Minggu, 24 Mei 2009

Seks Setengah Sadar

Pengumuman kelulusan membuat kami bergembira. Mencoret2 baju kami, saling memberi kenang2an. Saling traktir makan dan bergoncengan motor berkeliling kota. Salah satu teman mengajak untuk merayakan kelulusan di diskotek di Bandung. Banyak yang tidak bisa ikut, jadi hanya berenam menggunakan tiga motor menuju Bandung.

Aku belum pernah ke diskotek, jadi aku benar2 mengikuti teman2 saja. Mereka pesan minum dan makanan, aku ikut. Mereka berjoget, aku juga ikut joget. Tapi lama2 kepalaku pusing, sehingga aku memilih duduk.

"Hai..", seorang wanita menyapaku.Aku seperti mengenal wanita itu, tetapi dimana? Siapa?
"Aku Heni, sepupunya Soraya", dia memperkenalkan diri. Aku ingat, dia adalah pacar anaknya tante Soraya yang ketemu saat aku mengantarkan Soraya kerumah tantenya di Bandung.

Kami ngobrol2 dan Heni mentraktirku minum dan makanan ringan. Tak lama teman2ku mengajak keluar untuk jalan2 ke tempat lain di kota Bandung, lalu pulang ke Tasik.

"Nanti saja pulangnya, atau kamu nginep di rumah om malam ini , besok baru pulang", Heni memberi saran kepadaku sambil memperkenalkan diri sebagai sepupu jauhku. Aku mengangguk. Karena tahu aku sering nginap di rumah om di Bandung, teman2 setuju dan meninggalkanku.

Heni dan aku melanjutkan mengobrol, makan minum, dan sesekali berjoget. Mataku semakin berat, aku merasa sulit berpikir. Sayup2 aku diajak pulang naik mobil. Dimobil aku tertidur. Saat turun dari mobil, sayup2 aku dituntun untuk tidur dikasur, lalu tertidur lelap.

Dalam tidur aku bermimpi. Kembali berjoget dengan Heni, bukan didiskotek tapi dirumah. Saat kecapekan berjoget aku merebahkan diri di lantai. Heni tersenyum lalu menghampiriku. Mencium kening dan pipiku dan aku hanya tersenyum memandangnya. Sambil tetap tersenyum Heni membuka kancing baju, menciumi dada dan perutku. Lalu ia membuka celana panjangku dan mencopotnya. Dia meraba celana pendekku, menggenggam penis yang tersembunyi didalam celana pendek dan membelai2.

Aku ingin berontak tapi terasa lemas. Disisi lain aku merasa nyaman penisku dibelai2. Heni tetap tersenyum memandangku. Lalu celana pendekku dicopot sehingga tampak jelas penisku yang mulai ngaceng. Tak lama kemudian dia sudah membelai dan menjilati penisku. Aku terangsang dan semakin ngaceng.

Kulihat Heni berdiri dan mencopot seluruh pakaiannya hingga bugil, dengan bukit susu yang besar dan padat, serta vagina dengan bulu jembut yang baru dicukur. Heni menghampiriku dan menyodorkan susunya ke mulutku. Aku terlalu lemas untuk menggerakkan kepala menghampiri susu, sehingga aku hanya bisa menghisap puting susu yang diletakkan di mulutku. Bergantian Heni memberikan susu kiri dan kanan ke mulutku, dan ia menikmati hisapan lemah.

Tak lama ia kembali menghampiri penisku dan mempermainkan dengan mulutnya. Lalu ia duduk dipahaku sambil memegang penis. Diarahkan penis ke vaginanya dan mulailah ia menekan untuk memasukkan penis ke vagina. Perlahan tapi pasti penisku masuk semua kedalam vagina Heni. Aku berhubungan seks dengan Heni!

Heni menggoyang2kan pantatnya naik turun sehingga penisku berulangkali masuk dan keluar vaginanya. Heni menikmati seks ini dan memutar2kan pantatnya. Terus dan terus sampai ia mencapai puncak dan terkulai lemas menindihku. Lalu bergulir terbaring disebelahku.

Melihat penisku masih tegang. Heni merasa iba dan kembali menaiki aku dan memasukkan penisku ke vaginanya. Lalu ia kembali menggoyang2kan pantatnya naik turun dan berputar2. Terus dan terus, sampai aku mengeluarkan mani. Merasa ada cairan hangat keluar dari penisku, Heni segera mencabut vaginanya, dan membiarkan maniku muncrat di perutku. Membuatku semakin lemas.

Sesaat aku terjaga. Ahh.. ternyata ini hanya mimpi indah saja..
Aku membuka mata lebar2 dan aku merasa asing terhadap situasi kamar tidurku. Aku tidak tidur di rumahku atau di rumah Om. Saat aku akan beranjak dari tempat tidur.. ah, ternyata aku bugil.
Aku menoleh ketempat tidur.. lho, ternyata ada Heni sedang tidur.
Jangan2...
Aku menyingkap selimut Heni, dan benar.. Heni tidur dalam keadaan bugil.
Aku mengambil celanaku yang berserakan di lantai dan memakainya kembali. Heni terjaga, dan kaget. Ia bangun sambil menutupi tubuh bugilnya dengan selimut, lalu mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan masuk ke kamar.

Heni keluar kamar mandi dengan pakaian lengkap. Berdiri menatapku.Aku kikuk, dan karena matahari sudah mulai tinggi aku berpamitan pulang. Heni segera mengantarku dengan mobilnya. Aku mau ke rumah om untuk minta ongkos, tapi Heni langsung mengantar ke terminal bis. Di dalam mobil aku bertanya, apa yang terjadi tadi malam?
Heni menjawab pelan "kita sama2 mabuk .."
"Terus..", aku menanyakan kenapa kita bisa berada di satu tempat tidur dalam keadaan sama2 bugil.
"Kita bergairah dan terangsang..", jawabnya pelan
"Terus..", tanyaku
"Kita melakukan hubungan terlarang", jawabnya hampir tidak terdengar
Aku kaget. Jadi yang tadi malam itu bukan mimpi.

Sesampai di terminal bis Heni memberiku ongkos dan berkata, "tadi malam itu kecelakaan. Anggap tidak pernah terjadi..".

Aku diam."Terimakasih sudah diantar dan dikasih ongkos"
Bagiku kejadian tadi malam adalah pengalaman seks pertamaku yang indah, walaupun aku melakukannya setengah sadar.

.

Seks perpisahan (1)

Aku mengakhiri masa SMP. Tapi aku harus meninggalkan kota Tasik karena kakek sudah tinggal bersama om di Bandung. Orang tuaku kurang setuju aku ikut ke Bandung. Aku diminta untuk memilih melanjutkan SMA di Jogja, di Banjarmasin, di Makasar atau di Padang, yang semua adalah om dan tante, saudara kandung bapak. Aku memilih untuk melanjutkan SMA di Padang.

Beberapa hari lagi aku pergi ke Padang, hari ini aku akan berkeliling untuk pamitan kepada orang2 yang kukenal. Pertama tentu ke tetangga terdekat, keluarga Bi Neneng. Kuketuk pintu dan kuucapkan salam, tak ada yang menyahut. Kuperkeras suaraku, lalu terdengar suara Bi Neneng dari belakang rumah, mempersilahkan aku masuk.

“Ke belakang saja Jar, Bibi lagi nyuci”, teriaknya dari belakang

Dibelakang kulihat Bi Neneng sedang mencuci dengan posisi jongkok. Kainnya disingkap sehingga terlihat sedikit paha putihnya, sedangkan posisi menunduk memperlihatkan belahan dadanya. Aku jadi teringat kejadian setahun yang lalu saat mandi bareng dia dan belajar onani.
“Ada apa Jar”, tanyanya sambil terus mencuci pakaian.
“Aku mau pamit, beberapa hari lagi berangkat ke Padang”, kataku. “Oo..”, kata dia sambil beranjak. Dan kamipun berbasa basi dan saling mendoakan.

“Bagaimana, sekarang sudah bisa onani?”, tiba2 dia iseng bertanya
“Belum, kayaknya harus lihat Bi Neneng bugil dulu”, kataku bercanda
“Ah kamu ini ..”, dia menepuk pundakku. Sejenak dia melihat ke depan, menutup pintu depan, lalu kembali dan menarikku ke kamar mandi.
“Ya sudah sini. Kamu onani lagi deh. Kenang2an dari Bibi. Copot celanamu”, katanya. Aku kaget, tapi melihat dia mencopoti bajunya, akupun akhirnya mencopot celanaku. Lalu dia mencopoti bh dan cd, akupun ikut bugil.

“Wah.. kayaknya burungmu lebih gede dari tahun lalu ya..”, Bi Neneng jongkok dan mulai memegang penisku. Membelai2 dan mengambil sabun lalu mengocok2 penisku. Aku tak mau pasif, tanganku meraba2 susu nya.

Tahun lalu aku dibolehkan menyusu, jadi aku ikut jongkok lalu menciumi serta menghisap2 susunya. Bi Neneng membiarkan, dan tangannya tetap mengocok penisku. Aku mau lebih dari tahun lalu. Tanganku menggerayang ke vaginanya. Dia kaget dan menahan tanganku. Aku menatapnya, lalu kucium bibirnya, sambil kedua tanganku meremas2 kedua susunya. Lama2 dia menikmati.

Mumpung dia menikmati, pelan2 kupindahkan satu tanganku dari susunya ke bulu jembutnya sambil tetap mencium bibirnya dan meremas satu susunya. Aku kira dia akan menolak, ternyata dia malah membalas ciumanku sambil memejamkan mata. Apalagi saat jariku menyentuh itilnya, dia mendesah dan menggeliat.

Tanganku asyik memainkan susu dan itilnya. Tapi posisi jongkok ini kurang enak, maka sambil tetap mencium bibirnya kurebahkan bi Neneng dilantai. Dalam posisi ini aku lebih leluasa mencium susunya, meremas susu satunya lagi dan memainkan vaginanya. Perlahan kumasukkan jariku kelubang vaginanya, dan Bi Neneng mendesah.

Tak mau menunggu lama, kutindih tubuhnya dan kuarahkan penisku ke vaginanya. Bi Neneng tidak menolak. Akhirnya kumasukkan penisku kedalam vaginanya. Dia mengerang dan mendekap erat punggungku. Kugoyang terus sampai akhirnya Bi Neneng mengejang dan terkulai, tanda bahwa ia telah mencapai puncak. Aku tak peduli dan terus menghujamkan penisku ke dalam vaginanya.

Ini pengalaman pertamaku berhubungan seks secara penuh, tidak hanya gesek2 kelamin atau sekali coblos seperti pengalaman selama ini. Seks secara utuh ini membuatku melayang2, aku tak mau menyia2kan kesempatan ini, aku ingin mengeluarkan maniku di dalam vagina wanita.

Walaupun Bi Neneng sudah lemas dan pasrah, aku tetap menggenjot dan mempercepat genjotan pantatku. Sampai akhirnya aku memuncak, membenamkan penisku dalam2 ke vagina Bi Neneng, dan membiarkan maniku muncrat di dalam vaginanya. Lalu aku terkulai diatas tubuhnya dengan perasaan sangat puas.

Kami berpakaian kembali. Aku tersenyum senang. Bi Neneng juga tersenyum, tetapi terlihat ada penyesalan. Aku jadi merasa ikut bersalah. Ia menatapku seolah berkata tetaplah tersenyum.
“Terimakasih Bi, saya pamit”, kataku lirih
“Seharusnya kita tidak boleh melakukan ini”, ujarnya lirih
“Maafkan aku”, kataku
Dia menarik napas panjang, “Bagaimanapun, ini adalah kenang2an dari Bibi. Rahasia kita berdua, dan jangan kita ulangi lagi”.

.

seks perpisahan (2)

Selesai berpamitan dengan Bi Neneng (plus pengalaman seks utuh bersama) aku pulang dan menunda berkeliling pamitan dengan tetangga. Pagi itu aku banyak melamun mengenang nikmatnya seks utuh pertama.
Siang haru aku melanjutkan berkeliling ketetangga2 lain untuk berpamitan pindah ke Padang. Aku mulai dengan Kang Cecep. Disana aku bertemu Ceu Kokom yang kebetulan lagi mampir juga ke rumah Kang Cecep. Ceu Kokom sudah pindah rumah, tetapi beberapa hari ini menginap di rumah orangtuanya karena ibunya sedang ke rumah neneknya di Banjar.

Mengetahui aku pamit akan pindah, Ceu Kokom menawarkan untuk mampir kerumahnya dan makan siang disana. Karena memang lapar, aku setuju, sekalian aku pamitan pada keluarganya. Lalu Ceu Kokom dan aku bersama2 ke rumahnya.

“Baru jam dua belas. Adek dan bapak baru pulang jam setengah dua-an. Mau makan duluan atau mau nunggu?”, tanya Ceu Kokom. Karena ingin bertemuakhirnya kuputuskan untuk menunggu.

Tak lama, terdengar suara bayi. Rupanya bayinya Ceu Kokom. Karena ingin kenal, aku ikut melihat bayinya, seorang bayi laki2 yang montok dan lucu.
“Namanya Andi Ahmad, panggilannya Andi”, kata Ceu Kokom sambil meraih bayi, menggendong dan mengeluarkan susunya dari bh untuk menyusui si bayi. Tapi bayinya tidak mau menyusu. Rupanya ia ngompol dan tidak nyaman karena pempersnya penuh pipis.
“Sekalian mandi saja ya sayang..”, kata Ceu Kokom pada bayinya sambil mencopot baju bayi. “Jar, isi baknya dengan air, terus tuangin air panas di teko ke bak mandi bayi, Andi mau dimandiin”, katanya kepadaku.

Aku ikut memandikan bayi. “Tititnya kecil ya..”, kataku.
“Namanya juga bayi”, kata Ceu Kokom. “Eh, bagaimana titit kamu? Sudah nambah panjang lagi nggak?”, Ceu Kokom tiba2 teringat dengan proyek pembesaran penisku.
“Tentu dong. Kan berkat saran Ceu Kokom”, aku meyakinkan bahwa penisku lebih panjang lagi.

Selesai memandikan, ia menyusui dan menidurkan kembali bayinya. Lalu ia bergegas menuju kamar mandi. “Aku mandi dulu ya..”
“Boleh lihat lagi seperti dulu nggak?”, aku keceplosan ngomong. Ceu Kokom terhenti langkahnya.
“Sebagai kenang2an”, kataku asal saja. Ceu Kokom memandangku,”Ayo.. Tolong tutup pintu depan”, katanya mengizinkan.
“Kamu bugil juga”, Ceu Kokom menyuruhku bugil sambil dia mencopot seluruh pakaiannya. Ada perubahan sedikit saat melihat tubuh bugil Ceu Kokom, sekarang sedikit lebih gemuk dan susunya membesar.

“Beda ya? Karena aku sudah punya bayi”, katanya menjelaskan walau aku tak bertanya. “Kamu juga beda, badanmu lebih tinggi, lebih berisi dan burungmu kelihatan makin besar dan panjang”. Lalu dia mandi.

Melihatnya mandi, aku jadi ngaceng dan dia tersenyum melihatku ngaceng. Dia mengacungkan jempol memuji penisku yang besar dan panjang. Tak tahan, aku menghampiri dan memeluknya dari belakang. Dia menoleh dan membiarkanku memeluk sambil meneruskan mandi. Kugerayangi susunya lalu turun kebawah menggerayangi bulu jembutnya. Saat menggerayangi vagina, Ceu Kokom sedikit membuka selangkangannya sehingga mudah bagiku menemukan itil dan lubang vaginanya.

Dari belakang aku menempelkan dan menggesek2kan penisku ke tubuh, pantat dan vaginanya. Ceu Kokom menghentikan mandinya, memegang penisku yang ada dibelakangnya, lalu menungging dan menempelkan ujung penisku tepat dilubang kemaluannya. Belum sempat aku bereaksi, ia memundurkan pantatnya sehingga penisku terdesak masuk ke vaginanya.

“Aah.. tititmu memang gede..”, katanya, lalu menggoyang2kan pantatnya.

Aku sendiri merasa nikmat dan tak percaya. Ini adalah vagina kedua yang aku masukin pada hari ini, dan pengalaman seks yang utuh yang kedua yang terjadi hari ini. Aku tak mau menyia2kan. Kupegang pinggulnya, lalu kusodok vaginanya dengan penisku dari belakang. Aku tak peduli Ceu Kokom mengaduh2 dan tangannya mencoba menahan sodokanku.

Ceu Kokom mengerang panjang tanda sudah puncak. Dan aku melanjutkan menyodok dari belakang. Karena capek nungging Ceu Kokom berdiri menghadapku, mengangkat kakinya satu dan menuntun penisku masuk ke vaginanya. Penisku menyodok vaginanya dengan posisi kami sama2 berdiri, ini pengalaman baru bagiku. Ceu Kokom memelukku dan aku terus mempercepat sodokanku. Sesekali aku menyodok sambil mencium dan menghisap susunya. hingga akhirnya maniku muncrat di dalam vaginanya. Aku serasa melayang.

Sesaat kudiamkan penisku didalam vagina Ceu Kokom, setelah loyo kucabut dari vaginanya. Karena posisi berdiri, banyak maniku menempel di penis, dan terlihat sebagian maniku keluar dari vagina Ceu Kokom. Kami akhiri permainan dengan mandi bersama dan saling menyabuni.

Selesai mandi Ceu Kokom memintaku untuk membelikan rokok dan es batu di warung yang letaknya cukup jauh. Waktu aku kembali, bapak dan adek sudah pulang. Rupanya aku disuruh beli agak jauh supaya rambutku kering dan menghilangkan kecurigaan.

Aku makan untuk memulihkan energi. Dan siang itu aku selesaikan keliling2 ke rumah tetangga untuk berpamitan.

.

Seks Perpisahan (3)

Aku bangun kesiangan. Mungkin karena semalam aku tak bisa tidur karena masih terbawa emosi pengalaman bersetubuh dengan dua ibu muda. Siang itu aku menuju markas kami di kebon sebelah bale desa. Hanya ada satu dua orang. Memang biasanya agak sore baru markas itu rame.

“Jar, tadi Kang Ohim dan Euis cari kerumah mencari kamu.”, kata salah seorang, sambil memberi secarik kertas bertuliskan alamat rumah Kang Ohim. Sejak pindah dari rumah kakek, aku memang belum pernah ke rumah mereka. Istirahat sejenak membeli es cendol, aku segera ke rumah mereka.

Sesampai di depan rumah, aku berpapasan dengan Kang Ohim. “Aku ada rapat dengan lurah. Diomongin dengan Euis dulu ya” katanya. “Ya Kang”, kataku walau tak tahu maksudnya ngomongin apa.

Masuk ke dalam rumah, ‘plok’, Euis dan aku langsung melakukan ‘tos’ persahabatan. Lalu kami ngobrol kisah2 lucu dan badung geng kami di masa2 lalu. Tak lama kemudian, Kang Ohim pulang dan menyampaikan keperluannya menemuiku. Ternyata masalah penjualan rumah dan tanah kakek. Besok lusa mau ada calon pembeli sehingga pagi hari aku diharapkan ada dirumah. Lalu kami mengobrol mengenai alasan penjualan dan calon2 pembelinya. Setelah selesai menyampaikan, Kang Ohim bergegas kembali ke rumah Pak Lurah meneruskan rapat. Aku juga mau pamit pulang, tapi ditahan Kang Ohim.

“eeh, kamu kan mau pergi jauh, itu tadi sudah disiapkan gurame goreng dan sambel kecap. Euis, ajak dia makan dong, biar ada kenang2an”, kata Kang Ohim, lalu pergi.

“Masih sore, aku belum lapar”, kataku pada Euis.
“Kata Kang Ohim, makan dulu biar kamu ingat sama kami”, katanya membujuk.
“ Aku tak akan pernah lupa dengan Kang Ohim dan Euis. Kan sudah ada kenang2an”, kataku bercanda sambil menunjuk selangkanganku dan selangkangan Euis.
“Ha ha ha, dasar kamu,” Euis tertawa, lalu ‘tos’ lagi. “Sampai sekarang Kang Ohim menyangka dialah yang merawanin Euis”, katanya geli.

“Karena aku mau pergi jauh dan lama, boleh nggak aku kasih kenang2an”, aku menggoda Euis.
“Apa? Awas yaa..”, Euis mengepalkan tinju karena telah menduga apa tawaranku.
“Ha ha ha, ayolah.. ini beda sama punya Kang Ohim..”, aku terus menggoda.
“Hmm, Benar juga kamu,” Euis celingukan. “Di dapur saja, dekat kamar mandi. Nanti kalo Kang Ohim datang, kamu masuk kamar mandi, aku nyiapin gurame di dapur. Oke?”. Aku kaget dia setuju. Lalu ‘tos’ lagi, dan kami menuju dapur.

Sampai di dapur kami agak canggung dan sama2 saling menunggu dan tertawa2.
“Pemanasan dulu deh”, kata Euis lalu menciumku. Aku bereaksi membalas dan meraba2 dadanya.
“Nenen dulu ya”, usulku. Lalu Euis membuka kancing baju dan menyingkap bh nya sehingga susunya tersedia. Aku menyentil2 putingnya, lalu menghisap2 kedua susu Euis. Dia kegelian, geli2 nikmat. Sambil menyusu tanganku meraba selangkangan Euis, menyusupkan tangan ke celana dalam dan membelai2 vaginanya.

“Curang!, aku juga pegang kontolmu dong..”, Euis juga menyusupkan tangannya ke celanaku dan menggenggam penisku. “hi, punyamu gede ya..”
“Ayo cepat lakukan sekarang, keburu Kang Ohim pulang”, kata Euis sambil memelorotkan celanaku sedikit dan memelorotkan celana dalamnya sedikit.
“Copot saja celana dalamnya biar gampang”, kataku. “Nggak mau, nanti susah kalau Kang Ohim tiba2 datang”, katanya.

Dengan celana yang melorot sedikit, kami sulit untuk berhubungan seks dari depan. Akhirnya aku suruh Euis untuk nungging dan dari belakang penisku menyodok masuk ke vaginanya.

“Aww. Gila. Mentok. Enaakk..”, kata Euis saat penisku masuk semua. Kuayun pelan, semakin lama semakin cepat. Cukup lama aku menggenjot, sampai akhirnya Euis terlihat mencapai puncak, mengerang panjang dan mengepitkan pahanya. Aku terus menggenjot.

“Sudah Jar.. aku sudah..”, kata Euis
“Tapi aku belum”, kataku sambil terus menggenjot. Euis terlihat bingung dan pasrah. Sampai akhirnya aku mencapai puncak dan mengeluarkan mani di dalam vagina Euis. Kudiamkan sesaat penisku didalam vaginanya.

Setelah kucabut, Euis berbalik dan memelukku erat. “Aku belum pernah mencapai puncak saat bermain. Kang Ohim mainnya cepat keluar. Jadi setelah Kang Ohim loyo, aku suka masturbasi sendiri. Punya kamu gede dan tahan lama. Kalau begini mah aku mau jadi istrimu”. Lalu Euis menatapku dan tersenyum “Tapi kita kan teman”, katanya sambil tersenyum. ‘Tos’. Lalu kami sama2 ke kamar mandi membersihkan.

Seks menghabiskan energiku sehingga aku lapar dan minta makan gurame. Saat kami sedang makan bersama, Kang Ohim datang dan berkata riang, “Nah begitu dong. Jadi nanti kamu punya kenang2an disini”.
Euis dan aku saling bertatapan, tersenyum lalu tertawa. ‘Tos’..
“Aku juga tos dong”, kata Kang Ohim. Lalu kami ‘tos’ bertiga ‘plok, plok’

.

Seks Perpisahan (4)

Acara pamitan hari ini membuatku capek karena ditambah kejutan berhubungan seks dengan dua ibu2 muda. Aku rebahan dikamar sambil memandang setiap sudut kamar. Aku terhenyak ternyata masih ada dua buku sekolah yang belum aku kembalikan, sudah beberapa hari ingin kukembalikan tetapi selalu terlewatkan. Besok harus segera kukembalikan.

Besoknya, aku segera ke Pak Bandi pegawai perpustakaan untuk mengembalikan buku, tetapi rumah Pak Bandi tutupan, kata tetangga lagi pulang kampong ke mertuanya. Lalu aku ke pegawai perpustakaan lain, tapi juga sedang tidak di rumah. Capek berkeliling2 aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Saat kembali aku melewati rumah Bu Lia, terpikir untuk menitipkan buku ke Bu Lia.

Saat aku datang, Bu Lia sedang santai menonton tivi di ruang tamu. Ia kaget aku mampir, tapi senang. Kami ngobrol2 sejenak. Lalu Bu Lia minta tolong aku pindahkan box ke atas lemari, karena suaminya sedang dinas tiga hari ke Cirebon. Bu Lia membawa box dari bawah, aku berdiri diatas kursi mengangkat ke atas lemari. Setelah itu Bu Lia merebahan di kasur. Aku membawakan minum untuknya.

“Lagi kurang enak badan ya Bu?” tanyaku.
“Enggak kok. Cuma ibu positif hamil dua bulan,” katanya.
“Kok perutnya nggak besar?”, kulihat perutnya masih rata
“Kalau baru dua bulan memang belum kelihatan. Nanti kalau sudah empat bulan baru mulai kelihatan”, jawabnya.

Kupegang perutnya dan kuelus2. Dia tersenyum. Entah pikiran apa yang ada dalam benakku, aku tidur disamping Bu Lia sambil mengelus2 perutnya. Dia menatap tajam.

“Kalau hamil susunya makin besar ya Bu?”, aku bertanya sambil memindahkan tanganku dari perutnya ke dadanya. Bu Lia mengangguk dan tersenyum lagi. Tanganku menyingkap baju dan bh nya, sehingga muncullah susunya yang mulai membesar. Aku belai2 susunya dan putingnya, dia hanya memandangku. Kuhisap putingnya, tangan Bu Lia membelai kepalaku. Tanganku beralih kebalik celana dalamnya dan mengusap2 jembut, bibir vagina, lubang vagina dan itilnya. Bu Lia mulai mendesah.

Kulepas celana dalamnya, lalu kuciumi dan kumainkan vaginanya. Bu Lia menikmati, lalu dia bangkit untuk mencopot celanaku.

“Seperti dulu lagi ya Bu”, tanyaku. Bu Lia tersenyum.
“Bagusnya sih sekalian bugil”, aku mencopot bajuku. Bu Lia juga mencopot baju dan bh nya.
Dalam keadaan bugil, dikasur itu kami saling memainkan kelamin. Bu Lia memainkan penisku dan aku memainkan vaginanya. Orang bilang posisi 69. Cukup lama kami bermain dan aku sudah tak sabar ingin memasukkan penis ke vaginanya.

“ibu sekarang sudah hamil oleh Pak Endang kan?, jadi sekarang boleh dong”, aku minta izin mencoblos. Bu Lia tersenyum. Seolah mendapat izin, segera aku mengambil posisi menindih tubuhnya. Bu Lia menahan.
“ada bayi diperut. Tidak boleh ditindih”, katanya. Aku bingung harus bagaimana. Selama ini aku cuma bisa menindih saat beradegan seks.

Melihat aku bingung, akhirnya Bu Lia merebahkanku terlentang, lalu dia mengambil posisi duduk diselangkanganku. Di luruskan penisku ke vaginanya dan dia mulai menekan perlahan. Penisku mulai masuk sedikit demi sedikit ke vaginanya. Bu Lia meringis dan menghentikan tekanannya. Lalu dia coba menekan lagi, sehingga penisku masuk lebih dalam. Lalu bu Lia berhenti sejenak. Lalu menekan lagi. Lalu berhenti sejenak. Demikian terus sampai penisku tak bisa masuk lebih dalam karena mentok.

“ohh..” desah Bu Lia. “punyamu panjang, nggak muat di memek ibu”, desahnya.

Bu Lia mulai menggoyang2kan pantatnya, keatas kebawah, kedepan kebelakang, ke kiri ke kanan. Dia bergoyang sambil kumat kamit. Aku merasakan enaknya digoyang2. Goyangan Bu Lia semakin kencang dan semakin kencang. Sampai akhirnya ia mengerang panjang dan menjatuhkan tubuhnya diatas tubuhku. ‘aaahhh..’

“Bu hati2 bayi dalam perut kegencet”, aku mengingatkan. “hhhe” ia tersenyum dan tertawa tersengal. Bu Lia tetap rebah diatasku. Aku tak bisa bergerak.
“Bu, aku belum keluar”, kataku berbisik

Bu Lia tersenyum, “dari belakang saja” katanya sambil bergerak menungging di kasur
Aku segera kebelakangnya dan memasukkan penisku ke vaginanya. Lalu kuhunjamkan penisku membentur dinding dalam vagina Bu Lia. Dia mengaduh sakit tapi nikmat. Cukup lama aku menghunjam hingga akhirnya maniku muncrat didalam vaginanya. Aku terkulai lemas dan karena capek berkeliling kota, aku terlelap sejenak.

Lima belas menit kemudian aku terjaga, kulihat Bu Lia sedang menyiapkan minuman sirup untukku. Ia hanya menggunakan daster tipis dan dari bayangan tubuhnya terlihat ia tidak memakai bh dan celana dalam. Aku jadi terangsang.

Dalam keadaan masih bugil, aku menghampiri Bu Lia dan memeluknya dari belakang. Bu Lia tersenyum, "Mau lagi?". Aku mengangguk.

Bu Lia mencopot dasternya, membalikkan badannya dan menciumku. Aku meraba2 seluruh lekuk tubuhnya dan menggesek2kan penisku yang sudah ngaceng ke vaginanya. Bu Lia tersenyum, berjongkok mencium penisku dan membimbingku lagi ke kasur. Dikasur ia merebahkan diri sambil membuka selangkanganya. Aku merayap diatasnya dan mulai menusukkan kembali penisku ke vaginanya. Agak canggung karena tidak mau menindih perutnya yang hamil muda. Bu Lia lalu mengangkat kakinya dan meletakkan dipundakku. Posisi ini memudahkanku untuk menggenjot tanpa harus menindih perutnya.

Yang mengasyikan, dengan posisi ini vagina Bu Lia terasa lebih dangkal, sehingga penisku cepat mentok. Terasa nikmat bagiku dan bagi Bu Lia.
"Ahh uhh ahhh uhhh..", Bu Lia mengeluh setiap penisku menyentuh dinding dalam vaginanya.

Setelah sama2 mencapai puncak kami akhiri adegan seks kedua ini, lalu minum bersama dalam keadaan bugil. Rasanya aneh berjalan2 di dalam kamar dalam keadaan sama2 bugil. Sampai akhirnya aku berpamitan.

Bu Lia menyuruhku untuk mandi dan makan dulu. Saat mandi Bu Lia menemani dan menyabuniku. Aku kembali ngaceng dan mau tidak mau kembali menghunjamkan penisku di vagina Bu Lia.

Tidak ada angin tidak ada hujan, hari ini aku mendapat anugerah menyetubuhi guru favorit yang menggemaskan itu. Bahkan hari ini kami bersetubuh sampai tiga kali. Mungkin karena merasa akan berpisah jauh, kami benar2 memanfaatkan waktu tersisa.


.

Seks Perpisahan (5)

Aku keluar dari rumah Bu Lia masih lemas. Aku pulang ke rumah. Di tengah jalan ketemu Maman baru keluar dari pabrik sukro. Aku berpamitan karena akan pindah ke Padang. Maman mengucapkan semoga sukses dan memelukku. Aku melanjutkan pulang dan Maman masih ada urusan di pabriknya. Tiba2 Maman memanggilku, mengajak dan memaksaku mampir ke rumahnya. Karena masih dua jam lagi Maman pulang, dia suruh aku duluan dan menunggu di rumahnya. Aku tidak mau karena takut dipelototin Ening, istri Maman. Akhirnya aku habiskan waktu berjalan2 di kota dan kembali ke pabrik sukro untuk jalan bareng Maman ke rumahnya saat hari sudah mulai gelap.

Sampai di rumahnya, Ening masih judes memandangku dan hanya berbasa basi mengucapkan kata perpisahan. Maman mohon izin ke belakang ngomong berdua dengan Ening, dan aku sendirian di beranda. Cukup lama mereka ngobrol, sesekali kudengar Ening agak berteriak dan Maman menenangkan. Kelihatannya mereka sedang berdebat. Merasa tidak enak, aku bermaksud pamit pulang. Maman menyuruhku menunggu.

Lalu Maman keluar, “Sori nunggu lama ya”. “Nggak apa-apa”, kataku.
“Aku suruh tunggu karena kami ada perlu dengan kamu”, katanya. Kali ini kulihat mimik wajahnya agak serius. Tumben dia serius, biasanya ngebanyol.
“Kamu pernah nonton aku dan Ening ngewe kan?”, dia tersenyum mengingatkan kejadian di saung dulu. Ya ampun, ada apa lagi ini?. Aku tidak mau nonton lagi. Aku diam menunggu pernyataan selanjutnya.

Maman menarik napas panjang. “Kami tidak bisa punya anak. Kami sudah periksa ke dokter di Bandung. Hasilnya, aku mandul.”
Maman menarik napas panjang lagi. “Belum ada yang tahu kalau aku mandul kecuali Ening, aku dan dokter. Sekarang kamu juga tahu.”
Maman menarik napas dalam dan merangkul pundakku. “Aku sulit menerima kenyataan ini. Aku gengsi karena selama ini aku komandan untuk masalah cewek.” Dia tersenyum dan menepuk pundakku, lalu melanjutkan, “Aku pingin pernikahanku ini punya anak”. Aku terdiam dan masih mendengarkan kisahnya.
“Kamu satu2nya laki2 selain aku yang pernah lihat Ening bugil dan nonton kami ngewe,” katanya tersenyum. Aku kaget. Apa maksudnya?. Jangan-jangan…

“Aku mau kamu menghamili Ening”. Geledek!!. Aku benar2 kaget. Gila orang ini.
“Tapi Eningnya tidak mau kan?” aku mencoba menghindar.
Maman memanggil Ening, tetapi dia tidak keluar. “Kita masuk saja. Tadi sih Ening akhirnya mau”, kata Maman.

Setelah berada di dalam rumah, ternyata Ening ngumpet didalam kamar. Maman masuk ke kamar membujuk istrinya keluar. Tak lama kemudian lampu kamar dimatikan dan Maman keluar, “didalam saja katanya”. Maman mengajakku ke dalam kamar.

“Lampu kamar depan juga dimatikan. Masih agak terang.” kata Ening. Lalu Maman mematikan lampu di dalam rumah dan membiarkan lampu beranda nyala. Masih ada cahaya sedikit. Remang2 kulihat Ening duduk ditepi ranjang, lalu Maman menghampiri dan duduk di sebelah Ening. Maman menyuruhku duduk disebelahnya.
“Jar, bantu aku supaya Ening hamil”, katanya. Aku diam.
“Tapi Kang Maman tetap disini,” kata Ening sambil menggenggam erat tangan Maman. Maman mencium kening istrinya mengiyakan.
“Ayo Jar,” Maman mempersilahkanku. Aku bingung. Maman mendekatiku dan berbisik, “copotin bajunya”.

Aku menghampiri Ening, ia tak mau melihatku. Maman mengangguk menyuruhku untuk mulai mencopot baju Ening. Ening tidak menolak malah gerak tubuhnya membantu memudahkan pencopotan bajunya. Walaupun samar2 karena gelap, aku melihat susunya yang muncung menantang. Aku hanya memandangnya. Lalu satu persatu aku copot hingga Ening bugil.

Maman membantu merebahkan Ening di kasur sambil memberi kode agar aku juga mencopot seluruh pakaianku. Ening tetap memegang tangan Maman dan meminta ikut rebah disamping, lalu ia mencium suaminya. Maman membalas untuk menenangkan istrinya. Aku mulai merangkak diatas Ening, Maman menepi sedikit memberi tempat bagiku sambil tetap menciumi Ening.
Aku arahkan penisku ke vagina Ening, dan mulai kutekan. Masih seret, kelihatannya oli vagina Ening belum keluar banyak.
“Mmmpphh….Aaww.. mmpph..”, Ening menggigit bibirnya sendiri.

Terus kutekan hingga mentok. Ening memejamkan matanya. Mulai kuayun pantatku sehingga penisku masuk dan keluar vaginanya. Saat kurasa cairan vaginanya sudah banyak, kupercepat ayunan pantatku.

Ening tetap mencium suaminya, tangannya memegang pinggulku. Sedang aku tetap mengayun. Sampai akhirnya Ening mengejang dan melepaskan ciuman suaminya lalu terlentang pasrah, merasakan vaginanya terus disodok.

Maman menontonku yang masih terus mengayun, dia memperhatikan dengan seksama penisku menembus vagina istrinya. Aku agak kikuk sehingga kupercepat ayunanku dan akhirnya aku mengeluarkan mani didalam vagina Ening. Badanku lemas dan terbaring diatas tubuh Ening yang masih pasrah. Saat aku menyingkir dari tubuhnya, Ening segera menghampiri Maman dan memeluknya.

Aku ke kamar mandi membersihkan diri, lalu duduk diberanda termenung sendiri. Agak lama aku menunggu akhirnya Maman keluar.
“Sori agak lama, aku terangsang terus Ening minta aku ewe, jadi aku barusan ngewe Ening dulu”, katanya tertawa.
“Besok dan besoknya lagi, sampai sebelum kamu pergi, ulangi lagi ya, biar dipastikan Ening hamil. Kalau nggak hamil aku rugi, kamu yang untung, ha ha ha..”, Maman tertawa. Aneh memang, tapi bagaimanapun Maman adalah temanku.

“Supaya jadi, sebaiknya jangan ada Kang Maman”, aku coba memberi saran dan sok tahu.
“Oke. Besok kamu kesini sore sebelum aku pulang. Nanti aku kasih tahu Ening.”, katanya
“Kalau bisa Kang Maman nganterin aku dulu kesini. Biar Ening dan juga tetangga nggak merasa risih”, lagi2 aku sok tahu.

Maman setuju dan akhirnya aku pamit pulang. Aku tertidur lelap malam itu. Benar2 habis energi. Entah apa yang terjadi hari ini. Hari2 terakhir ini adalah pengalaman pertamaku berhubungan seks secara utuh, dan langsung dengan lima wanita.

.

Seks Perpisahan (6)

Pagi ini aku bangun dengan perasaan riang karena pengalaman2 seksku di hari2 kemarin, yang akan berlanjut dengan Ening sampai aku pindah. Dikejauhan tampak Kang Ohim datang membawa calon pembeli, Euis ikut mengantar. Setelah selesai melihat2 rumah kakek, Kang Ohim mengantar calon pembeli ke tanah kakek dibalik bukit. Karena jauh Euis tdk ikut dan akan menunggu disini minta dijemput lagi disini.

Saat ditinggal berdua, Ening langsung ‘tos’ dan memelukku, “Aku minta kenang2an lagi dong. Punyamu enak”, katanya. Aku tersenyum dan ‘tos’.

Euis mengajak masuk kamar, lalu kami sama2 bugil dikamar. Diranjang itu kami lebih bebas dan santai menikmati setiap bagian tubuh. Berulangkali Euis membelai penis dan memuji penisku. Saat bersetubuhpun Euis berkicau tentang penisku, “Uuh.. ahh.. gedee.. mentok.. enaakk.. ahh.. uhh”.

Saat Euis telah mencapai puncak, aku juga berhenti. Aku tidak ingin mengeluarkan maniku, karena maniku akan kuberikan kepada Ening supaya dia hamil.
Karena berkeringat, usai bersetubuh kami mandi. Karena takut terlihat habis mandi, Euis pulang duluan ke rumahnya, dan saat Kang Ohim datang menjemput aku bilang sudah dari tadi pulang.

Siang itu aku masih bingung atas pengalaman seksku yang luar biasa. Mengingat wanita2 yang aku gauli kemarin, aku teringat Bu Lia yang suaminya dinas tiga hari. berarti hari ini dan besok Bu Lia masih sendiri. Aku ke rumah Bu Lia, sekedar ingin tahu apakah Bu Lia mau lagi bersetubuh denganku atau cukup perpisahan kemarin saja.

Diluar dugaan, Bu Lia malah semakin bernafsu. Dia mengajari dan mempraktekkan posisi2 bersetubuh yang pernah ditonton di BF. Kami bercinta di atas kasur hingga ke atas kursi dan kamar mandi. beberapa kali Bu Lia mengejang. Sedang aku menjaga untuk tidak sampai mengeluarkan mani.

Selesai dengan Bu Lia, aku ke pabriknya Maman dan diantar Maman ke rumahnya. Lalu Maman kembali ke pabriknya meninggalkan kami berdua. Ening agak berat melepas Maman pergi.

Aku duduk berdua ditepi ranjang dengan Ening. Kubilang agar kita melakukan pemanasan supaya sama2 terangsang. Karena Ening menunggu, maka aku berinisiatif memainkan melakukan pemanasan. Saat kumainkan susunya dan itilnya ia memejamkan mata. Lalu saat kujilati itilnya, dia kaget. Aku berhenti. Setelah tenang, kujilati lagi vaginanya. Ening menikmati.

Lalu kubimbing tangannya memegang penisku. Dia mengangkat kepalanya untuk melihat penisku.
"punyamu gede..", kata Ening pelan.
"Supaya aku panas, tititku dielus2", aku minta Ening mengelus2. Dan Ening mengelus2. kelihatannya dia masih terkagum dengan ukuran penisku.
"Terus diemut, dihisap2", kataku. Ening diam.
"Kayak aku tadi, menghisap2 memek Ening", aku menjelaskan.

Agak ragu Ening menciumi penisku. Lalu memasukkan penisku kemulutnya dan dihisap2. Aku menggoyang2kan pantatku sehingga penisku masuk dan keluar mulutnya.
Ening menikmati dan selanjutnya mudah bagi kami untuk berhubungan seks. Aku coba beberapa posisi, aku diatas, Ening diatas, dari samping dan Ening nungging. Ening berkali2 mencapai puncak, sedangkan aku sekali.

Kami istirahat. sejam kemudian kuhampiri lagi Ening dan kuajak berhubungan lagi. Ening menyambut senang. Kali ini kami bermain di kamar mandi dengan berbagai posisi berdiri. Ening dan aku mencapai puncak. Dan kami beristirahat lagi.

Setelah Maman pulang, kami makan malam bersama. Lalu Maman minta aku menggauli istrinya lagi. Aku membimbing Ening ke kamar sedangkan Maman menunggu di ruang tamu. Selesai menggauli Maman masuk ke kamar dan kudengar suara suami istri yang sedang bergaul. Setelah itu Maman keluar, kami berbasa basi sebentar lalu aku pamit pulang.


Esoknya, aku sempatkan sekali lagi ke Bu Lia dan bersetubuh di pagi hari. Sedangkan sorenya kembali menyetubuhi Ening berkali2. Setelah itu malamnya Maman menggauli istrinya.

Dua hari berikutnya aku tidak ke Bu Lia karena suaminya sudah pulang. Aku nginap di rumah Maman dan bersetubuh dengan Ening, pagi, siang , sore, malam. Di malam hari saat Ening dan aku berhubungan, Maman tiduran di ruang tamu. Setelah aku selesai, Maman menyetubuhi Ening sebagai penutup. Dan besok pagi buta, saat penisku ngaceng setiap bangun tidur, aku menghampiri Ening. Maman yang tidur disebelahnya sempat terganggu, namun ia segera berpindah tidur. Dan aku menyetubuhi Ening.

"Aku capek dan pegel2 di ewe berkali2. Sama kamu terus gantian sama Maman. Tapi enak dan puas..", Ening kelihatannya sudah kecanduan seks

Bukan hanya Ening. Akupun sudah kecanduan seks. Beberapa hari menjelang keberangkatanku ke Padang benar2 takkan terlupa. Sebuah 'pesta seks' perpisahan bersama lima wanita yang mengasyikkan .


.