Minggu, 24 Mei 2009

Seks perpisahan (1)

Aku mengakhiri masa SMP. Tapi aku harus meninggalkan kota Tasik karena kakek sudah tinggal bersama om di Bandung. Orang tuaku kurang setuju aku ikut ke Bandung. Aku diminta untuk memilih melanjutkan SMA di Jogja, di Banjarmasin, di Makasar atau di Padang, yang semua adalah om dan tante, saudara kandung bapak. Aku memilih untuk melanjutkan SMA di Padang.

Beberapa hari lagi aku pergi ke Padang, hari ini aku akan berkeliling untuk pamitan kepada orang2 yang kukenal. Pertama tentu ke tetangga terdekat, keluarga Bi Neneng. Kuketuk pintu dan kuucapkan salam, tak ada yang menyahut. Kuperkeras suaraku, lalu terdengar suara Bi Neneng dari belakang rumah, mempersilahkan aku masuk.

“Ke belakang saja Jar, Bibi lagi nyuci”, teriaknya dari belakang

Dibelakang kulihat Bi Neneng sedang mencuci dengan posisi jongkok. Kainnya disingkap sehingga terlihat sedikit paha putihnya, sedangkan posisi menunduk memperlihatkan belahan dadanya. Aku jadi teringat kejadian setahun yang lalu saat mandi bareng dia dan belajar onani.
“Ada apa Jar”, tanyanya sambil terus mencuci pakaian.
“Aku mau pamit, beberapa hari lagi berangkat ke Padang”, kataku. “Oo..”, kata dia sambil beranjak. Dan kamipun berbasa basi dan saling mendoakan.

“Bagaimana, sekarang sudah bisa onani?”, tiba2 dia iseng bertanya
“Belum, kayaknya harus lihat Bi Neneng bugil dulu”, kataku bercanda
“Ah kamu ini ..”, dia menepuk pundakku. Sejenak dia melihat ke depan, menutup pintu depan, lalu kembali dan menarikku ke kamar mandi.
“Ya sudah sini. Kamu onani lagi deh. Kenang2an dari Bibi. Copot celanamu”, katanya. Aku kaget, tapi melihat dia mencopoti bajunya, akupun akhirnya mencopot celanaku. Lalu dia mencopoti bh dan cd, akupun ikut bugil.

“Wah.. kayaknya burungmu lebih gede dari tahun lalu ya..”, Bi Neneng jongkok dan mulai memegang penisku. Membelai2 dan mengambil sabun lalu mengocok2 penisku. Aku tak mau pasif, tanganku meraba2 susu nya.

Tahun lalu aku dibolehkan menyusu, jadi aku ikut jongkok lalu menciumi serta menghisap2 susunya. Bi Neneng membiarkan, dan tangannya tetap mengocok penisku. Aku mau lebih dari tahun lalu. Tanganku menggerayang ke vaginanya. Dia kaget dan menahan tanganku. Aku menatapnya, lalu kucium bibirnya, sambil kedua tanganku meremas2 kedua susunya. Lama2 dia menikmati.

Mumpung dia menikmati, pelan2 kupindahkan satu tanganku dari susunya ke bulu jembutnya sambil tetap mencium bibirnya dan meremas satu susunya. Aku kira dia akan menolak, ternyata dia malah membalas ciumanku sambil memejamkan mata. Apalagi saat jariku menyentuh itilnya, dia mendesah dan menggeliat.

Tanganku asyik memainkan susu dan itilnya. Tapi posisi jongkok ini kurang enak, maka sambil tetap mencium bibirnya kurebahkan bi Neneng dilantai. Dalam posisi ini aku lebih leluasa mencium susunya, meremas susu satunya lagi dan memainkan vaginanya. Perlahan kumasukkan jariku kelubang vaginanya, dan Bi Neneng mendesah.

Tak mau menunggu lama, kutindih tubuhnya dan kuarahkan penisku ke vaginanya. Bi Neneng tidak menolak. Akhirnya kumasukkan penisku kedalam vaginanya. Dia mengerang dan mendekap erat punggungku. Kugoyang terus sampai akhirnya Bi Neneng mengejang dan terkulai, tanda bahwa ia telah mencapai puncak. Aku tak peduli dan terus menghujamkan penisku ke dalam vaginanya.

Ini pengalaman pertamaku berhubungan seks secara penuh, tidak hanya gesek2 kelamin atau sekali coblos seperti pengalaman selama ini. Seks secara utuh ini membuatku melayang2, aku tak mau menyia2kan kesempatan ini, aku ingin mengeluarkan maniku di dalam vagina wanita.

Walaupun Bi Neneng sudah lemas dan pasrah, aku tetap menggenjot dan mempercepat genjotan pantatku. Sampai akhirnya aku memuncak, membenamkan penisku dalam2 ke vagina Bi Neneng, dan membiarkan maniku muncrat di dalam vaginanya. Lalu aku terkulai diatas tubuhnya dengan perasaan sangat puas.

Kami berpakaian kembali. Aku tersenyum senang. Bi Neneng juga tersenyum, tetapi terlihat ada penyesalan. Aku jadi merasa ikut bersalah. Ia menatapku seolah berkata tetaplah tersenyum.
“Terimakasih Bi, saya pamit”, kataku lirih
“Seharusnya kita tidak boleh melakukan ini”, ujarnya lirih
“Maafkan aku”, kataku
Dia menarik napas panjang, “Bagaimanapun, ini adalah kenang2an dari Bibi. Rahasia kita berdua, dan jangan kita ulangi lagi”.

.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar