebih. Memanfaatkan bak mandi, susah payah aku menyeberang ke kamar mandi bu Arum.
Sesampai dikamar mandi, bu Arum menepukku untuk segera mencopot baju. Dia juga segera mencopot baju. Kami sama2 bugil. Ternyata tubuh bu Arum masih mulus dan padat. Bahkan bentuk dan ukuran badannya sangat mirip dengan Yuni. Kuperhatikan lagi, susu dan vaginanyapun mirip Yuni. Tanpa menunggu lama aku melahap bu Arum. Kamar mandinya cukup lega, sehingga kami bisa leluasa melakukan berbagai posisi seks. Karena takut tertinggal bis kami tidak lama bermain seks. Aku kembali menyeberang kekamar mandi sebelah.
Bis berjalan lagi dan sore itu tiba di Lampung. Bu Arum membelikan aku tiket bis ke Bengkulu. Setibanya di rumah orangtua di Bengkulu, aku disuruh mandi. Saat mandi itu aku merasakan air begitu segar dan aku tiba2 merasakan selangkanganku pegal sekali. Tentu saja aku ingat karena aku tiga kali bermain seks dengan bu Arum. Tetapi yang aku herankan, mengapa aku mau begitu saja diajak bermain seks dengannya. Dan aku juga heran mengapa tubuh bugil bu Arum sama persis dengan tubuh bugil Yuni.
Selesai mandi aku berpakaian dan heboh sendiri; seluruh uang yang ada di dompet dan di tasku hilang. Ibu membantu mencari tapi tidak ketemu. Kuceritakan bahwa aku berbaik hati menemani seorang ibu2 ke Lampung baru ke Bengkulu, semua biaya ditanggung oleh ibu2 itu. Ibuku tertawa dan mengatakan bahwa aku dihipnotis, sehingga ibu2 itu leluasa menggerayangi dompet dan tas bawaanku. Tapi ibu menghiburku karena yang penting aku bisa sampai ke rumah orang tuaku yang sudah hampir dua tahun tidak kujenguk.
Aku membereskan tasku, disana masih ada tiket bis Padang-Lampung atas namaku dan Bu Arum. Ah, bu Arum telah memberiku hipnosex, bermain seks dibawah pengaruh hipnotis. Pantesan tubuh bu Arum bisa segar seperti Yuni.
.
Cinta berbagi, bukan Pacar
Acara survey darmawisata membuat hubungan Reni, Yuni dan aku agak aneh. Reni dan Yuni tahu bahwa aku telah berhubungan seks dengan keduanya. Reni dan Yuni adalah sahabat sejak kecil karena mereka selalu satu kelas sejak SD dan rumah mereka tidak berjauhan. Sebagai sahabat mereka sulit untuk saling memarahi. Kami saling terdiam dan hanya ngobrol seperlunya. Terus berlanjut hingga ulangan kenaikan kelas dan darmawisata.
Saat darmawisata itu, kulihat beberapa kali Reni menatap bukit tempat dia dan aku berikrar sebagai pacar. Saat darmawisata itu, kulihat beberapa kali Yuni menatap air terjun tempat dia memberikan perawannya padaku.
Yudi menugaskan Reni, Yuni dan aku membuat laporan panitia darmawisata. Kesempatan ini aku gunakan untuk menyelesaikan permasalahan segitiga kami. Perdebatan alot karena kami semua membela diri. Sampai akhirnya kami sadar bahwa kami semua sama2 salah. Reni dan Yuni tidak saling terbuka bila menyukaiku, sedangkan aku tidak tegas memilih dan menolak.
Yuni membuka diri dan memulai minta maaf kepada Reni dan aku. Aku juga meminta maaf kepada Reni dan Yuni. Reni sejenak terdiam, terlihat airmatanya berlinang, lalu dengan erat dia memeluk Yuni. Akhirnya kami menyatakan perasaan dan melihat kenyataan bahwa kami saling mencintai satu sama lain. Bukan cinta segitiga, tetapi cinta bertiga dan untuk sementara kita saling menjaga cinta unik ini. Cinta tidak harus pacaran dan mereka memutuskan bahwa aku bukan pacar Reni dan juga bukan pacar Yuni. Waduhh..!
Usai liburan, kembali masuk sekolah di kelas 3 SMA. Kebijakan sekolah adalah tidak mengubah kelas, sehingga kami sekelas kembali dengan teman2 sekelas di kelas 2. Artinya Reni, Yuni dan aku kembali sekelas, tapi tidak lagi aktif jadi pengurus kelas. Aku tetap berusaha merayu Reni untuk menjadi pacarku, tapi dia terlihat menghindar dan hanya menjawab dengan senyumnya yang khas.
Saat wali kelas menyuruh membentuk kelompok belajar kecil 3 sampai 5 siswa, Reni dan Yuni memasukkan aku jadi kelompok mereka. Aku melihat mereka dan mereka hanya tersenyum penuh misteri. Mereka sepakat belajar bersama dilakukan hari rabu sore di rumah Reni dan sabtu sore di rumah Yuni.
Belajar bersama hari rabu sore berjalan lancar, kami belajar bersama di rumah Reni yang tidak terlalu besar dan disambut hangat oleh keluarganya. Belajar bersama di rumah Yuni terasa janggal. Rumahnya sepi. Saat belajar bersama, Reni dan Yuni malah membicarakan masalah baju pesta hingga baju tidur. Lalu mereka beranjak ke lemari Yuni dan tanpa sungkan mengganti pakaian di depanku. Tentu saja aku berulangkali menelan ludah. Sampai akhirnya mereka sama2 memakai daster.
“Nah belajar sambil pake daster ini baru enak, lebih leluasa. Ya kan Ren?”, tanya Yuni.
“Tapi lebih enak pake daster ini, yang tanpa lengan, terus lubang lengannya besar, terus pendek sepaha”, kata Reni yang langsung mengenakan daster mini. Yuni kembali memilih baju di lemarinya.
“Ini ada yang lebih simple dan tipis”, kata Yuni.
“Kalau pakai yang tipis, bh dan cd nya kelihatan, warnanya tidak cocok”, kata Reni.
“Kalau begitu jangan pake bh dan cd dong”, kata Yuni sambil mencopot celana dalam dan bhnya lalu menggunakan kembali daster tipisnya.
“Aku juga ah, biar plong”, kata Reni yang juga mencopot celana dalam dan bhnya lalu menggunakan daster minimnya.
Setelah itu mereka kembali kepadaku untuk belajar bersama sambil tiduran. Aku tak bisa konsentrasi belajar karena didepanku ada dua gadis hanya berbalut pakaian minim dan tipis. Mereka bagaikan bugil saja. Reni dan Yuni tersenyum melihat kekikukanku.
“Eh lihat, pentilmu kelihatan”, kata Yuni sambil tangannya memegang puting susu Reni yang membekas didasternya.
“Kamu juga kelihatan tuh”, Reni membalas memegang puting susu Yuni yang terlihat jelas dibalik dasternya. Lalu mereka saling memainkan puting susu sahabatnya.
“Enak ya..”, terasa sekali mereka menggodaku. Dan tentu saja aku terangsang. Degup dadaku mengencang, penisku mulai menegang.
“Eh, kakinya jangan digerak2in begitu. Dasternya kan pendek. Tuh memeknya jadi kelihatan”, Yuni menunjuk vagina Reni yang tersingkap. Tapi Yuni juga menggerakkan kakinya sehingga vaginanya tersingkap.
“Wah bulu memekmu bagus ya..”, tangan Yuni mengelus2 vagina Reni.
“Kamu juga. Memekmu tebal”, kata Reni membalas mengelus vagina Yuni.
Aku tak tahan lagi. Aku ikut tiduran didekat mereka. Kuhampiri Reni dari belakang dan kucium tengkuknya. Reni dan Yuni tersenyum. Reni membalikkan tubuhnya menghadapku, sedangkan Yuni beranjak dan berpindah ke belakangku.
Reni mencium bibirku. Tanganku menggerayangi susu dan vagina Reni. Matanya terpejam. Yuni sibuk mencopot celanaku, lalu menggenggam dan mengusap2 penisku. Aku tak begitu memperhatikan Yuni, aku hanya senang dan sangat senang bisa mencium Reni. Telah beberapa bulan ini Reni selalu menghindar.
Aku mengangkat dan mencopot daster Reni sehingga dia bugil. Lalu akupun mencopot bajuku hingga bugil juga. Reni menyuruh Yuni untuk bugil juga. Aku tetap tak mempedulikan Yuni. Aku hanya ingin melepas dahagaku dan menunjukkan cintaku pada Reni. Maka segera kulumat kedua susunya, kunikmati dengan sepuas2nya. Yuni kubiarkan berbuat semaunya. Dia mengambil penisku dan mulai menciuminya.
Aku terus mencumbu mesra Reni. Setelah membelai vaginanya, aku mulai menciumi dan menjilati itil dan lubang vaginanya. Reni mengerang keras. Melihat aku memainkan vagina Reni, dan menderang erangan Reni, tanpa sadar Yunipun ikut mengerang. Yuni gemas dan menggigit penisku pelan.
Aku kembali mencium bibir Reni dan mendekap erat. Yuni yang tak mau melepas penisku, melihat jarak penisku dan vagina Reni sudah mendekat. Yuni melepaskan emutan penis, memegang penisku dan didekatkan ke vagina Reni. Aku merasa penisku sudah menempel di vagina Reni. Yuni meluruskan dan mendorong penisku hingga kepala penisku mulai masuk ke lubang vagina Reni.
Reni menatapku dengan mata sayu dan pasrah. Sesekali dia menyebut namaku. Kupanggil juga namanya, dan tanpa membuang waktu kutekan pantatku sehingga penisku amblas kedalam vaginanya.
“Aww.. Jar.. Yuni..”, Reni menjerit sambil memanggil namaku dan juga memanggil Yuni.
Aku genjot sekali lagi sehingga penisku keluar lalu masuk lagi ke vaginanya.
“Awwh.. Yuni..”, Reni memanggil Yuni. Yuni mendekat kekepala Reni dan memandang Reni.
“Ennakk Yunn..”, kata Reni. Aku menciumi susu Reni dan menggenjot lagi berulang2 dan menimbulkan bunyi ceplak ceplok saat vagina Reni tersodok2 penisku.
Reni mengerang, menarik kepala Yuni mendekat. “Enak Yun, nanti gantian ya..”, kata Reni dengan suara terengah2. Aku tak peduli. Aku hanya ingin melampiaskan rinduku pada Reni.
Sekarang Reni menggerakkan pinggulnya dengan kencang dan terus berkoceh ke Yuni. Yuni mengelus kepala Reni sambil melihatku menggenjot dan menciumi susu Reni. Aku mengangkat kepala dan dadaku dan membiarkan Yuni melihat penisku keluar masuk vagina Reni.
Reni tak tahan lagi. Dia mengerang kerass sekali. Lalu terkulai lemas. Aku terus menggenjot ingin mengeluarkan maniku. Tapi Reni merangkul leherku dan berkata “Aku sudah Jar, sekarang gantian Yuni”
“Tapi aku cinta kamu Ren”, kataku terengah.
“Tapi Yuni juga cinta kamu Jar”, balas Reni, “dan aku cinta Yuni”, lanjut Reni. “Jadi kalau kamu cinta aku, kamu harus cinta Yuni juga”, kata Reni sambil mengusap kepalaku.
Aku terdiam dan menghentikan genjotanku. Memandang Yuni. Yuni tersenyum menunggu. Aku memandang Reni. Reni mengangguk, menyuruhku ke Yuni. Aku memeluk erat Reni. Reni mendorongku pelan2.
“Jar, bilang kalau kamu juga cinta Yuni”, Reni memaksaku. Pelan aku mengangguk. Lalu menghampiri Yuni.
“Yun, aku cinta kamu”, kataku. “Aku juga cinta kamu Jar”, kata Yuni.
Aku mencium bibirnya, merebahkannya lalu menindihnya. Sebenarnya secara tubuh, Yuni lebih menarik. Berkulit lebih putih, lebih padat, dengan susu dan vagina yang lebih sintal. Tapi aku lebih suka Reni karena senyumnya. Tapi aku sedang dalam gairah seks yang tinggi, maka tubuh Yuni tak kusia2kan. Kulumat susu dan vaginanya hingga Yuni mengerang dan memanggil2 Reni.
Reni menghampiri Yuni, membelai rambutnya. Lalu Reni juga membelai rambutku, punggungku dan pantatku. Reni memintaku mengangkat pantatku yang menindih Yuni, lalu Reni mencium dan mengulum penisku sebentar. Setelah itu segera ia mengarahkan penisku ke vagina Yuni. Setelah lurus, Reni menekan pantatku sehingga penisku masuk ke vagina Yuni. Yuni menjerit dan memanggil namaku dan nama Reni.
Aku menggoyang perlahan beberapa kali, setelah itu kugenjot pantatku dengan cepat. Yuni juga bergoyang dengan cepat. Suara Yuni, suaraku dan suara Reni memeriahkan pergumulan kami. Yuni memeluk dan mendorongku kesamping. Aku tahu dia ingin diatas, maka kuberi kesempatan. Dengan posisi diatas Yuni lebih bisa mengatur dan mencapai nikmatnya bersetubuh.
Yuni menggoyangkan pinggulnya. Aku menggenggam dan meremas susu Yuni. Reni memegangi pantat Yuni dan meraba2 daerah pertemuan penisku dan vagina Yuni. Aku terangsang hebat dan segera kukatakan pada Yuni bahwa aku mau keluar. Yuni mempercepat goyangannya dan akhirnya hamper bersamaan kami mencapai puncak orgasme. Maniku kusemprot kencang di dalam vagina Yuni. Lalu kami lemas terlentang.
Reni menciumku, Yuni juga ikut menciumku, kami tidur berpelukan bertiga dalam keadaan bugil. Aku merasa aneh dan bingung, tapi aku senang sekali. Aku memang mencintai Reni dan Yuni.
“Ketika cinta harus berbagi, maka cinta itu tidak harus pacaran”, kata Reni tiba2. Aku kaget.
Reni dan Yuni bergantian menjelaskan padaku, bahwa kejadian di survey darmawisata antara Reni, Yuni dan aku, menyadarkan mereka bahwa ada cinta yang dalam antara Reni dan Yuni. Saking cintanya sehingga mereka tak tega memperebutkan aku. Akhirnya mereka memutuskan bahwa mereka berbagi dalam mencintaiku, tetapi tak ada yang akan menjadi pacarku. Terus terang aku sama sekali tidak mengerti. Tapi mereka membiarkanku dalam kebingungan.
“Malam ini keluargaku menginap di vila kami di Bukittinggi. Aku tidak ikut karena sudah kelas 3 dan harus rajin belajar. Ayah ibuku setuju asal Reni menemaniku tidur di rumahku. Malam ini kami tidur disini. Kami minta kamu juga menginap disini”, kata Yuni. Aku setuju, tetapi aku harus pulang dulu, minta izin pada om dan tanteku di rumah.
Setelah mendapat izin om, aku segera menuju rumah Yuni. Malam itu aku menginap dan tidur bertiga dengan Reni dan Yuni. Dan malam itu kami bergumul lagi bertiga. Tapi kali ini urutannya terbalik. Yuni duluan hingga dia orgasme, lalu Reni. Malam itu Reni dan aku mencapai puncak orgasme bersama2 dan maniku keluar didalam vagina Reni. Terlelah dan terlelap kami melewatkan malam itu dengan tidur bersama dalam keadaan bugil.
Pagi buta aku terbangun dan turun dari tempat tidur. Sambil berdiri kuperhatikan kedua tubuh bugil Reni dan Yuni. Dua2nya bagus. Penisku juga mengagumi keduanya dan mulai menegang. Aku mendekati Reni dan membopong tubuhnya memindahkan ke sofabed di ruang tamu. Masih dalam keadaan tidur, kugerayangi dan kuciumi seluruh bagian tubuh Reni. Dengan mata yang masih tertidur, Reni menggelinjang. Aku segera membuka selangkangannya, lalu kumasukkan penisku ke vaginanya. Reni mendesah, matanya masih merem.
Aku menggenjot hingga aku keluar dan terkulai lemas menindihnya.
“Terimakasih Jar”, kata Reni sambil matanya merem. Ah ternyata Reni sudah mulai bangun.
“Aku yang terimakasih”, kataku
“Aku terimakasih karena kamu mencintai Yuni juga”, kata Reni menjelaskan. Aku diam sejenak
“Aku juga terimakasih karena kamu mengizinkan aku mencintai Yuni juga”, kataku membalas.
Masih terlentang dengan mata terpejam, Reni memelukku erat. Lalu kami tertidur bugil di sofabed.
Aku terbangun lagi dan hari sudah mulai terang. Reni masih tidur, Yuni juga. Aku ingin adil, maka kuhampiri Yuni dan kucumbu seluruh tubuhnya. Yuni terbangun, dan menanyakan Reni dimana. Aku menunjuk Reni yang masih tidur dan terus mencumbu Yuni. Yuni minta dicumbur bersama Reni. SEtelah kubilang tadi aku sudah mencumbu Reni sendiri, barulah Yuni mau kucumbu sendiri.
Yuni termasuk agresif, saat behubungan seks dengan Yuni, kami sering bergumul bergulingan dan berganti posisi seks. Yuni belum berpengalaman, tapi dia melakukannya secara alami dan naluri. Saat Yuni dan aku asyik bergumul, Reni terbangun dan melihat pergulatan kami. Dia tersenyum khas, menghampiri, mencium rambut Yuni dan rambutku, lalu membiarkan dan menonton Yuni dan aku bergumul. Sampai akhirnya Yuni dan aku orgasme. Walaupun kali ini kurasakan jumlah mani yang kusemprotkan tinggal sedikit.
Setelah usai, kami merapikan rumah, mandi dan sarapan. Lalu Yuni menyuruhku pulang.
Begitulah, pada sabtu2 berikutnya kami belajar bersama, dan bila tidak ada keluarga Yuni, kami belajar bersama sambil bergumul bersama. Dua bulan pertama keluarga Yuni selalu menginap di luar kota dan dalam dua bulan itu setiap malam minggu kami bergumul bersama. Bulan2 berikutnya mulai jarang. Hingga akhirnya kami fokus pada persiapan ujian kelulusan SMA dan tidak bergumul2an lagi. Kami lulus dengan nilai baik, dan semua melanjutkan kuliah.
Atas cinta bertiga ini, aku selalu terngiang kata2 Reni “Ketika cinta harus berbagi, maka cinta itu tidak harus pacaran”.
.
Saat darmawisata itu, kulihat beberapa kali Reni menatap bukit tempat dia dan aku berikrar sebagai pacar. Saat darmawisata itu, kulihat beberapa kali Yuni menatap air terjun tempat dia memberikan perawannya padaku.
Yudi menugaskan Reni, Yuni dan aku membuat laporan panitia darmawisata. Kesempatan ini aku gunakan untuk menyelesaikan permasalahan segitiga kami. Perdebatan alot karena kami semua membela diri. Sampai akhirnya kami sadar bahwa kami semua sama2 salah. Reni dan Yuni tidak saling terbuka bila menyukaiku, sedangkan aku tidak tegas memilih dan menolak.
Yuni membuka diri dan memulai minta maaf kepada Reni dan aku. Aku juga meminta maaf kepada Reni dan Yuni. Reni sejenak terdiam, terlihat airmatanya berlinang, lalu dengan erat dia memeluk Yuni. Akhirnya kami menyatakan perasaan dan melihat kenyataan bahwa kami saling mencintai satu sama lain. Bukan cinta segitiga, tetapi cinta bertiga dan untuk sementara kita saling menjaga cinta unik ini. Cinta tidak harus pacaran dan mereka memutuskan bahwa aku bukan pacar Reni dan juga bukan pacar Yuni. Waduhh..!
Usai liburan, kembali masuk sekolah di kelas 3 SMA. Kebijakan sekolah adalah tidak mengubah kelas, sehingga kami sekelas kembali dengan teman2 sekelas di kelas 2. Artinya Reni, Yuni dan aku kembali sekelas, tapi tidak lagi aktif jadi pengurus kelas. Aku tetap berusaha merayu Reni untuk menjadi pacarku, tapi dia terlihat menghindar dan hanya menjawab dengan senyumnya yang khas.
Saat wali kelas menyuruh membentuk kelompok belajar kecil 3 sampai 5 siswa, Reni dan Yuni memasukkan aku jadi kelompok mereka. Aku melihat mereka dan mereka hanya tersenyum penuh misteri. Mereka sepakat belajar bersama dilakukan hari rabu sore di rumah Reni dan sabtu sore di rumah Yuni.
Belajar bersama hari rabu sore berjalan lancar, kami belajar bersama di rumah Reni yang tidak terlalu besar dan disambut hangat oleh keluarganya. Belajar bersama di rumah Yuni terasa janggal. Rumahnya sepi. Saat belajar bersama, Reni dan Yuni malah membicarakan masalah baju pesta hingga baju tidur. Lalu mereka beranjak ke lemari Yuni dan tanpa sungkan mengganti pakaian di depanku. Tentu saja aku berulangkali menelan ludah. Sampai akhirnya mereka sama2 memakai daster.
“Nah belajar sambil pake daster ini baru enak, lebih leluasa. Ya kan Ren?”, tanya Yuni.
“Tapi lebih enak pake daster ini, yang tanpa lengan, terus lubang lengannya besar, terus pendek sepaha”, kata Reni yang langsung mengenakan daster mini. Yuni kembali memilih baju di lemarinya.
“Ini ada yang lebih simple dan tipis”, kata Yuni.
“Kalau pakai yang tipis, bh dan cd nya kelihatan, warnanya tidak cocok”, kata Reni.
“Kalau begitu jangan pake bh dan cd dong”, kata Yuni sambil mencopot celana dalam dan bhnya lalu menggunakan kembali daster tipisnya.
“Aku juga ah, biar plong”, kata Reni yang juga mencopot celana dalam dan bhnya lalu menggunakan daster minimnya.
Setelah itu mereka kembali kepadaku untuk belajar bersama sambil tiduran. Aku tak bisa konsentrasi belajar karena didepanku ada dua gadis hanya berbalut pakaian minim dan tipis. Mereka bagaikan bugil saja. Reni dan Yuni tersenyum melihat kekikukanku.
“Eh lihat, pentilmu kelihatan”, kata Yuni sambil tangannya memegang puting susu Reni yang membekas didasternya.
“Kamu juga kelihatan tuh”, Reni membalas memegang puting susu Yuni yang terlihat jelas dibalik dasternya. Lalu mereka saling memainkan puting susu sahabatnya.
“Enak ya..”, terasa sekali mereka menggodaku. Dan tentu saja aku terangsang. Degup dadaku mengencang, penisku mulai menegang.
“Eh, kakinya jangan digerak2in begitu. Dasternya kan pendek. Tuh memeknya jadi kelihatan”, Yuni menunjuk vagina Reni yang tersingkap. Tapi Yuni juga menggerakkan kakinya sehingga vaginanya tersingkap.
“Wah bulu memekmu bagus ya..”, tangan Yuni mengelus2 vagina Reni.
“Kamu juga. Memekmu tebal”, kata Reni membalas mengelus vagina Yuni.
Aku tak tahan lagi. Aku ikut tiduran didekat mereka. Kuhampiri Reni dari belakang dan kucium tengkuknya. Reni dan Yuni tersenyum. Reni membalikkan tubuhnya menghadapku, sedangkan Yuni beranjak dan berpindah ke belakangku.
Reni mencium bibirku. Tanganku menggerayangi susu dan vagina Reni. Matanya terpejam. Yuni sibuk mencopot celanaku, lalu menggenggam dan mengusap2 penisku. Aku tak begitu memperhatikan Yuni, aku hanya senang dan sangat senang bisa mencium Reni. Telah beberapa bulan ini Reni selalu menghindar.
Aku mengangkat dan mencopot daster Reni sehingga dia bugil. Lalu akupun mencopot bajuku hingga bugil juga. Reni menyuruh Yuni untuk bugil juga. Aku tetap tak mempedulikan Yuni. Aku hanya ingin melepas dahagaku dan menunjukkan cintaku pada Reni. Maka segera kulumat kedua susunya, kunikmati dengan sepuas2nya. Yuni kubiarkan berbuat semaunya. Dia mengambil penisku dan mulai menciuminya.
Aku terus mencumbu mesra Reni. Setelah membelai vaginanya, aku mulai menciumi dan menjilati itil dan lubang vaginanya. Reni mengerang keras. Melihat aku memainkan vagina Reni, dan menderang erangan Reni, tanpa sadar Yunipun ikut mengerang. Yuni gemas dan menggigit penisku pelan.
Aku kembali mencium bibir Reni dan mendekap erat. Yuni yang tak mau melepas penisku, melihat jarak penisku dan vagina Reni sudah mendekat. Yuni melepaskan emutan penis, memegang penisku dan didekatkan ke vagina Reni. Aku merasa penisku sudah menempel di vagina Reni. Yuni meluruskan dan mendorong penisku hingga kepala penisku mulai masuk ke lubang vagina Reni.
Reni menatapku dengan mata sayu dan pasrah. Sesekali dia menyebut namaku. Kupanggil juga namanya, dan tanpa membuang waktu kutekan pantatku sehingga penisku amblas kedalam vaginanya.
“Aww.. Jar.. Yuni..”, Reni menjerit sambil memanggil namaku dan juga memanggil Yuni.
Aku genjot sekali lagi sehingga penisku keluar lalu masuk lagi ke vaginanya.
“Awwh.. Yuni..”, Reni memanggil Yuni. Yuni mendekat kekepala Reni dan memandang Reni.
“Ennakk Yunn..”, kata Reni. Aku menciumi susu Reni dan menggenjot lagi berulang2 dan menimbulkan bunyi ceplak ceplok saat vagina Reni tersodok2 penisku.
Reni mengerang, menarik kepala Yuni mendekat. “Enak Yun, nanti gantian ya..”, kata Reni dengan suara terengah2. Aku tak peduli. Aku hanya ingin melampiaskan rinduku pada Reni.
Sekarang Reni menggerakkan pinggulnya dengan kencang dan terus berkoceh ke Yuni. Yuni mengelus kepala Reni sambil melihatku menggenjot dan menciumi susu Reni. Aku mengangkat kepala dan dadaku dan membiarkan Yuni melihat penisku keluar masuk vagina Reni.
Reni tak tahan lagi. Dia mengerang kerass sekali. Lalu terkulai lemas. Aku terus menggenjot ingin mengeluarkan maniku. Tapi Reni merangkul leherku dan berkata “Aku sudah Jar, sekarang gantian Yuni”
“Tapi aku cinta kamu Ren”, kataku terengah.
“Tapi Yuni juga cinta kamu Jar”, balas Reni, “dan aku cinta Yuni”, lanjut Reni. “Jadi kalau kamu cinta aku, kamu harus cinta Yuni juga”, kata Reni sambil mengusap kepalaku.
Aku terdiam dan menghentikan genjotanku. Memandang Yuni. Yuni tersenyum menunggu. Aku memandang Reni. Reni mengangguk, menyuruhku ke Yuni. Aku memeluk erat Reni. Reni mendorongku pelan2.
“Jar, bilang kalau kamu juga cinta Yuni”, Reni memaksaku. Pelan aku mengangguk. Lalu menghampiri Yuni.
“Yun, aku cinta kamu”, kataku. “Aku juga cinta kamu Jar”, kata Yuni.
Aku mencium bibirnya, merebahkannya lalu menindihnya. Sebenarnya secara tubuh, Yuni lebih menarik. Berkulit lebih putih, lebih padat, dengan susu dan vagina yang lebih sintal. Tapi aku lebih suka Reni karena senyumnya. Tapi aku sedang dalam gairah seks yang tinggi, maka tubuh Yuni tak kusia2kan. Kulumat susu dan vaginanya hingga Yuni mengerang dan memanggil2 Reni.
Reni menghampiri Yuni, membelai rambutnya. Lalu Reni juga membelai rambutku, punggungku dan pantatku. Reni memintaku mengangkat pantatku yang menindih Yuni, lalu Reni mencium dan mengulum penisku sebentar. Setelah itu segera ia mengarahkan penisku ke vagina Yuni. Setelah lurus, Reni menekan pantatku sehingga penisku masuk ke vagina Yuni. Yuni menjerit dan memanggil namaku dan nama Reni.
Aku menggoyang perlahan beberapa kali, setelah itu kugenjot pantatku dengan cepat. Yuni juga bergoyang dengan cepat. Suara Yuni, suaraku dan suara Reni memeriahkan pergumulan kami. Yuni memeluk dan mendorongku kesamping. Aku tahu dia ingin diatas, maka kuberi kesempatan. Dengan posisi diatas Yuni lebih bisa mengatur dan mencapai nikmatnya bersetubuh.
Yuni menggoyangkan pinggulnya. Aku menggenggam dan meremas susu Yuni. Reni memegangi pantat Yuni dan meraba2 daerah pertemuan penisku dan vagina Yuni. Aku terangsang hebat dan segera kukatakan pada Yuni bahwa aku mau keluar. Yuni mempercepat goyangannya dan akhirnya hamper bersamaan kami mencapai puncak orgasme. Maniku kusemprot kencang di dalam vagina Yuni. Lalu kami lemas terlentang.
Reni menciumku, Yuni juga ikut menciumku, kami tidur berpelukan bertiga dalam keadaan bugil. Aku merasa aneh dan bingung, tapi aku senang sekali. Aku memang mencintai Reni dan Yuni.
“Ketika cinta harus berbagi, maka cinta itu tidak harus pacaran”, kata Reni tiba2. Aku kaget.
Reni dan Yuni bergantian menjelaskan padaku, bahwa kejadian di survey darmawisata antara Reni, Yuni dan aku, menyadarkan mereka bahwa ada cinta yang dalam antara Reni dan Yuni. Saking cintanya sehingga mereka tak tega memperebutkan aku. Akhirnya mereka memutuskan bahwa mereka berbagi dalam mencintaiku, tetapi tak ada yang akan menjadi pacarku. Terus terang aku sama sekali tidak mengerti. Tapi mereka membiarkanku dalam kebingungan.
“Malam ini keluargaku menginap di vila kami di Bukittinggi. Aku tidak ikut karena sudah kelas 3 dan harus rajin belajar. Ayah ibuku setuju asal Reni menemaniku tidur di rumahku. Malam ini kami tidur disini. Kami minta kamu juga menginap disini”, kata Yuni. Aku setuju, tetapi aku harus pulang dulu, minta izin pada om dan tanteku di rumah.
Setelah mendapat izin om, aku segera menuju rumah Yuni. Malam itu aku menginap dan tidur bertiga dengan Reni dan Yuni. Dan malam itu kami bergumul lagi bertiga. Tapi kali ini urutannya terbalik. Yuni duluan hingga dia orgasme, lalu Reni. Malam itu Reni dan aku mencapai puncak orgasme bersama2 dan maniku keluar didalam vagina Reni. Terlelah dan terlelap kami melewatkan malam itu dengan tidur bersama dalam keadaan bugil.
Pagi buta aku terbangun dan turun dari tempat tidur. Sambil berdiri kuperhatikan kedua tubuh bugil Reni dan Yuni. Dua2nya bagus. Penisku juga mengagumi keduanya dan mulai menegang. Aku mendekati Reni dan membopong tubuhnya memindahkan ke sofabed di ruang tamu. Masih dalam keadaan tidur, kugerayangi dan kuciumi seluruh bagian tubuh Reni. Dengan mata yang masih tertidur, Reni menggelinjang. Aku segera membuka selangkangannya, lalu kumasukkan penisku ke vaginanya. Reni mendesah, matanya masih merem.
Aku menggenjot hingga aku keluar dan terkulai lemas menindihnya.
“Terimakasih Jar”, kata Reni sambil matanya merem. Ah ternyata Reni sudah mulai bangun.
“Aku yang terimakasih”, kataku
“Aku terimakasih karena kamu mencintai Yuni juga”, kata Reni menjelaskan. Aku diam sejenak
“Aku juga terimakasih karena kamu mengizinkan aku mencintai Yuni juga”, kataku membalas.
Masih terlentang dengan mata terpejam, Reni memelukku erat. Lalu kami tertidur bugil di sofabed.
Aku terbangun lagi dan hari sudah mulai terang. Reni masih tidur, Yuni juga. Aku ingin adil, maka kuhampiri Yuni dan kucumbu seluruh tubuhnya. Yuni terbangun, dan menanyakan Reni dimana. Aku menunjuk Reni yang masih tidur dan terus mencumbu Yuni. Yuni minta dicumbur bersama Reni. SEtelah kubilang tadi aku sudah mencumbu Reni sendiri, barulah Yuni mau kucumbu sendiri.
Yuni termasuk agresif, saat behubungan seks dengan Yuni, kami sering bergumul bergulingan dan berganti posisi seks. Yuni belum berpengalaman, tapi dia melakukannya secara alami dan naluri. Saat Yuni dan aku asyik bergumul, Reni terbangun dan melihat pergulatan kami. Dia tersenyum khas, menghampiri, mencium rambut Yuni dan rambutku, lalu membiarkan dan menonton Yuni dan aku bergumul. Sampai akhirnya Yuni dan aku orgasme. Walaupun kali ini kurasakan jumlah mani yang kusemprotkan tinggal sedikit.
Setelah usai, kami merapikan rumah, mandi dan sarapan. Lalu Yuni menyuruhku pulang.
Begitulah, pada sabtu2 berikutnya kami belajar bersama, dan bila tidak ada keluarga Yuni, kami belajar bersama sambil bergumul bersama. Dua bulan pertama keluarga Yuni selalu menginap di luar kota dan dalam dua bulan itu setiap malam minggu kami bergumul bersama. Bulan2 berikutnya mulai jarang. Hingga akhirnya kami fokus pada persiapan ujian kelulusan SMA dan tidak bergumul2an lagi. Kami lulus dengan nilai baik, dan semua melanjutkan kuliah.
Atas cinta bertiga ini, aku selalu terngiang kata2 Reni “Ketika cinta harus berbagi, maka cinta itu tidak harus pacaran”.
.
Selasa, 24 Maret 2009
Selingkuh berbalas selingkuh
Karena bantuan dan pertemanan om, aku dapat beasiswa untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Bogor. Karena bantuan om, aku dititipkan di rumah teman om di daerah Warung Jambu, Bogor. Teman om bernama Om Hendri, 42 tahun, bekerja di stasiun tivi swasta di Jakarta. Istrinya tante Leni, 36 tahun, aktivis LSM untuk lingkungan hidup. Mereka mempunyai dua anak Widya, 14 tahun dan Toni 8 tahun.
Bulan2 awal memang sibuk dengan masa orientasi dan pengenalan kampus baru. Setelah beberapa bulan aku baru punya waktu agak santai. Kugunakan waktu akhir pekanku bermalam minggu ke tempat kos Rendi, anak omku. Di sana ada Lisa pacar Rendi. Kami mengobrol biasa, lalu mengantar Lisa pulang ke tempat kosnya.
Tempat kos Lisa berupa rumah yang cukup besar dengan 20an kamar kos. Ibu kostnya ada di rumah sebelah yang terpisah. Dari tempat kos Lisa, aku melihat orang seperti om Hendri sedang mengobrol dengan seorang wanita di rumah sebelah. Saat kutanya Lisa, ternyata laki2 itu adalah tunangan dari ibu kosnya, Bu Heni yang saat itu sedang diajak ngobrol. Laki2 itu sering menginap di rumah bu Heni. Aku kaget, tidak jadi menyapa orang itu dan bilang pada Rendi dan Lisa bahwa aku tidak kenal orang itu. Kuperhatikan mobil2 yang parkir di halaman, ternyata memang mobil om Hendri. Karena hanya mengantar, Rendi dan aku segera pamit. Malam itu aku menginap di rumah Rendi.
Seminggu kemudian om Hendri mengajakku menemani ke tempat kerjanya di Jakarta. Aku ikut karena memang ingin tahu suasana kerja di pertelevisian. Di jalan om Hendri bilang dia melihatku di kos2an Lisa, dan dia tahu aku melihatnya di rumah bu Heni. Dia minta agar aku menjaga rahasia ini. Aku hanya mengatakan bahwa aku tak mau terlibat dalam hal ini.
Tapi ini justru awal keterlibatanku. Suatu hari, gantian tante Leni yang menginterogasiku. Dia melihat gelagat suaminya yang takut kepadaku, jadi tante menduga aku tahu rahasia om Hendri. Rupanya tante Leni sudah tahu bahwa om Hendri berselingkuh sejak dua tahun lalu, bahkan dia sudah pernah bertatap muka dengan wanita itu. Tante Leni tidak berani ribut karena anak2 masih kecil.
Suatu kali aku pulang agak malam karena ada kuliah tambahan dan jalan2 dengan teman. Aku masuk lewat pintu samping karena memang aku diberi duplikat kunci oleh om dan tante. Setiba di dalam rumah, kulihat tante Lisa duduk sendiri di bangku teras belakang. Kuhampiri dan terlihat matanya berlinang.
“tante sedih. Kemarin mengantar om ke bandara karena tugas luar, tetapi tante lihat wanita selingkuhan om itu juga sedang cek-in dengan flight yang sama dengan suami tante. Mereka berselingkuh di luar kota”, tante tersedu.
Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya menggenggam tangannya. Tante masih terisak. Aku dudud disebelahnya, memeluk bahunya dan mendekapkan kepalanya kepundakku. Isaknya mulai tenang. Setelah tenang, tante tidak beranjak.
Aku yang tadi terbawa suasana sedih sekarang tersadar sedang memeluk wanita. Aku mulai bergairah. Ku geser pundakku dan kubantu kepalanya rebah di pahaku. Tante mengikuti.
Saat rebahan itu aku memperhatikan tante. Di usia 36, dia masih segar dan badannya masih langsing, mungkin karena aktif dalam kegiatan LSM. Dari balik daster tipisnya terlihat bentukan susu dan putingnya. Tanganku yang tergeletak di pinggangnya mulai bergeser dan meraba susunya. Tante menatapku. Aku sudah terangsang. Segera kucium bibir tante dan dia membalas melumat bibirku. Kami mendesah2. Tanganku meremas susu tante dan memainkan putingnya.
Udara malam membuat kami semakin menghangat. Tanganku bergerilya ke bagian selangkangan tante. Tebakanku benar, tante tidak memakai cd. Terasa sebaran bulunya dibalik daster. Langsung saja kusingkap dasternya dan kugenggam vaginanya. “mmhh..” sambil berciuman tante mendesah.
Aku tak tahan. Kuhentikan ciuman dan mengangkat kepala tante dari pahaku. Aku segera membuka celanaku sehingga penisku yang sudah mulai menegang menyembul keluar. Tante melihat penisku dan melihatku. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Segera dia membelai, mencium dan mengulum penisku. Aku terangsang hebat dan tanganku terus meremas2 kedua susunya.
Saat itu terang bulan, perbuatan kami jelas terlihat. Aku jadi teringat anak2 dan menghentikan emutan tante dipenisku.
“Mereka sudah tidur”, kata tante Leni.
Mendapat jaminan itu, aku segera mencopot daster tante Leni sehingga dia bugil dalam keadaan berdiri. Tubuhnya masih sintal, walaupun susunya sedikit mengendur, tapi dalam kondisi terangsang ini terlhat padat dengan pentil besar yang menantang. Bulu jembutnya lebat sekali menutup vaginanya. Kubelai2 bulu jembut itu, dan kusibak untuk melihat vaginanya. Hmm, vaginanya hitam dengan itil kecoklatan. Kuciumi vagina dan bulu jembutnya.
Tante Leni mengangkatku berdiri dan mencopot bajuku lalu celanaku. Kami jadi bugil berduaan di teras belakang dibawah sinar rembulan. Tante Leni agresif mencium bibir dan memelukku. Sementara aku membalas ciuman panasnya dan berusaha meremas dada. Tangan satunya meremas2 pantatnya yang padat. Penisku terselip diselangkangannya dan menempel di vaginanya.
Aku rebahkan tante Leni di bangku dan kuciumi dia dari jidat, bibir, leher, susu, perut, vagina, paha, betis hingga kaki. Lalu aku kembali ke susunya untuk mencium dan menghisap2. Tante Leni bergelinjangan. Aku juga tak mau melepaskan kesempatan untuk melihat vagina dibalik semak jembut. Kumainkan itil dan lubang vaginanya. Tante Leni bergelinjang lebih hebat lagi. Dia mendesah tapi dengan mulut tertutup menahan suara.
Kubuka bibir vaginanya, kujulurkan lidahku mengenai daerah vaginanya. Tante Leni menggerak2kan pinggulnya. Kuarahkan lidahku ke itilnya. Saat menyentuh itilnya, tante Leni tak dapat menahan suaranya “awwhhh..”, mulutnya terbuka menjerit mendesah. Maka kuteruskan menjilati seluruh bagian vaginanya.
Aku menikmati menjilati vagina sambil meremas2 susu tante Leni. Tiba2 tante Leni mengangkat tinggi pinggulnya dan mengejang “aaaahhhhh….”. dia mencapai orgasme dan langsung terkulai lemas di bangku.
Aku tersenyum, diapun tersenyum. Dia melihat ke penisku yang masih tegang, dibelai2 penisku dan ditarik kearah mulutnya, lalu dia mulai mengulum, mengocok dan menghisap2 penisku. Aku terangsang. Dan terus memainkan jariku di itil dan lubang vagina tante. Setelah beberapa lama kelihatannya tante mulai terangsang lagi. Aku tak menyia2kan kesempatan, diatas bangku itu kutindih dia. Tangannya membantu penisku mengarah ke vagina. Lalu bless.. cleps..clepss.. tanpa ragu2 aku langsung mengayun pantatku naik turun. Penisku menghunjam hingga keujung dalam vaginanya.
Tante Leni memang agresif, dia bangkit dan gantian merebahkanku. Lalu dia duduk diatasku dan memasukkan penis ke vaginanya. Goyangan tante Leni sangat kuat, dia menengadah ke atas menatap bulan dan mengeracau dengan kalimat yang tidak jelas. Aku tidak mau kalah agresif. Aku berdiri dan mendorong tante Leni untuk membungkuk, lalu kusodokkan penis ke vagina dari arah belakang. Maka semakin tidak jelaslah suara tante Leni mendesah dan mengerang.
Suara tante Leni menambah gairahku. Sodokan kupercepat. Dan aku merasakan maniku siap keluar, “tante.. a ku ma u ke lu arrr..”. Tante mencabut penisku dan merebahkanku di lantai. Kembali ia duduk diatasku, memasukkan penisku dan menggoyang dengan cepat. Crott.. croott.. aku tak tahan dan maniku menyemprot di dalam vagina tante. Tante terus menggenjot “ah.. ah..”. “Aaaaahhhh..”, tante mengerang panjang dan terkulai diatas tubuhku.
Aku membiarkan penisku didalam vaginanya. Perlahan memendek dan akhirnya penisku keluar sendiri dari vagina tante. Kami bertatapan puas. Tante beranjak dan melihat banyak spermaku meleleh keluar dari vaginanya. Kami membawa pakaian masing2 dan menuju kamar mandi yang berbeda sambil saling berpamitan mau tidur.
Sejak malam itu, kalau om Hendri tidak pulang, tengah malam tante mengetuk pintu kamarku yang berada di pavilion belakang. Dan dikamarku kami memuaskan diri. Aku tidak berani ke kamarnya karena bersebelahan dengan kamar anak2. Sejak saat itu tante tampak banyak tersenyum dan tidak terlalu memikirkan perselingkuhan suaminya. Karena dia bisa membalas dengan berselingkuh juga.
.
Bulan2 awal memang sibuk dengan masa orientasi dan pengenalan kampus baru. Setelah beberapa bulan aku baru punya waktu agak santai. Kugunakan waktu akhir pekanku bermalam minggu ke tempat kos Rendi, anak omku. Di sana ada Lisa pacar Rendi. Kami mengobrol biasa, lalu mengantar Lisa pulang ke tempat kosnya.
Tempat kos Lisa berupa rumah yang cukup besar dengan 20an kamar kos. Ibu kostnya ada di rumah sebelah yang terpisah. Dari tempat kos Lisa, aku melihat orang seperti om Hendri sedang mengobrol dengan seorang wanita di rumah sebelah. Saat kutanya Lisa, ternyata laki2 itu adalah tunangan dari ibu kosnya, Bu Heni yang saat itu sedang diajak ngobrol. Laki2 itu sering menginap di rumah bu Heni. Aku kaget, tidak jadi menyapa orang itu dan bilang pada Rendi dan Lisa bahwa aku tidak kenal orang itu. Kuperhatikan mobil2 yang parkir di halaman, ternyata memang mobil om Hendri. Karena hanya mengantar, Rendi dan aku segera pamit. Malam itu aku menginap di rumah Rendi.
Seminggu kemudian om Hendri mengajakku menemani ke tempat kerjanya di Jakarta. Aku ikut karena memang ingin tahu suasana kerja di pertelevisian. Di jalan om Hendri bilang dia melihatku di kos2an Lisa, dan dia tahu aku melihatnya di rumah bu Heni. Dia minta agar aku menjaga rahasia ini. Aku hanya mengatakan bahwa aku tak mau terlibat dalam hal ini.
Tapi ini justru awal keterlibatanku. Suatu hari, gantian tante Leni yang menginterogasiku. Dia melihat gelagat suaminya yang takut kepadaku, jadi tante menduga aku tahu rahasia om Hendri. Rupanya tante Leni sudah tahu bahwa om Hendri berselingkuh sejak dua tahun lalu, bahkan dia sudah pernah bertatap muka dengan wanita itu. Tante Leni tidak berani ribut karena anak2 masih kecil.
Suatu kali aku pulang agak malam karena ada kuliah tambahan dan jalan2 dengan teman. Aku masuk lewat pintu samping karena memang aku diberi duplikat kunci oleh om dan tante. Setiba di dalam rumah, kulihat tante Lisa duduk sendiri di bangku teras belakang. Kuhampiri dan terlihat matanya berlinang.
“tante sedih. Kemarin mengantar om ke bandara karena tugas luar, tetapi tante lihat wanita selingkuhan om itu juga sedang cek-in dengan flight yang sama dengan suami tante. Mereka berselingkuh di luar kota”, tante tersedu.
Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya menggenggam tangannya. Tante masih terisak. Aku dudud disebelahnya, memeluk bahunya dan mendekapkan kepalanya kepundakku. Isaknya mulai tenang. Setelah tenang, tante tidak beranjak.
Aku yang tadi terbawa suasana sedih sekarang tersadar sedang memeluk wanita. Aku mulai bergairah. Ku geser pundakku dan kubantu kepalanya rebah di pahaku. Tante mengikuti.
Saat rebahan itu aku memperhatikan tante. Di usia 36, dia masih segar dan badannya masih langsing, mungkin karena aktif dalam kegiatan LSM. Dari balik daster tipisnya terlihat bentukan susu dan putingnya. Tanganku yang tergeletak di pinggangnya mulai bergeser dan meraba susunya. Tante menatapku. Aku sudah terangsang. Segera kucium bibir tante dan dia membalas melumat bibirku. Kami mendesah2. Tanganku meremas susu tante dan memainkan putingnya.
Udara malam membuat kami semakin menghangat. Tanganku bergerilya ke bagian selangkangan tante. Tebakanku benar, tante tidak memakai cd. Terasa sebaran bulunya dibalik daster. Langsung saja kusingkap dasternya dan kugenggam vaginanya. “mmhh..” sambil berciuman tante mendesah.
Aku tak tahan. Kuhentikan ciuman dan mengangkat kepala tante dari pahaku. Aku segera membuka celanaku sehingga penisku yang sudah mulai menegang menyembul keluar. Tante melihat penisku dan melihatku. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Segera dia membelai, mencium dan mengulum penisku. Aku terangsang hebat dan tanganku terus meremas2 kedua susunya.
Saat itu terang bulan, perbuatan kami jelas terlihat. Aku jadi teringat anak2 dan menghentikan emutan tante dipenisku.
“Mereka sudah tidur”, kata tante Leni.
Mendapat jaminan itu, aku segera mencopot daster tante Leni sehingga dia bugil dalam keadaan berdiri. Tubuhnya masih sintal, walaupun susunya sedikit mengendur, tapi dalam kondisi terangsang ini terlhat padat dengan pentil besar yang menantang. Bulu jembutnya lebat sekali menutup vaginanya. Kubelai2 bulu jembut itu, dan kusibak untuk melihat vaginanya. Hmm, vaginanya hitam dengan itil kecoklatan. Kuciumi vagina dan bulu jembutnya.
Tante Leni mengangkatku berdiri dan mencopot bajuku lalu celanaku. Kami jadi bugil berduaan di teras belakang dibawah sinar rembulan. Tante Leni agresif mencium bibir dan memelukku. Sementara aku membalas ciuman panasnya dan berusaha meremas dada. Tangan satunya meremas2 pantatnya yang padat. Penisku terselip diselangkangannya dan menempel di vaginanya.
Aku rebahkan tante Leni di bangku dan kuciumi dia dari jidat, bibir, leher, susu, perut, vagina, paha, betis hingga kaki. Lalu aku kembali ke susunya untuk mencium dan menghisap2. Tante Leni bergelinjangan. Aku juga tak mau melepaskan kesempatan untuk melihat vagina dibalik semak jembut. Kumainkan itil dan lubang vaginanya. Tante Leni bergelinjang lebih hebat lagi. Dia mendesah tapi dengan mulut tertutup menahan suara.
Kubuka bibir vaginanya, kujulurkan lidahku mengenai daerah vaginanya. Tante Leni menggerak2kan pinggulnya. Kuarahkan lidahku ke itilnya. Saat menyentuh itilnya, tante Leni tak dapat menahan suaranya “awwhhh..”, mulutnya terbuka menjerit mendesah. Maka kuteruskan menjilati seluruh bagian vaginanya.
Aku menikmati menjilati vagina sambil meremas2 susu tante Leni. Tiba2 tante Leni mengangkat tinggi pinggulnya dan mengejang “aaaahhhhh….”. dia mencapai orgasme dan langsung terkulai lemas di bangku.
Aku tersenyum, diapun tersenyum. Dia melihat ke penisku yang masih tegang, dibelai2 penisku dan ditarik kearah mulutnya, lalu dia mulai mengulum, mengocok dan menghisap2 penisku. Aku terangsang. Dan terus memainkan jariku di itil dan lubang vagina tante. Setelah beberapa lama kelihatannya tante mulai terangsang lagi. Aku tak menyia2kan kesempatan, diatas bangku itu kutindih dia. Tangannya membantu penisku mengarah ke vagina. Lalu bless.. cleps..clepss.. tanpa ragu2 aku langsung mengayun pantatku naik turun. Penisku menghunjam hingga keujung dalam vaginanya.
Tante Leni memang agresif, dia bangkit dan gantian merebahkanku. Lalu dia duduk diatasku dan memasukkan penis ke vaginanya. Goyangan tante Leni sangat kuat, dia menengadah ke atas menatap bulan dan mengeracau dengan kalimat yang tidak jelas. Aku tidak mau kalah agresif. Aku berdiri dan mendorong tante Leni untuk membungkuk, lalu kusodokkan penis ke vagina dari arah belakang. Maka semakin tidak jelaslah suara tante Leni mendesah dan mengerang.
Suara tante Leni menambah gairahku. Sodokan kupercepat. Dan aku merasakan maniku siap keluar, “tante.. a ku ma u ke lu arrr..”. Tante mencabut penisku dan merebahkanku di lantai. Kembali ia duduk diatasku, memasukkan penisku dan menggoyang dengan cepat. Crott.. croott.. aku tak tahan dan maniku menyemprot di dalam vagina tante. Tante terus menggenjot “ah.. ah..”. “Aaaaahhhh..”, tante mengerang panjang dan terkulai diatas tubuhku.
Aku membiarkan penisku didalam vaginanya. Perlahan memendek dan akhirnya penisku keluar sendiri dari vagina tante. Kami bertatapan puas. Tante beranjak dan melihat banyak spermaku meleleh keluar dari vaginanya. Kami membawa pakaian masing2 dan menuju kamar mandi yang berbeda sambil saling berpamitan mau tidur.
Sejak malam itu, kalau om Hendri tidak pulang, tengah malam tante mengetuk pintu kamarku yang berada di pavilion belakang. Dan dikamarku kami memuaskan diri. Aku tidak berani ke kamarnya karena bersebelahan dengan kamar anak2. Sejak saat itu tante tampak banyak tersenyum dan tidak terlalu memikirkan perselingkuhan suaminya. Karena dia bisa membalas dengan berselingkuh juga.
.
Langganan:
Postingan (Atom)