Jumat, 24 April 2009

Foto Bugil

Guru Biologi memberi kami tugas untuk menangkap kodok, mencari kepompong, menangkap kupu2 atau memotret lima jenis kupu2. Setelah bagi tugas, aku kebagian memotret kupu2. Langsung saja kupinjam kamera om dan kebetulan om punya lensa yang bagus yang bisa memperbesar seperti teropong.

Aku baru bisa memotret dua jenis kupu2. Itupun belum tahu hasilnya karena filmnya belum di cuci cetak. Temanku memberi saran untuk ke bukit karena disana banyak jenis serangga dan mungkin ada kupu2 juga. Aku diantar ke bukit itu, tetapi temanku tak mau ikut2 naik bukit, capek katanya. Maka aku berkelana di bukit itu mencari kupu2, sementara temanku menunggu di warung.

Aku sudah dapat lagi dua kupu2 yang warnanya berbeda, tinggal satu lagi. Di kejauhan kulihat ada dua sejoli berjalan2 juga di bukit itu. Hmm romantic sekali. Aku foto mereka menggunakan lensa close up. Cowoknya ganteng dan ceweknya cantik. Dua2 anya bertubuh atletis.

Aku meneruskan mencari kupu2. Tak juga dapat kupu2 ke lima, aku melihat dua sejoli itu bermesraan, berciuman. Eh, tangannya meraba2 dada perempuan, sedang yang perempuan meraba2 celana laki2. Asyiik juga nih, nonton dulu. Kuarahkan kembali kamera untuk memotret mereka. Wah ternyata mereka mulai mencopot kaos sehingga bertelanjang dada. Makin seru nih..

Karena agak tertutup pohon, aku mencari tempat yang bisa lebih jelas melihat mereka.
Terjadilah adegan berikutnya. Mereka bugil, saling mencium dada dan alat kelamin, lalu berhubungan seks. Mereka menikmati berhubungan seks di udara terbuka di bukit. Sementara aku terus memotret adegan demi adegan. Lensa kamera om canggih juga, sehingga aku bisa mengcloseup susu si cewek serta dengan jelas close up penis si cowok yang sedang menancap di vagina cewek. Penisku ikut ngaceng melihat adegan itu.

Saat sedang asyik nonton dan memotret, lewatlah seekor kupu2. Aku jadi ingat tugasku. Kelihatannya berbeda dengan kupu2 sebelumnya, maka kuikuti kupu2 itu dan kucoba foto. Dia bergerak terus, dan baru saat hinggap di daun, dari jarak jauh aku langsung mengarahkan lensa kamera ke arahnya. Akhirnya aku dapat foto dari lima ekor kupu2.

Selesai memotret kupu2 aku ingat lagi pasangan yang sedang mesum, tapi aku tidak melihatnya lagi, kelihatannya mereka sudah selesai. Aku kembali ke temanku diwarung. Dari atas bukit aku sempat melihat sepasang kekasih itu naik kedalam mobil. Kupasang lagi kamera dan kufoto mobil itu, dan aku dapat nomor mobilnya.

Karena ada foto2 mesum diantara foto kupu2, malam hari aku ke rumah teman yang punya toko cuci cetak film. Temanku bilang bahwa tokonya sudah tutup, aku minta dispensasi karena harus dikumpulkan besok, dan agar tidak merepotkan, biar aku kerjakan sendiri. Temanku setuju dan dia hanya membantuku membuka toko dan menyalakan mesin cuci cetak. Aku pernah dikasih tahu cara cuci cetak, sangat praktis, tapi aku tanyakan untuk memastikan. Lalu aku mencuci cetak dan tak lupa ucapkan terimakasih sambil membayar ongkos.

Di kamar aku memperhatikan dengan kagum hasil foto2ku, baik foto kupu2 maupun foto2 mesum. Aku tak kenal yang laki2 dan yang perempuan yang berbuat mesum itu. Agar tak ketahuan, aku menyimpan foto2 mesum itu dalam koperku yang kukunci.

Karena foto kupu2ku yang dinilai bagus, aku sering diminta untuk menjadi juru foto sekolah. Tentu saja aku sanggupi asal dipinjami kamera om. Sebulan kemudian, saat porseni antar sekolah, aku juga kebagian tugas memotret aktivitas sekolahku di porseni. Saat meliput pertandingan basket putri, aku melihat salah satu pemain lawan mirip dengan perempuan yang di foto mesum.

Mumpung bawa kamera, segera aku foto dia. Tanya punya tanya ternyata namanya Eva salah satu tim basket putri dari SMA swasta terkenal di Padang,. Aku menyempatkan diri menyapa dan berkenalan dengannya dan sekali lagi mengambil foto bersama tim SMA nya dan SMA ku. Salah satu foto kumanfaatkan lensa untuk mengclosup wajah Eva.

Setelah aku cuci cetak, aku bandingkan foto Eva dan foto wanita yang ada di foto mesumku. Menurutku orangnya sama. Waktu membagi2kan foto kepada pemain, khusus untuk Eva kusisipkan juga foto muda-mudi, yang menurutku adalah Eva, sewaktu sedang jalan berdua di bukit.
Beberapa hari kemudian saat pulang sekolah, temanku mencariku dan memberitahu ada cewek cakep menungguku di dekat pintu pagar sekolah. Aku kesana dan ternyata Eva.

“Bisa ngobrol sebentar?”, tanyanya. Aku mengikutinya. Dia mengajakku minum di kantin dekat sekolah.
“Kamu dapat foto ini dari mana?”, tanyanya.
“Aku yang motret. Itu kamu ya?”, aku balik bertanya.
“Iya. Aku dan pacarku”, katanya. Ia meminum jusnya dan menatapku tajam, memperhatikan kedua mataku.
“Sekarang pacarnya dimana?”, aku belagak bloon.
“Masih kuliah di Surabaya. Foto itu waktu kampusnya lagi libur”, Eva menjawab.
“Kamu motret kejadian berikutnya?”, tanyanya menyelidik.
“Iya”, jawabku. “Mati dah aku”, Eva menepuk jidatnya sendiri.
“Terus kamu sebarin kemana2 ya?”, tanyanya agak geram.
“Nggak, nggak ada yang tahu”, jawabku
“Waktu cuci cetak kan pasti ada yang tahu”, katanya
“Aku cuci cetak sendiri di toko teman”, aku mencoba menenangkannya.
“Terus foto2 itu dimana sekarang?”, dia agak lega tapi masih khawatir
“Di koperku. Terkunci”, kataku
“Kalau gitu aku mau ambil,” katanya sambil berdiri.

Aku membawanya ke rumah om. Di rumah ada bibi yang hanya menyuci dan menyetrika. Aku persilahkan Eva untuk menunggu dan bibi menjamu minuman. Lalu kubawa koperku ke ruang tamu dan kubuka didepannya dan kutunjukkan foto2 mesum Eva dan pacarnya. Eva segera mengambil seluruh foto, memasukkan ke tasnya dan beranjak pergi.

Besoknya Eva menungguku lagi didepan gerbang. Teman2 bersiul menggoda kami yang berjalan menuju kantin.
“Minta klisenya biar tidak kamu cetak lagi”, katanya. Lalu kami kerumahku dan kuberikan klisenya, walaupun harus kugunting2 karena campur dengan foto kupu2.

Dua bulan berlalu. Dia muncul lagi di gerbang sekolah dan minta aku bantu dia untuk buat foto. Kami pulang meminjam kamera om dan setelah diizinkan aku kembali naik motor untuk mengikuti mobilnya. Tapi dia suruh aku jalan bersama naik mobilnya. Setelah membeli beberapa rol film kami melaju ke luar kota kearah Bukittinggi di tepi danau. Menuju sebuah rumah yang katanya milik orang tua Eva dan dia minta tolong aku memasukkan koper dimobilnya ke dalam rumah. Isinya penuh dengan baju

“Memangnya kamu mau nginap disini?”, tanyaku
“Aku mau difoto pake baju2 ini”, jawabnya.
Disana Eva minta di foto dengan pemandangan alam danau dan sekitarnya. Lalu kami beristirahat di rumah itu sebentar.

“Nah sekarang fotonya pake baju yang lain”, katanya, dan langsung ganti baju didepanku. Walaupun proses ganti bajunya cukup cepat, tapi aku sempat melihat tubuhnya atletisnya yang hanya tertutup bh dan celana dalam.

Lalu kami berfoto lagi, dan Eva ganti baju lagi dan berpoto lagi dan ganti baju lagi dan berfoto lagi. Setiap ganti baju aku melihat tubuh atletisnya. Aku menyempatkan memotretnya saat ganti baju. Bahkan diganti baju yang terakhir, Eva juga mengganti bh dan celana dalamnya karena keringat. Aku juga sempat memotretnya saat bugil ganti baju, walaupun dia membelakangiku.

Selesai memotret kami makan dulu di lapau, lalu kembali ke rumah di pinggir danau.
“Kamu tadi motret aku waktu ganti baju ya?” tanyanya dan aku iyakan.
Eva bercerita tentang foto mesum dirinya dan pacarnya yang dulu kupotret. Foto dan klisenya sudah dibakar
Tapi dia kepikiran untuk difoto bugil yang bagus, karena foto mesum yang jarak jauh itu agak goyang dan tidak fokus.

“Bagaimana menurut kamu?” ia memandangku.
“Memangnya di Padang ada tukang potret professional yang khusus foto bugil. Setahuku di Eropa baru ada”, kataku.
Eva memandangku.
“Itu juga untuk ditampilkan di majalah porno. Kalau di Indonesia mah belum ada. Paling2 foto pakai baju minim”, kataku lagi.
Eva memandangku tajam.

Karena ditatap dengan tajam, aku menjadi kikuk, “kenapa?” tanyaku.
“Kamu yang motret”, katanya. Apa? Eva minta aku motret dia bugil.
“Kamu bercanda”, kataku.
“Aku serius!”, katanya agak keras. “Di kamar sini saja. Kasurnya bagus, jendelanya menghadap danau”, katanya sambil mengajakku. Aku mengikutinya. Dia memandangku lagi, Aku tidak bergerak.

“Ayo ambil kameranya”, katanya, Aku segera mengambil kamera, dan saat kembali kekamarnya.. Eva sudah bugil. Aku berhenti dan terpana.
“Posenya bagaimana?”, dia duduk ditepi ranjang.
“Coba macam2 pose saja”, kataku asal2an karena tidak punya pengalaman foto nudis.

Akhirnya aku memotretnya dengan berbagai pose duduk dan berdiri di berbagai lokasi di dalam kamar dan rumah itu. Tubuhnya benar sintal, kenyal, padat dan perawakannya atletis. Kakiknya panjang, pundaknya agak lebar dan lehernya jenjang. Lalu Eva menuju ranjang dan tiduran dikasur. Aku memotretnya dan menyempatkan untuk close up susu dan vaginanya. Susunya kecil dan bibir vaginanya tidak tebal ditutupi bulu2 halus.

“Kayaknya susunya kurang menantang”, kataku.
“Terus gimana dong”, katanya. Aku menghampirinya dan memegang susunya. Eva menampik tanganku.
“Putingnya harus tegang menantang. Ini mah lembek”, kataku. Eva diam menatapku. Aku ulurkan lagi tanganku ke susunya dan didiamkannya. Akhirnya kumainkan dan kuplintir susu Eva sehingga ia sedikit terangsang dan puting susunya mulai tegak menantang. Lalu kupotret kembali.

Saat memotret vaginanya, kubilang juga bahwa vaginanya kurang menantang. Eva menolak. Walaupun kubujuk dia tetap menolak.
“Oke deh, kita akhiri sesi fotonya”, kataku. Lalu Eva berpakaian kembali.

Aku pergi ketepi danau bermain air. Tak lama Eva menyusul bermain air di danau. Aku menyiramnya dan dia balas menyiramku. Akhirnya kami sama2 basah kuyup. Saat kembali ke rumah, Eva berganti baju, sedangkan aku tidak membawa baju ganti.
Eva tertawa, “Jemur dulu pakaianmu. Lumayan diangin2 bisa kering”
“Tapi aku tidak bawa baju ganti. Pinjam dulu bajumu”, kataku
“Enak saja. Bugil dong.”, Eva tertawa senang.
“Ayo bugil. Gantian aku yang lihat kamu bugil”, Eva terus tertawa meledekku.

Akhirnya aku bugil dan menjemur pakaianku. Eva segera mengambil kamera dan memotretku sedang bugil. Tapi dia tampak kebingungan karena tidak tahu cara menggunakan kamera canggih itu. Gantian aku yang tertawa. Dan walaupun didesak, aku tidak mau memberi tahu.

“uuh.. terus bagaimana supaya aku dapat foto bugilmu”, Eva menggerutu.
“Asal dipotret bugil berdua dengan kamu, baru bisa”, kataku ngeledek. Eva memukulku, tetapi kemudian sambil menggerutu ia mencopoti seluruh pakaiannya.
“Aku sudah bugil juga nih, terus bagaimana?”, tanyanya seperti tak sabar.

Kuambil tripod mini, lalu kuatur kamera untuk memotret otomatis dan kuarahkan ke Eva. Lalu aku berdiri menghampiri Eva dan ckrek kami berfoto bugil berdua.
“Wah hebat. Bagaimana kalau kita bikin foto erotis”, dia bersemangat.

Akhirnya kami berfoto bugil berdua dengan berbagai pose. Kemudian aku menawarkan pose berhubungan seks dengan cara aku menempelkan selangkanganku ke selangkangannya tanpa memasukkan penisku ke vaginanya. Eva setuju, dan mulailah kami berfoto seolah sedang melakukan hubungan seks, tetapi penisku hanya menempel di vaginanya.

Saat sudah selesai aku melihat masih ada sisa tiga film. “Tanggung dihabiskan saja”, kata Eva. Tetapi kami bingung karena semua posisi sudah dipotret.

“Begini saja, kamu terlentang lagi dan lihat kamera, nanti aku duduk dekat pantatmu” kataku, lalu kuletakkan kamera disebelah kepalanya sehingga Eva seperti mendongak melihat kamera, tetapi dalam posisi terlentang. Aku kearah pinggulnya dan menempelkan penisku di vaginanya mencoba posisi yang pas untuk dipotret.
“Nah nanti begini posisinya, kepalamu jangan lihat aku, tapi mendangak lihat kamera, oke?”. Eva setuju, lalu aku mulai memasang timer kamera dan segera kembali ke posisi.

Timer kusetel 20 detik sehingga aku punya waktu untuk mengatur posisi. Kutempelkan lagi penis di vaginanya. Kulihat vaginanya sudah basah tanda Eva sudah lama terangsang. Lama aku bertahan dalam posisi itu. Ketika timer sudah hampir habis, iseng kudorong pantatku sehingga penisku masuk ke vaginanya.
“Haa?!”, Eva kaget dan ‘cpret..’, kamera secara otomatis memotret.
“Hey, kamu bandel ya!!”, kata Eva marah. Tapi dia tidak segera mengeluarkan penisku dari vaginanya.

Aku tersenyum nyengir, “Masih ada dua film lagi”, kataku
“Terus kita pose apa lagi?!” tanya Eva
“Kamu tidur miring, lalu aku dari belakang”, kataku
“Seperti yang tadi lagi dong?!” katanya.
“Iya, tapi ada bedanya”, aku tersenyum. Eva masih berlagak judes, tapi diam dan mengikuti arahan gayaku. Dia tidur miring, kuatur kamera untuk memotretnya, kali ini kusetel 1 menit, lalu aku memposisikan diri dibelakang Eva. Satu kaki Eva diangkat sedikit sehingga vaginanya kelihatan, lalu ujung penisku menempel di vaginanya.
Masih ada 50 detik lagi.“Siap?”, kataku. “Iya”, Eva menyahut. Setelah Eva menjawab, maka kudorong pantatku sehingga penisku masuk lagi ke vaginanya. “Ahh..”Eva kaget, tapi tidak bereaksi.
Melihat dia tidak bereaksi maka kuayun pantatku sehingga penisku keluar lalu masuk lagi ke vaginanya. “Ahh” Eva mendesah lagi. Akhirnya kuberanikan diri kuayun terus menerus sehingga penisku keluar masuk vaginanya berulangkali. “Ahh..ahh..ahh”, Eva juga berulangkali mendesah setiap penisku menusuk vaginanya.

"Ah..ah..kok.. la..ma...ya.. ka..me..ra..nya..Ah", Eva terus mendesah.
“Cepret” kamera otomatis memotret. “Su..dah tuh..”, kata Eva terengah. Aku tak peduli, dan terus mengayun pantatku. Eva diam saja. Akhirnya kubalikkan tubuhnya hingga terlentang kembali, aku merayap diatasnya. Kuluruskan penisku dan kudesakkan kelubang vaginanya. Eva mendekapku erat, sambil membalas menggoyang2kan pinggulnya dan mengerang2.

Akhirnya kami melakukan hubungan seks di rumah kecil pinggir danau itu. Kami mengulanginya dua kali lagi hingga malam tiba. Selesai tiga babak seks itu, kami berkemas pulang. Kebetulan bajuku sudah kering. Diperjalanan sekitar Bukittinggi, tak lupa kami mampir di rumah makan untuk memulihkan energi.

Eva mengambil semua rol film dan minta aku menghubungi teman di toko film. Untuk menjaga kerahasiaan, Eva minta proses cuci cetak dilakukan bersama. Kalau temanku tidak memberi izin maka tidak perlu cuci cetak dan klise langsung dibakar. Aku setuju saja.

Untungnya temanku mau mengerti dan memberi Eva dan aku kesempatan untuk mencetak sendiri di malam hari. Dia ambil semua foto bugil dirinya, sedangkan foto bugil kami berdua dan dua foto seks kami diberikannya padaku. Eva tidak mau menyimpan foto seks itu takut ketahuan. Sedangkan fotobugil dirinya akan disimpan secara rahasia, kalaupun ketahuan akan bilang bahwa dipotret sendiri pake timer.

Dia minta pendapatku dua foto bugil dirinya yang terbaik yang mana. Aku tunjuk foto bugilnya yang tidur agak terlentang dikasur dan foto bugil yang berdiri didekat jendela sehingga menimbulkan sedikit efek siluet. Lalu dia mencetak kedua foto itu sekali lagi, dan diberikan kepadaku.

“Aku akan bakar klisenya. Jaga baik2 semua foto yang aku kasih buat kamu. I thrust you”, katanya sambil mencium pipiku.
“Oke” kataku. Dan aku tertawa2 kecil.
“Ada yang lucu?”, tanya Eva

“Iya, aku masih merasa lucu melihat foto kamu yang menunjukkan ekspresi wajah campuran antara kaget, sakit dan nikmat, waktu aku pertama kali iseng mencobloskan kontolku ke memekmu”, aku tersenyum.
Eva meninju pundakku, “Awas ya!”, katanya sambil ikut tertawa.

.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar